JAKARTA – Bank Syariah Indonesia (BSI) terus memperkuat peran sebagai motor keuangan syariah nasional. BSI menargetkan pertumbuhan bisnis double digit pada 2026.
BSI mengandalkan dua lini utama. BSI mengembangkan layanan perbankan syariah dan bisnis bullion bank. Strategi ini membuka peluang peningkatan pembiayaan dan dana pihak ketiga.
Manajemen BSI menekan biaya dana. BSI juga meningkatkan fee based income. Selain itu, BSI memperluas basis nasabah. BSI menargetkan penambahan sekitar 2 juta nasabah baru pada 2026.
BSI mencatat kinerja solid dalam beberapa tahun terakhir. BSI mengumpulkan total aset sekitar Rp456 triliun. Angka ini tumbuh lebih dari 11 persen secara tahunan. BSI juga meningkatkan dana pihak ketiga dengan dominasi dana murah (CASA).
BSI mengembangkan ekosistem keuangan syariah. BSI menyasar sektor haji, UMKM, dan pembiayaan berkelanjutan. BSI meningkatkan penyaluran pembiayaan hijau dan UMKM untuk mendorong ekonomi inklusif.
Sejak Januari 2026, BSI menyandang status persero (BUMN). Status ini mempertegas peran BSI dalam industri perbankan syariah nasional.
BSI memperluas layanan digital. BSI mengembangkan super app dan jaringan distribusi. Jaringan ini mencakup ribuan cabang, ATM, dan agen. Langkah ini meningkatkan akses layanan keuangan syariah di seluruh Indonesia.
BSI optimistis menjaga pertumbuhan berkelanjutan. BSI menargetkan posisi sebagai bank syariah terbesar di Indonesia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









