MINE Tebar Dividen Rp60,23 Miliar di Tengah Laba Turun dan Saham Tertekan Usai IPO

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) merayakan lebih dari satu tahun pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan keputusan membagikan dividen tunai Rp60,23 miliar atau Rp14,75 per saham. Perusahaan menetapkan rasio pembayaran dividen sekitar 30 persen dari laba bersih tahun buku 2025.

Langkah ini muncul di tengah fase transisi bisnis setelah perusahaan menjalankan ekspansi agresif pasca-IPO. MINE terus memperbesar kapasitas operasional melalui investasi alat berat dan penguatan aset produksi.

Dana IPO dan Ekspansi Besar-besaran

MINE mengalokasikan seluruh dana hasil IPO senilai Rp129,61 miliar untuk mendukung ekspansi. Perusahaan mengarahkan dana itu ke pembelian alat berat, pengadaan tanah dan bangunan, serta modal kerja.

Selain itu, MINE menambah belanja alat berat sekitar Rp267 miliar sepanjang 2025. Langkah ini memperkuat kapasitas operasional untuk mengejar kontrak baru dan memperluas skala bisnis.

Kinerja Kuartalan Mulai Terkoreksi

Dari sisi kinerja, MINE mencatat penurunan pendapatan pada kuartal IV 2025. Perusahaan membukukan pendapatan Rp579 miliar, lebih rendah dibanding kuartal III yang mencapai Rp634 miliar.

Laba bersih kuartalan mencapai Rp56 miliar dan masih stabil dibanding kuartal sebelumnya. Namun angka itu turun tajam dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai Rp106 miliar.

Baca Juga :  BBRI Hari Ini Turun ke Rp3.500, Investor Pantau Dividen dan Kinerja

Secara tahunan, MINE mencatat penurunan laba bersih sekitar 46,85 persen. Margin laba bersih berada di kisaran 9,76 persen, sementara return on equity turun ke sekitar 6,04 persen setelah sebelumnya berada di level dua digit.

Struktur Keuangan Masih Terkendali

Meskipun laba menurun, MINE masih menjaga struktur keuangan relatif sehat. Rasio utang terhadap ekuitas berada di level 0,20, yang menunjukkan perusahaan tidak agresif menggunakan leverage.

Interest coverage ratio berada di kisaran 3,5 hingga 4,6 kali. Angka ini menunjukkan perusahaan masih mampu menutup beban bunga, meski daya tahannya menurun dibanding periode sebelumnya.

Saham Terkoreksi dari Puncak

Di pasar modal, saham MINE bergerak dalam tren koreksi setelah sempat mencapai puncak di kisaran 550 pada September–Oktober 2025. Setelah itu, harga saham turun bertahap hingga berada di rentang 300–350 pada awal 2026.

Pada April 2026, saham MINE berada di level sekitar 364. Saham mencatat kenaikan bulanan sekitar 8,98 persen, tetapi masih jauh dari level tertingginya.

Secara year-to-date, saham MINE melemah sekitar 21 persen. Dalam enam bulan terakhir, penurunan bahkan menembus lebih dari 30 persen.

Baca Juga :  Rupiah Rebound! Dolar AS Tergelincir ke Rp17.125 di Awal Perdagangan

Arus Dana Asing Masih Fluktuatif

Pergerakan investor asing juga menunjukkan volatilitas tinggi. Pada Agustus 2025, asing mencatat net buy Rp8,02 miliar. Namun tren itu berbalik menjadi net sell pada bulan-bulan berikutnya, terutama pada Oktober dan November 2025.

Memasuki 2026, aliran dana kembali berubah arah. Pada April 2026, asing mencatat net sell sekitar Rp109,61 juta.

Transaksi Broker dan Distribusi Saham

Di level transaksi, aktivitas broker menunjukkan distribusi yang tersebar. Ajaib Sekuritas Asia mencatat pembelian terbesar sekitar Rp195,1 juta.

Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas mencatat tekanan jual terbesar dengan nilai sekitar Rp298,7 juta. Kondisi ini memperlihatkan belum adanya akumulasi kuat dari satu pihak tertentu.

Dividen Jadi Penanda Fase Baru

Pembagian dividen menandai langkah MINE memasuki fase stabilisasi setelah ekspansi agresif pasca-IPO. Namun pasar masih menilai perusahaan berada dalam proses penyesuaian.

Kinerja yang melandai, pergerakan saham yang tertekan, dan arus dana yang belum stabil menunjukkan MINE masih mencari keseimbangan baru antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

BI Tahan BI Rate 4,75% April 2026, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Inflasi
BEI Ungkap Aturan Baru HSC Saham, Dorong Transparansi dan Struktur Kepemilikan Lebih Sehat
UNTR Tebar Dividen Rp1.096 per Saham, Catat Jadwal Cum Date hingga Pembayaran
IHSG Menguat Tipis Hari Ini, Investor Fokus Sentimen Global dan Arah Suku Bunga
BI Rate Diprediksi Bertahan, Ini Daftar Saham Bank yang Layak Diborong
KFC Indonesia Rugi Rp369 Miliar, Utang Melejit dan 25 Gerai Tutup
AALI Bagi Dividen Rp 458 per Saham, Yield Menarik di Tengah Kenaikan Harga
Laba BNBR Melejit 50 Persen, Ternyata Bukan dari Operasional
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 05:00 WIB

MINE Tebar Dividen Rp60,23 Miliar di Tengah Laba Turun dan Saham Tertekan Usai IPO

Jumat, 24 April 2026 - 19:00 WIB

BI Tahan BI Rate 4,75% April 2026, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Inflasi

Jumat, 24 April 2026 - 14:00 WIB

BEI Ungkap Aturan Baru HSC Saham, Dorong Transparansi dan Struktur Kepemilikan Lebih Sehat

Jumat, 24 April 2026 - 09:00 WIB

UNTR Tebar Dividen Rp1.096 per Saham, Catat Jadwal Cum Date hingga Pembayaran

Rabu, 22 April 2026 - 11:41 WIB

IHSG Menguat Tipis Hari Ini, Investor Fokus Sentimen Global dan Arah Suku Bunga

Berita Terbaru