JAKARTA – Sejumlah konglomerat Indonesia mulai agresif memperluas portofolio di sektor tambang emas dan tembaga. Mereka membidik perusahaan tambang berbasis Australia melalui berbagai skema investasi, seiring lonjakan harga komoditas yang terjadi sepanjang 2025.
Nama-nama besar seperti Prajogo Pangestu, Anthoni Salim, Nirwan Bakrie, Hilmi Panigoro, hingga Agoes Projosasmito ikut masuk dalam gelombang ekspansi ini. Mereka memanfaatkan momentum pasar untuk memperkuat posisi di industri sumber daya alam global.
Lonjakan harga dorong ekspansi agresif
Lonjakan harga emas dan tembaga sepanjang 2025 mendorong minat investor besar untuk masuk ke sektor tambang. Meski begitu, harga kedua komoditas itu mulai melandai pada awal 2026. Kondisi ini tidak langsung meredam langkah ekspansi, justru membuat konglomerat bergerak lebih cepat mengamankan aset strategis.
Para pelaku pasar menilai emas dan tembaga tetap menjadi komoditas penting di tengah ketidakpastian ekonomi global, transisi energi, dan permintaan industri yang masih kuat.
Prajogo Pangestu aktif lewat PT Petrosea
Prajogo Pangestu menjadi salah satu pemain yang paling aktif dalam ekspansi ini. Ia bergerak melalui kendaraan investasinya, PT Petrosea Tbk (PTRO), yang berada di bawah Grup Barito dan bergerak di bidang kontraktor tambang serta migas.
PT Petrosea menyelesaikan transaksi penawaran convertible note yang diterbitkan Tolu Minerals Limited. Nilai transaksi mencapai A$23,75 juta atau sekitar Rp249,4 miliar.
Langkah ini memperkuat posisi Prajogo di sektor tambang emas internasional sekaligus memperluas eksposur bisnis Grup Barito di luar Indonesia.
Konglomerat lain ikut membidik tambang luar negeri
Selain Prajogo, sejumlah grup besar lain juga ikut bergerak. Grup Salim, Bakrie, hingga kelompok usaha Hilmi Panigoro dan Agoes Projosasmito ikut melirik peluang serupa di perusahaan tambang berbasis Australia.
Para konglomerat ini tidak hanya mengejar kepemilikan saham, tetapi juga mengamankan akses jangka panjang ke produksi emas dan tembaga yang dinilai semakin strategis untuk industri global, termasuk teknologi dan energi bersih.
Strategi diversifikasi aset tambang
Pelaku pasar menilai tren ini menunjukkan strategi diversifikasi agresif dari para konglomerat Indonesia. Mereka tidak hanya mengandalkan bisnis domestik, tetapi juga memperluas portofolio ke luar negeri untuk memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang.
Sektor tambang emas dan tembaga menjadi target utama karena memiliki permintaan stabil dan potensi kenaikan nilai saat terjadi ketidakpastian ekonomi global.
Dampak ke pasar modal
Aksi ekspansi ini ikut menarik perhatian pelaku pasar modal. Investor menilai langkah konglomerat dapat meningkatkan eksposur emiten Indonesia terhadap aset global dan memperkuat sentimen di sektor energi serta pertambangan.
Namun, analis juga mengingatkan bahwa volatilitas harga komoditas tetap menjadi risiko utama yang perlu diantisipasi oleh para investor.
Dengan gelombang ekspansi ini, sektor tambang kembali menjadi salah satu arena utama persaingan konglomerat Indonesia di panggung global.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









