DHARMASRAYA – Pemerintah pusat dan daerah mendorong percepatan transformasi ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) bagian timur melalui penguatan konektivitas dan hilirisasi industri sawit. Agenda itu mengemuka saat Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy bersama Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani bertemu Kementerian PPN/Bappenas RI di Jakarta, Selasa (19/05/2026).
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Rachmat Pambudy itu membahas dua usulan strategis, yakni penetapan Dharmasraya sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) serta pembangunan feeder tol yang menghubungkan wilayah tersebut dengan jaringan Jalan Tol Trans Sumatera.
Dorong Dharmasraya Jadi Pusat Logistik Baru Sumatera
Bupati Annisa Suci Ramadhani mendorong pengembangan Kawasan Industri Terintegrasi Sawit dan Agro Dharmasraya di Nagari Sungai Duo seluas 500 hektare. Ia menargetkan kawasan ini menjadi pusat hilirisasi minyak sawit mentah (CPO), industri oleokimia, hingga pakan ternak.
Annisa menegaskan bahwa Dharmasraya memiliki posisi geografis strategis sebagai simpul penghubung Sumatera Barat, Jambi, dan Riau. Ia menilai arus barang yang selama ini bergantung pada jalur darat perlu mendapat jalur alternatif yang lebih efisien.
“Dharmasraya menjadi simpul utama distribusi logistik di kawasan timur Sumatera Barat. Kita perlu memperkuat perannya agar tidak hanya menjadi jalur lintasan, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Annisa.
Feeder Tol 139 Km Jadi Kunci Efisiensi Logistik
Pemkab Dharmasraya juga mengajukan pembangunan feeder tol sepanjang sekitar 139 kilometer yang menghubungkan Koto Baru menuju akses Tol Rengat–Pekanbaru di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Pemerintah daerah menghitung jalur ini mampu memangkas biaya distribusi logistik hingga 25–30 persen. Efisiensi ini juga mempercepat pengiriman komoditas sawit menuju pusat industri di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Saat ini, sekitar 70 persen distribusi CPO dan TBS dari Sumatera Barat bagian timur masih mengandalkan jalur darat yang padat kendaraan logistik.
Dampak Ekonomi: Investasi dan Lapangan Kerja Baru
Rencana kawasan industri tersebut diproyeksikan menarik investasi hingga Rp3,2 triliun. Pemerintah daerah juga menargetkan penyerapan sekitar 2.500 tenaga kerja langsung di sektor industri pengolahan.
Selain itu, pembangunan feeder tol membuka akses ekonomi baru bagi wilayah hinterland. Akses yang lebih cepat mendorong tumbuhnya sentra usaha, memperluas pasar petani sawit, serta memperkuat distribusi barang kebutuhan pokok.
Wagub Sumbar Vasko Ruseimy menyatakan dukungan penuh terhadap usulan tersebut. Ia menilai proyek ini dapat mengubah wajah ekonomi Sumatera Barat bagian timur.
“Proyek ini akan memperkuat posisi Dharmasraya sebagai hub logistik dan pusat hilirisasi. Dampaknya tidak hanya untuk daerah, tetapi juga untuk pertumbuhan ekonomi regional,” ujarnya.
FAQ
1. Apa tujuan utama usulan PSN di Dharmasraya?
Usulan PSN bertujuan mempercepat pembangunan kawasan industri sawit terintegrasi dan meningkatkan daya saing ekonomi wilayah timur Sumatera Barat.
2. Apa manfaat feeder tol Dharmasraya?
Feeder tol mempercepat distribusi logistik, menurunkan biaya transportasi hingga 30 persen, dan membuka akses ekonomi baru.
3. Berapa panjang jalur feeder tol yang diusulkan?
Pemerintah daerah mengusulkan jalur sekitar 139 kilometer.
4. Sektor apa yang menjadi fokus kawasan industri?
Fokus utama berada pada hilirisasi kelapa sawit, oleokimia, dan pakan ternak.
5. Berapa potensi investasi dari proyek ini?
Nilai investasi yang diproyeksikan mencapai sekitar Rp3,2 triliun dengan ribuan lapangan kerja baru.
Penulis : Dina Herawati
Editor : Ichwan Diaspora









