Plastik Jadi BBM? Pakar IPB Ungkap Teknologi Pirolisis, Ini Risiko dan Peluang Besarnya

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Indonesia terus menghadapi tekanan besar dari limbah plastik yang kian menumpuk di berbagai wilayah. Di sisi lain, dorongan untuk mencari solusi inovatif semakin kuat karena sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga membebani sistem pengelolaan sampah nasional.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat fakta yang cukup mengkhawatirkan. Setiap hari, dunia membuang plastik ke laut, sungai, dan danau dalam jumlah setara sekitar 2.000 truk sampah. Jika dihitung dalam skala tahunan, angka itu mencapai 19–23 juta ton limbah plastik yang mencemari ekosistem perairan global.

Indonesia ikut menyumbang beban besar dalam persoalan ini. Pada 2025, volume sampah plastik nasional diperkirakan menyentuh 12,4 juta ton per tahun atau sekitar 28.000 ton per hari. Kondisi ini memicu berbagai inovasi, termasuk gagasan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar.

Pirolisis: teknologi yang mengubah plastik menjadi energi

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan desakan pengurangan sampah, sejumlah peneliti mengembangkan teknologi pirolisis. Proses ini memecah plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas, cairan, dan residu padat. Dari ketiganya, cairan hasil pirolisis menarik perhatian karena berpotensi menjadi bahan bakar.

Pakar IPB University, Dr Leopold Oscar, menegaskan bahwa secara ilmiah plastik memang bisa berubah menjadi bahan bakar cair melalui metode tersebut.

“Plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) cenderung menghasilkan senyawa hidrokarbon yang lebih sesuai untuk bahan bakar,” ucapnya, dilansir dari laman IPB University.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa tidak semua jenis plastik memberikan hasil yang sama. Struktur kimia bahan baku menentukan kualitas produk akhir yang dihasilkan.

Tidak semua plastik cocok untuk bahan bakar

Leopold menjelaskan bahwa karakteristik plastik sangat memengaruhi hasil akhir pirolisis. Ia menekankan bahwa hanya jenis tertentu yang layak dijadikan bahan bakar alternatif.

Baca Juga :  B50 Mulai Juli 2026, Pemerintah Tekan Impor BBM dan Emisi

“Karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa plastik seperti PET dan PVC justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Kedua jenis ini dapat menghasilkan senyawa yang bersifat korosif dan berdampak buruk bagi lingkungan maupun peralatan pengolahan.

Selain jenis bahan, faktor teknis lain juga berperan penting. Suhu proses, teknik pemanasan, penggunaan katalis, hingga tahap pra-pengolahan ikut menentukan kualitas minyak yang dihasilkan. Karena itu, produk akhir tidak bisa langsung digunakan tanpa proses lanjutan seperti pemurnian, distilasi, atau cracking agar memenuhi standar bahan bakar diesel.

Tantangan regulasi dan keamanan produk

Meski teknologi ini menjanjikan, Leopold menyoroti perlunya pengawasan ketat jika hasil olahan plastik masuk ke pasar energi. Ia menekankan pentingnya standar yang jelas dari hulu hingga hilir.

“Apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat, aspek kualitas dan keamanan harus menjadi prioritas utama. Mulai dari pemilahan bahan baku, pengendalian proses produksi, hingga pengujian mutu produk akhir perlu dilakukan secara konsisten. Di sisi lain, Indonesia juga memerlukan regulasi yang jelas terkait standar bahan baku, proses produksi, dan kualitas produk yang dihasilkan,” terangnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup. Pemerintah dan industri harus membangun sistem pengawasan agar inovasi tidak berubah menjadi masalah baru di kemudian hari.

Potensi ekonomi sirkular dari sampah plastik

UNEP menilai pengelolaan sampah plastik tidak bisa hanya bertumpu pada daur ulang konvensional. Dunia perlu bergerak menuju sistem ekonomi sirkular yang memaksimalkan nilai dari setiap limbah.

Leopold melihat pirolisis sebagai salah satu pintu masuk menuju konsep tersebut. Teknologi ini mampu mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, terutama dalam sektor energi.

Baca Juga :  ITS–PalmCo Kembangkan Bensin Sawit, Dorong Energi Terbarukan Nasional

Namun ia juga mengingatkan bahwa pengembangan teknologi ini masih menghadapi sejumlah hambatan, mulai dari efisiensi proses hingga kelayakan biaya produksi. Selain itu, dampak lingkungan jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian utama.

“Ke depan, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar cukup potensial untuk memecahkan solusi pengelolaan limbah, terutama selama kebutuhan energi masih bergantung pada sumber daya fosil. Akan tetapi, karena produk pirolisis plastik dapat digunakan juga untuk keperluan nonbahan bakar, perannya perlu terus dievaluasi seiring berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia,” tutur Leopold.

Transformasi sampah plastik menjadi bahan bakar membuka peluang besar dalam pengelolaan limbah dan energi alternatif. Namun, teknologi ini tetap membutuhkan kontrol ketat, riset lanjutan, dan kebijakan yang kuat agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko baru bagi lingkungan.

FAQ

1. Apa itu pirolisis?

Pirolisis adalah proses pemanasan material seperti plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen untuk menghasilkan gas, cairan, dan residu padat.

2. Semua plastik bisa diolah jadi bahan bakar?

Tidak. Jenis seperti PE dan PP lebih cocok, sementara PET dan PVC berpotensi menghasilkan senyawa berbahaya.

3. Apakah hasil pirolisis bisa langsung digunakan?

Tidak bisa. Hasilnya harus melalui proses pemurnian dan pengolahan lanjutan agar memenuhi standar bahan bakar.

4. Apa tantangan utama teknologi ini?

Efisiensi proses, biaya produksi, serta regulasi dan keamanan lingkungan menjadi tantangan utama.

5. Apakah teknologi ini ramah lingkungan?

Bisa membantu mengurangi sampah, tetapi tetap perlu pengawasan ketat agar tidak menimbulkan dampak negatif baru.(Tim)

Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:00 WIB

Plastik Jadi BBM? Pakar IPB Ungkap Teknologi Pirolisis, Ini Risiko dan Peluang Besarnya

Berita Terbaru