Indonesia Genjot Bioetanol E10

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 28 Februari 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri bioetanol. Namun, keberhasilan sektor ini membutuhkan dukungan dari pemerintah dan pelaku industri. John Anis, CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (RNE), menyatakan bahwa meski penggunaan bioetanol di dunia meningkat pesat, Indonesia masih tertinggal karena regulasi dan kebijakan pendukung belum memadai.

Pemerintah Dorong Penerapan E10

Pemerintah kini mengkaji penerapan bioetanol jenis E10, campuran 10% etanol dari tebu atau singkong dan 90% bensin. Bahan bakar ini dirancang lebih ramah lingkungan dengan emisi karbon lebih rendah.

“Peraturan Menteri Nomor 4 Tahun 2025 tentang bahan bakar nabati sudah menjadi landasan awal. Namun, pemerintah perlu menyusun aturan turunan seperti formula, indeks harga, dan koefisien proses,” kata John saat Bisnis Indonesia Forum bertema Potensi Bioetanol Pilar Kedaulatan Energi Masa Depan, Rabu (25/2/2026).

Selain itu, E10 dapat mendorong industri bioetanol domestik lebih siap memenuhi permintaan pasar.

Baca Juga :  iPhone 17 Pro Max Unggul Daya Tahan Baterai

Produksi Masih Kecil

John menekankan bahwa bioetanol bisa mengurangi ketergantungan impor BBM. Saat ini, produksi dalam negeri masih sangat rendah dibanding kebutuhan nasional. Konsumsi BBM Indonesia pada 2025 mencapai lebih dari 84 juta kiloliter, dan sekitar 70% berasal dari impor.

Jika E10 diterapkan, kebutuhan bioetanol bisa mencapai 5 juta kiloliter per tahun. Saat ini, empat produsen baru menghasilkan 63.000 kiloliter, jauh dari target. Situasi ini menuntut akselerasi pengembangan industri bioetanol.

Tantangan Utama

Industri bioetanol menghadapi beberapa hambatan. Harga bahan baku dan BBM yang fluktuatif, persaingan dengan kebutuhan pangan, serta keterbatasan bahan baku menjadi tantangan utama. Selain itu, proses pertanian belum efisien, distribusi masih terbatas, dan pemerintah perlu memperkuat regulasi.

Dukungan penuh dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci percepatan pengembangan bioetanol.

Belajar dari Brasil, Filipina, dan India

John menyoroti keberhasilan Brasil, Filipina, dan India. Brasil menerapkan campuran E30 hingga E100 dan mendorong produksi serta penyerapan bioetanol domestik melalui regulasi yang kuat.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp16.902 per Dolar AS, Pelaku Usaha Waspada!

Filipina memprioritaskan penyerapan bioetanol untuk kebutuhan lokal, sambil membuka peluang ekspor dengan pengawasan ketat. India memperkuat program Ethanol Blending with Petrol (EBP) dan mengendalikan ekspor bahan baku, termasuk menetapkan bea keluar tinggi atas molase tebu, untuk menjaga pasokan domestik.

Pengalaman ini menunjukkan pentingnya komitmen pemerintah untuk memastikan pasokan stabil dan harga terjangkau.

Komitmen Pemerintah Jadi Kunci

“Dari pengalaman negara lain terlihat satu hal penting: pemerintah menunjukkan komitmen kuat. Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto juga menunjukkan komitmen solid. Sekarang tinggal menunggu implementasinya,” ujar John.

Dengan regulasi yang jelas, penguatan industri hulu, dan pembelajaran dari negara lain, Indonesia dapat menjadikan bioetanol pilar utama kedaulatan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket
Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata
Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat
Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai
Mulai 1 Agustus, Jutaan Seller Shopee, TikTok Shop hingga Marketplace Lain Bakal Nikmati Diskon Biaya Layanan 50 Persen
Emas Pegadaian Mendadak Kompak Menguat Hari Ini 25 Juni 2026, Investor Langsung Bidik Antam, UBS dan Galeri 24
Mulai 1 Juli, Pendapatan Driver Ojol Berubah? GoTo dan Grab Buka Aturan Komisi 8 Persen
Harga Emas Antam Hari Ini 22 Juni 2022 Stabil, Investor Cermati Peluang di Level Rp2,668 Juta per Gram
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:00 WIB

Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:00 WIB

Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:00 WIB

Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai

Rabu, 8 Juli 2026 - 19:39 WIB

Mulai 1 Agustus, Jutaan Seller Shopee, TikTok Shop hingga Marketplace Lain Bakal Nikmati Diskon Biaya Layanan 50 Persen

Berita Terbaru