JAKARTA – Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto, mengatakan saat ini tidak ada bank atau lembaga keuangan domestik yang berani membiayai pengadaan pesawat. Meskipun pihaknya telah mendorong pemerintah membentuk lembaga pembiayaan khusus, pemerintah belum menanggapi.
“Di dalam negeri belum ada bank atau kreditur yang bisa mendukung pembiayaan pesawat baru karena keterbatasan modal dan risiko bisnis,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Strategi Maskapai: Sales and Lease Back
Maskapai membeli pesawat langsung ke pabrikan melalui perjanjian sales and purchase agreement. Kemudian, sebelum pengiriman, maskapai mengalihkan kepemilikan pesawat ke lessor lewat perjanjian sales and lease back. Dalam skema ini, bank atau kreditur mendukung lessor sebagai back-up.
Harga dan Waktu Pemesanan Menjadi Tantangan
Maskapai menghadapi tantangan besar karena harga pesawat tinggi dan proses pemesanan memakan waktu bertahun-tahun. Terkait rencana pembelian 50 pesawat Boeing hasil perjanjian Indonesia–Amerika Serikat, meski pesawat baru tiba dalam 3–4 tahun, pesawat ini akan menambah kapasitas penerbangan domestik dan internasional. Namun, keberhasilan tergantung pada permintaan pasar.
Kapasitas Pesawat Layak Terbang Masih Terbatas
Data INACA per Desember 2025 menunjukkan dari 580 unit pesawat sebelum pandemi Covid-19, maskapai hanya memiliki 360 unit yang layak terbang. Dengan demikian, Bayu memperingatkan maskapai menghadapi risiko jika tambahan kapasitas tidak sesuai permintaan.
PR Besar Garuda Indonesia dan Danantara
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai Garuda Indonesia dan Danantara menghadapi tantangan besar dalam mencari dana pengadaan pesawat. Menurutnya, maskapai harus mencari pendanaan melalui utang, jaminan, atau leasing.
Perkiraan Harga Pesawat
Maskapai menghadapi harga yang beragam. Boeing 737Max diperkirakan US$100–130 juta per unit (Rp1,68–2,18 triliun), sementara pasar bekas berkisar US$50–60 juta. Untuk tipe widebody, Boeing 777X dibanderol US$400–500 juta, dan Boeing 787 sekitar US$250–350 juta.
Oleh karena itu, Gerry memperkirakan Garuda Indonesia akan mengombinasikan pengadaan antara 737Max dan satu tipe widebody. Jika Garuda membeli seluruh 737Max, maskapai membutuhkan dana sekitar US$5 miliar.








