JAKARTA – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di Indonesia mencatat lonjakan signifikan sepanjang tahun terakhir. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan nilai transaksi PayLater tumbuh 86,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga mencapai Rp 56,3 triliun pada akhir Februari 2026.
Direktur Utama Pefindo Biro Kredit, Tan Glant Saputrahadi, menilai pertumbuhan ini melampaui kredit konsumtif konvensional. Ia menegaskan bahwa masyarakat semakin cepat beradaptasi dengan pola belanja berbasis cicilan digital.
“Pertumbuhan ini sangat tinggi dan melampaui kredit konsumtif tradisional,” kata Glant dalam media gathering di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
P2P Lending Jadi Motor Pertumbuhan Tertinggi
Dari seluruh kanal layanan PayLater, industri peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring mencatat pertumbuhan paling agresif. IdScore mencatat kenaikan 153,49 persen yoy dengan outstanding mencapai Rp 16,9 triliun.
Glant menilai pertumbuhan ini tergolong sangat cepat bahkan melampaui tren beberapa tahun sebelumnya. Ia menyebut laju tersebut menunjukkan peningkatan minat masyarakat terhadap pembiayaan digital jangka pendek.
Sementara itu, bank digital mencatat pertumbuhan 37,12 persen yoy dengan outstanding sebesar Rp 16,2 triliun. Bank umum membukukan pertumbuhan paling rendah, yakni 6,81 persen yoy dengan outstanding Rp 18,9 triliun.
Pengguna Didominasi Generasi Muda di Pulau Jawa
IdScore mencatat pengguna PayLater masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat yang menjadi wilayah dengan pengguna terbanyak. Dari sisi demografi, generasi milenial mendominasi dengan porsi 44,89 persen, disusul generasi Z sebesar 43,81 persen.
Data ini menunjukkan hampir 90 persen pengguna PayLater berasal dari kelompok usia muda. Pola ini memperlihatkan pergeseran gaya konsumsi yang semakin bergantung pada layanan kredit instan berbasis aplikasi.
Risiko Kredit Macet Masih Mengkhawatirkan
Di balik pertumbuhan pesat tersebut, risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL) masih menjadi sorotan utama. IdScore mencatat NPL PayLater masih berada di atas 5 persen, angka yang tergolong tinggi untuk sektor pembiayaan ritel.
Beberapa wilayah bahkan menunjukkan tingkat risiko lebih besar. Aceh mencatat NPL tertinggi sebesar 14,53 persen. Setelah itu, Maluku Utara mencapai 7,34 persen, Papua Barat 7,21 persen, Maluku 6,40 persen, dan Sulawesi Utara 6,21 persen.
“Risiko tertinggi ada di Aceh, NPL mencapai 14,5 persen,” ujar Glant.
Industri Harus Perkuat Manajemen Risiko
Pertumbuhan agresif PayLater menunjukkan peluang besar dalam ekosistem keuangan digital Indonesia. Namun, tingginya NPL menandakan perlunya penguatan manajemen risiko dari penyedia layanan.
Pelaku industri perlu memperketat analisis kelayakan kredit, memperbaiki sistem penilaian pengguna, serta meningkatkan edukasi finansial kepada masyarakat. Tanpa langkah tersebut, pertumbuhan cepat justru dapat memicu peningkatan gagal bayar di masa depan.
Dengan tren saat ini, PayLater berpotensi terus tumbuh, tetapi keseimbangan antara ekspansi dan pengendalian risiko menjadi kunci keberlanjutan industri ini di Indonesia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









