JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup pada Rp 7.000, turun 1,41% pada perdagangan Jumat (6/3/2026). Investor asing mencatat net sell Rp 91,67 miliar, menambah tekanan jual sepanjang pekan.
Dalam lima hari terakhir, saham BCA melemah 2,44%, dengan net sell asing mencapai Rp 707,31 miliar. Analis memperkirakan koreksi bisa berlanjut.
Tekanan Jual dan Prediksi Harga
MNC Sekuritas mencatat saham BBCA terkoreksi 1,41% karena munculnya tekanan jual. Mereka memperkirakan harga saham bisa turun ke kisaran Rp 6.600–6.700, sehingga merekomendasikan buy on weakness di level tersebut. Target harga pertama mereka Rp 7.275, dan target kedua Rp 7.575. Stoploss mereka tetapkan di Rp 6.375.
Prospek Fundamental BBCA
Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai prospek BBCA tetap solid. Mereka memprediksi PPOP mencapai Rp 79,58 triliun, naik 5,73% dari 2025. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 60 triliun, naik 5,35%.
BRIDS memperkirakan NIM BCA berada di kisaran 5,4%–5,6%, dengan pertumbuhan kredit 8%–10% dan biaya kredit stabil di 0,4%–0,5%.
Strategi Efisiensi dan Pendapatan Komisi
BCA akan meningkatkan efisiensi operasional dan pendapatan berbasis komisi serta fee. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) kemungkinan membaik ke 31%–33% dalam beberapa tahun mendatang.
Victor dan Naura menegaskan, “Kami mempertahankan rekomendasi Beli untuk BBCA dengan target harga Rp 11.400, lebih tinggi dari sebelumnya Rp 10.800.” Saat ini, investor memperdagangkan BBCA pada valuasi 3,11x PBV, lebih rendah dibanding 10 tahun terakhir yang berkisar 3,6–4,2x PBV.
Kesimpulan
Meski saham BBCA terkoreksi jangka pendek, prospeknya tetap kuat. Investor dapat membeli saat saham menyentuh support, sambil mengikuti target harga dan stoploss yang direkomendasikan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









