JAKARTA – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat rugi bersih sebesar Rp89,36 miliar pada tahun buku 2025. Meski demikian, investor institusi atau smart money melakukan akumulasi saham.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang pandangan investor besar terhadap kinerja SSIA. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan laporan keuangan perseroan.
Investor kini tidak hanya menilai laba atau rugi bersih. Mereka juga menilai metrik lain, terutama rasio solvabilitas dan cash runway. Hal ini terjadi seiring SSIA menjalankan proyek besar Subang Smartpolitan yang membutuhkan investasi besar.
Dari sisi neraca, utang bank jangka panjang SSIA naik dari Rp516,9 miliar pada 2024 menjadi Rp1,53 triliun pada akhir 2025. Ekuitas perusahaan mencapai Rp5,56 triliun.
Dengan kondisi tersebut, Debt-to-Equity Ratio (DER) SSIA berada di level 0,83 kali. Rasio ini masih tergolong moderat untuk perusahaan pengembang kawasan industri yang agresif membebaskan lahan dan membangun infrastruktur.
Beban bunga juga menjadi perhatian pasar. SSIA mencatat laba usaha sebesar Rp215,7 miliar. Sementara itu, beban keuangan mencapai Rp107,14 miliar. Interest Coverage Ratio (ICR) perusahaan berada di level 2,01 kali.
Artinya, perusahaan masih mampu menutup kewajiban bunga dengan aman. Namun, tekanan biaya keuangan tetap meningkat.
SSIA juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp1,42 triliun. Posisi ini memberi ruang likuiditas yang cukup. Perusahaan dapat membiayai operasional dan membayar utang selama 12 hingga 18 bulan ke depan.
Dengan kondisi tersebut, risiko dilusi melalui aksi korporasi seperti rights issue dalam waktu dekat relatif kecil.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









