SUNGAI PENUH – Kunjungan Sekretaris Daerah Kota Sungai Penuh, Alpian ke Pasar Tanjung Bajure tidak hanya menyoroti kondisi fisik pasar, tetapi juga membuka gambaran lebih luas tentang bagaimana ruang ekonomi publik itu dikelola sehari-hari. Di balik aktivitas jual beli yang terlihat normal, pasar ini menyimpan persoalan tata kelola yang selama ini berjalan tanpa koreksi menyeluruh.
Pasar Tradisional di Persimpangan Masalah Lama
Di Pasar Tanjung Bajure, aktivitas ekonomi berlangsung padat setiap hari. Namun, kepadatan itu tidak selalu diiringi dengan keteraturan. Dari hasil peninjauan lapangan, terlihat bahwa pasar masih menghadapi masalah klasik yang terus berulang: penataan ruang yang tidak stabil, pengawasan yang longgar, dan kebiasaan operasional yang berjalan tanpa standar yang tegas.
Lorong pasar yang seharusnya menjadi jalur utama pembeli justru kerap menyempit karena pemanfaatan ruang yang tidak konsisten. Di beberapa titik, lapak pedagang berkembang mengikuti kondisi lapangan, bukan mengikuti desain atau aturan zonasi yang jelas. Akibatnya, alur pergerakan pengunjung menjadi tidak efisien dan sering menimbulkan penumpukan di jam-jam sibuk.
Temuan Lapangan: Masalah Tidak Hanya Soal Infrastruktur
Dalam kunjungan tersebut, Alpian tidak hanya melihat kondisi bangunan, tetapi juga memperhatikan pola aktivitas harian di dalam pasar. Ia menyoroti bahwa banyak persoalan muncul bukan karena kurangnya fasilitas, melainkan karena lemahnya kontrol terhadap penggunaan fasilitas tersebut.
Masalah kebersihan menjadi salah satu titik paling mencolok. Sampah yang menumpuk di waktu tertentu menunjukkan bahwa sistem pengangkutan dan pengelolaan limbah belum berjalan stabil. Di sisi lain, beberapa area pasar terlihat kehilangan disiplin dalam menjaga kebersihan dasar, terutama setelah jam puncak transaksi.
Selain itu, pengaturan parkir dan distribusi barang juga ikut memberi tekanan pada kenyamanan pasar. Kendaraan pengangkut barang dan kendaraan pengunjung sering bertemu dalam ruang yang sama tanpa pengaturan yang jelas, sehingga menciptakan kepadatan tambahan di sekitar area pasar.
Dari Pengamatan ke Tekanan Perbaikan Sistem
Alih-alih menempatkan masalah sebagai hal teknis semata, Alpian mendorong pendekatan yang lebih struktural. Ia menilai bahwa pasar tidak bisa terus dikelola dengan pola reaktif, di mana perbaikan hanya dilakukan setelah masalah muncul.
Ia menekankan perlunya sistem pengawasan harian yang lebih disiplin, termasuk kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas kebersihan, penataan lapak, dan pengaturan arus aktivitas. Tanpa pembagian peran yang tegas, pasar akan terus berputar dalam masalah yang sama.
Pendekatan ini juga mengarah pada kebutuhan evaluasi ulang terhadap pola kerja pengelola pasar. Bukan hanya soal perbaikan fisik, tetapi bagaimana aturan dijalankan secara konsisten di lapangan.
Dampak yang Sudah Terlihat di Lapangan
Ketidakteraturan pasar tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada ritme ekonomi pedagang. Pedagang di lokasi yang terhambat aksesnya cenderung mengalami penurunan jumlah pembeli. Sementara pedagang di area yang lebih terbuka mendapatkan keuntungan lebih besar, menciptakan ketimpangan kecil di dalam satu pasar yang sama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tata ruang yang tidak stabil secara langsung memengaruhi distribusi ekonomi di tingkat mikro. Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini dapat memicu konflik internal antar pedagang terkait lokasi dan akses pasar.
Arah Baru: Pasar sebagai Sistem, Bukan Sekadar Lokasi
Dari hasil peninjauan tersebut, muncul kesadaran bahwa pasar tradisional seperti Tanjung Bajure perlu dipandang sebagai sistem yang hidup, bukan sekadar lokasi transaksi. Artinya, pasar membutuhkan aturan operasional yang berjalan setiap hari, bukan hanya intervensi sesekali.
Pemerintah daerah mulai menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan, termasuk evaluasi rutin terhadap kondisi lapangan. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkecil celah ketidakteraturan yang selama ini dibiarkan berkembang secara perlahan.
Jika perubahan ini dijalankan secara konsisten, pasar tidak hanya akan lebih tertata, tetapi juga mampu memperkuat daya saing ekonomi lokal di tengah perubahan pola perdagangan masyarakat.
FAQ
1. Apa fokus utama peninjauan di Pasar Tanjung Bajure?
Fokusnya bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga tata kelola harian, kebersihan, dan keteraturan aktivitas perdagangan.
2. Masalah apa yang paling menonjol di pasar tersebut?
Beberapa masalah utama meliputi penataan lapak yang belum stabil, kebersihan yang belum konsisten, dan sirkulasi pengunjung yang kurang lancar.
3. Mengapa tata kelola pasar menjadi perhatian pemerintah daerah?
Karena tata kelola yang baik berpengaruh langsung pada kenyamanan pembeli, pendapatan pedagang, dan stabilitas ekonomi lokal.
4. Apa dampak dari kondisi pasar yang kurang tertata?
Dampaknya antara lain penurunan kenyamanan pengunjung, ketimpangan lokasi dagang, serta potensi penurunan omzet pedagang tertentu.
5. Apa langkah yang akan dilakukan ke depan?
Pemerintah daerah mendorong pengawasan rutin oleh Satgas Pasar dan perbaikan sistem pengelolaan agar lebih disiplin dan berkelanjutan.
6. Apakah hanya infrastruktur yang akan dibenahi?
Tidak. Pemerintah juga menekankan perubahan sistem kerja, termasuk pengawasan, kebersihan, dan pengaturan aktivitas pasar harian.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









