Jakarta –
Jamaah di seluruh dunia memperhatikan pelaksanaan salat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada Ramadan 1447 H/2026 M. Otoritas Dua Masjid Suci menyatakan jamaah akan menjalankan 10 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat witir. Dengan demikian, total rakaat mencapai 13.
Rinciannya, jamaah kemungkinan melaksanakan 2 rakaat iftitah, 8 rakaat qiyam Ramadan, dan 3 rakaat witir. Bagi sebagian umat, format ini terdengar baru. Namun sebenarnya, praktik ini paling dekat dengan pola salat malam Rasulullah saw.
Dasar Sunnah Nabi
Hadis sahih dari ‘Aisyah ra menegaskan bahwa Nabi saw tidak menambah salat malamnya lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Oleh karena itu, jamaah mengikuti jumlah rakaat yang sesuai praktik Nabi saw.
Sejarah Tarawih: Dari Nabi Hingga Khulafa Rasyidin
Pada masa Nabi saw, beliau tidak selalu memimpin Tarawih berjamaah setiap malam. Beberapa kali beliau mengimami sahabat di masjid, lalu berhenti karena khawatir umat menganggap ibadah itu wajib. Meskipun demikian, beliau tetap konsisten dengan jumlah rakaat salat malam.
Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab ra menertibkan Tarawih berjamaah di Masjid Nabawi sekitar tahun 14 H/635 M, tetapi tetap mempertahankan jumlah rakaat. Selain itu, ‘Utsman dan ‘Ali ra tidak mengubah jumlah rakaat. Dengan demikian, jamaah menjalankan Tarawih tetap 11 rakaat selama era Khulafa Rasyidin.
Perubahan Jumlah Rakaat di Masa Berikutnya
Pada masa Mu‘awiyah, penguasa menambah jumlah rakaat Tarawih. Dalam perjalanan sejarah, beberapa penguasa menetapkan hingga 36 rakaat sebelum witir. Kemudian, jumlah rakaat distandarkan menjadi 20. Sejak 1926, Saudi menetapkan format tertentu di Masjidil Haram dan Nabawi hingga saat ini.
Praktik Muhammadiyah dan Kembali ke Sunnah
Muhammadiyah selalu menekankan jamaah menjalankan Tarawih 11 rakaat. Langkah ini sesuai hadis sahih ‘Aisyah dan prinsip kembali kepada Sunnah Nabi saw. Muhammadiyah tidak menolak praktik lain, tetapi menjaga kedekatan dengan contoh Nabi.
Dengan demikian, ketika Masjidil Haram dan Masjid Nabawi melaksanakan Tarawih 13 rakaat pada Ramadan 2026, umat Muhammadiyah melihat keselarasan. Selain itu, jamaah mengikuti esensi yang sama dengan praktik Sunnah.
Kesimpulan: Tarawih Tetap Dekat dengan Tradisi Nabi
Jamaah menjalankan Tarawih 13 rakaat di Masjidil Haram dan Nabawi sehingga salat malam tetap dekat dengan praktik Nabi saw. Bagi umat Islam, format ini menunjukkan keseimbangan antara tradisi, kepatuhan terhadap Sunnah, dan adaptasi terhadap kebutuhan jamaah modern.*
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora