JAKARTA – Ketegangan antara Israel dan Iran dapat mengguncang perdagangan Indonesia. Sementara itu, risiko inflasi barang impor, terutama produk dari Timur Tengah, juga meningkat.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menekankan bahwa Indonesia akan merasakan dampak paling cepat pada rute perdagangan ke Timur Tengah. Selain itu, Iran menutup Selat Hormuz dan melarang kapal komersial mendekat, sehingga menambah tekanan pada logistik nasional.
“Gangguan ini bisa menaikkan biaya perdagangan karena premi asuransi meningkat. Selain itu, jumlah kapal yang bisa melintas ke Timur Tengah, Eropa, dan Afrika berkurang,” ujar Shinta, Minggu (1/3/2026). Dengan kata lain, Indonesia akan merasakan efek ini dalam beberapa hari hingga 2–3 pekan, tergantung perkembangan konflik.
Selain dampak langsung, Shinta menyoroti potensi inflasi domestik. Harga barang impor, seperti minyak dan kurma, diperkirakan akan naik. Terlebih lagi, permintaan di dalam negeri meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Shinta mendorong pemerintah meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. “Stabilitas makro harus tetap terjaga agar pertumbuhan tidak terganggu. Oleh karena itu, pemerintah harus memonitor fundamental ekonomi dan menciptakan stimulasi yang mendukung ekspor serta penanaman modal asing,” tambahnya.
Konflik memuncak ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Teheran pada 28 Februari 2026 dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kemudian, pemerintah Iran mengumumkan kematiannya melalui media resmi dan kantor berita Tasnim.
Eskalasi ini tidak hanya mengganggu perdagangan, tetapi juga dapat memengaruhi harga minyak global, cadangan devisa, neraca pembayaran, dan nilai tukar rupiah. Dengan demikian, Apindo berharap pemerintah bertindak cepat dan adaptif menghadapi situasi yang terus berkembang.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









