JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak di zona lemah pada awal Mei 2026. Pada perdagangan Selasa (5/5/2026), kurs 1 dolar AS berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400.
Data kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau JISDOR pada 4 Mei 2026 menunjukkan angka Rp17.368 per dolar AS. Di pasar spot, rupiah juga bergerak di sekitar Rp17.340–Rp17.390 per dolar AS sepanjang perdagangan.
Rupiah Belum Keluar dari Tekanan
Rupiah belum menunjukkan tanda penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan harian masih berada dalam tren melemah. Pada penutupan sebelumnya, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.394 per dolar AS.
Tekanan ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Mereka masih menahan posisi sambil mencermati perkembangan global dan kebijakan ekonomi domestik.
Analis pasar melihat ruang penguatan rupiah masih terbatas. Mereka memperkirakan kurs bergerak dalam rentang Rp17.250 hingga Rp17.400 dalam waktu dekat.
Dolar AS Masih Perkasa
Kekuatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Mata uang Negeri Paman Sam itu terus menguat seiring ekspektasi suku bunga tinggi dan kondisi ekonomi AS yang relatif solid.
Investor global juga cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar. Kondisi ini mengurangi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situasi tersebut membuat permintaan dolar meningkat, sementara rupiah mengalami tekanan dari sisi eksternal.
Sentimen Global Ikut Membebani
Selain faktor dolar AS, sentimen global ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Ketidakpastian ekonomi dunia masih tinggi. Pelaku pasar terus memantau perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral global.
Harga komoditas juga memainkan peran penting. Fluktuasi harga energi dan pangan memengaruhi neraca perdagangan Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada nilai tukar.
Di sisi lain, pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan. Data tersebut akan memberi arah baru bagi pergerakan rupiah.
Peran Bank Indonesia
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter melakukan intervensi di pasar valas dan pasar obligasi untuk meredam volatilitas.
BI juga menjaga likuiditas dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Langkah ini bertujuan menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Meski tekanan masih terjadi, kebijakan ini membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak bergerak terlalu dalam.
Kurs Bank dan Pasar Selaras
Kurs dolar AS di perbankan nasional menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda dari pasar. Nilai jual dolar berada di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.400, tergantung jenis transaksi dan bank.
Sementara itu, kurs real-time di pasar global juga berada di sekitar Rp17.390 per dolar AS. Perbedaan tipis ini menunjukkan pasar bergerak relatif stabil meski berada di level tinggi.
Prospek Rupiah ke Depan
Dalam jangka pendek, rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif. Tekanan eksternal masih mendominasi arah pergerakan. Namun, stabilitas ekonomi domestik dapat menjadi penopang penting.
Jika sentimen global membaik, rupiah memiliki peluang untuk menguat secara bertahap. Sebaliknya, jika tekanan meningkat, rupiah bisa kembali melemah.
Kesimpulan
Kurs 1 dolar AS terhadap rupiah pada 5 Mei 2026 berada di kisaran Rp17.300–Rp17.400. Level ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap rupiah.
Pelaku pasar kini menunggu katalis baru, baik dari dalam negeri maupun global, untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









