JAKARTA – PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) merayakan lebih dari satu tahun pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan keputusan membagikan dividen tunai Rp60,23 miliar atau Rp14,75 per saham. Perusahaan menetapkan rasio pembayaran dividen sekitar 30 persen dari laba bersih tahun buku 2025.
Langkah ini muncul di tengah fase transisi bisnis setelah perusahaan menjalankan ekspansi agresif pasca-IPO. MINE terus memperbesar kapasitas operasional melalui investasi alat berat dan penguatan aset produksi.
Dana IPO dan Ekspansi Besar-besaran
MINE mengalokasikan seluruh dana hasil IPO senilai Rp129,61 miliar untuk mendukung ekspansi. Perusahaan mengarahkan dana itu ke pembelian alat berat, pengadaan tanah dan bangunan, serta modal kerja.
Selain itu, MINE menambah belanja alat berat sekitar Rp267 miliar sepanjang 2025. Langkah ini memperkuat kapasitas operasional untuk mengejar kontrak baru dan memperluas skala bisnis.
Kinerja Kuartalan Mulai Terkoreksi
Dari sisi kinerja, MINE mencatat penurunan pendapatan pada kuartal IV 2025. Perusahaan membukukan pendapatan Rp579 miliar, lebih rendah dibanding kuartal III yang mencapai Rp634 miliar.
Laba bersih kuartalan mencapai Rp56 miliar dan masih stabil dibanding kuartal sebelumnya. Namun angka itu turun tajam dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai Rp106 miliar.
Secara tahunan, MINE mencatat penurunan laba bersih sekitar 46,85 persen. Margin laba bersih berada di kisaran 9,76 persen, sementara return on equity turun ke sekitar 6,04 persen setelah sebelumnya berada di level dua digit.
Struktur Keuangan Masih Terkendali
Meskipun laba menurun, MINE masih menjaga struktur keuangan relatif sehat. Rasio utang terhadap ekuitas berada di level 0,20, yang menunjukkan perusahaan tidak agresif menggunakan leverage.
Interest coverage ratio berada di kisaran 3,5 hingga 4,6 kali. Angka ini menunjukkan perusahaan masih mampu menutup beban bunga, meski daya tahannya menurun dibanding periode sebelumnya.
Saham Terkoreksi dari Puncak
Di pasar modal, saham MINE bergerak dalam tren koreksi setelah sempat mencapai puncak di kisaran 550 pada September–Oktober 2025. Setelah itu, harga saham turun bertahap hingga berada di rentang 300–350 pada awal 2026.
Pada April 2026, saham MINE berada di level sekitar 364. Saham mencatat kenaikan bulanan sekitar 8,98 persen, tetapi masih jauh dari level tertingginya.
Secara year-to-date, saham MINE melemah sekitar 21 persen. Dalam enam bulan terakhir, penurunan bahkan menembus lebih dari 30 persen.
Arus Dana Asing Masih Fluktuatif
Pergerakan investor asing juga menunjukkan volatilitas tinggi. Pada Agustus 2025, asing mencatat net buy Rp8,02 miliar. Namun tren itu berbalik menjadi net sell pada bulan-bulan berikutnya, terutama pada Oktober dan November 2025.
Memasuki 2026, aliran dana kembali berubah arah. Pada April 2026, asing mencatat net sell sekitar Rp109,61 juta.
Transaksi Broker dan Distribusi Saham
Di level transaksi, aktivitas broker menunjukkan distribusi yang tersebar. Ajaib Sekuritas Asia mencatat pembelian terbesar sekitar Rp195,1 juta.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas mencatat tekanan jual terbesar dengan nilai sekitar Rp298,7 juta. Kondisi ini memperlihatkan belum adanya akumulasi kuat dari satu pihak tertentu.
Dividen Jadi Penanda Fase Baru
Pembagian dividen menandai langkah MINE memasuki fase stabilisasi setelah ekspansi agresif pasca-IPO. Namun pasar masih menilai perusahaan berada dalam proses penyesuaian.
Kinerja yang melandai, pergerakan saham yang tertekan, dan arus dana yang belum stabil menunjukkan MINE masih mencari keseimbangan baru antara pertumbuhan dan profitabilitas.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









