Jakarta –
Pemerintah Indonesia memastikan rencana pengadaan pesawat jet tempur F-15EX dari Amerika Serikat belum memasuki tahap pengadaan. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyebut harga pesawat terlalu tinggi sehingga menghambat proses.
“Perlu kami luruskan, rencana pengadaan F-15EX belum masuk tahap penganggaran. Saat ini, pemerintah hanya meminta penawaran sebagai bagian dari perencanaan,” ujar Rico, Kamis (5/2/2026). “Namun, harga yang diajukan masih terlalu tinggi sehingga kami belum bisa menindaklanjutinya,” tambahnya.
Belum Ada Keputusan Alternatif
Rico menegaskan, Kementerian Pertahanan belum menetapkan opsi pengalihan anggaran untuk pesawat lain. “Terkait opsi pesawat lain, belum ada keputusan pengalihan. Dengan demikian, kami tetap menjalankan kajian menyeluruh sebelum mengambil keputusan strategis mengenai alutsista,” jelasnya.
Boeing Hentikan Promosi F-15 untuk Indonesia
Sementara itu, Boeing menyatakan mereka tidak lagi memproduksi F-15 untuk Indonesia. Pernyataan itu menunjukkan perusahaan menghentikan upaya menjual pesawat tersebut, padahal sebelumnya rencana itu menjadi bagian penting modernisasi alutsista TNI.
Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defense, Bernd Peters, menyampaikan hal itu di ajang Singapore Airshow, Selasa (3/2/2026).
“Dalam hal kemitraan F-15 dengan Indonesia, kami tidak lagi menjalankan kampanye aktif,” kata Peters.
“Tidak Lagi Aktif” Artinya Proyek Terhenti
Para analis industri pertahanan menjelaskan, istilah “tidak lagi menjadi kampanye aktif” berarti Boeing berhenti mengalokasikan sumber daya, tim, dan strategi untuk mendorong penjualan F-15 ke Indonesia. Dengan kata lain, meski Peters tidak menyebut pembatalan secara eksplisit, pernyataannya menunjukkan Boeing tidak memproses proyek ini lebih lanjut.
Pertanyaan Lanjut Diharapkan ke Pemerintah
Selain itu, Peters tidak menjelaskan alasan penghentian proyek. Ia menyarankan pihak yang ingin menanyakan lebih lanjut agar menghubungi pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia.