JAKARTA – Pasar saham Indonesia memasuki fase baru. Otoritas menerapkan dua kebijakan strategis, yakni keterbukaan data pemegang saham di atas 1% dan kenaikan batas minimum free float menjadi 15%. Dengan demikian, kebijakan ini mendorong transparansi. Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi memicu volatilitas jangka pendek pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tim riset Maybank Sekuritas menyatakan investor kini dapat mengakses data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya, publik hanya dapat melihat kepemilikan di atas 5%. Oleh karena itu, pasar kini memiliki gambaran struktur kepemilikan emiten yang lebih rinci.
Langkah tersebut memperkuat transparansi pasar. Namun demikian, pasar bisa bereaksi pada tahap awal penerapan. Perubahan komposisi free float pada sejumlah saham memicu potensi gejolak.
Dampak ke Struktur Kepemilikan
Setelah BEI membuka data kepemilikan 1%, pasar menemukan perubahan signifikan pada beberapa emiten. Sebelumnya, saham-saham tersebut terlihat memiliki free float besar. Kini, data menunjukkan dominasi kepemilikan individu tertentu. Akibatnya, porsi free float riil menyusut pada sejumlah saham.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi saham yang masuk indeks global seperti MSCI maupun indeks domestik seperti LQ45. Jika penurunan free float signifikan, investor bisa menarik dana saat peninjauan indeks berikutnya.
“Dalam jangka pendek, volatilitas tinggi sangat mungkin terjadi,” tulis Tim Riset Maybank Sekuritas, Rabu (4/3/2026).
Penyesuaian Menuju Free Float 15%
Selain keterbukaan data, BEI juga mendorong peningkatan ambang batas free float dari 7,5% menjadi 15%. Langkah ini bertujuan memperdalam likuiditas pasar dan meningkatkan kualitas pasar dalam jangka panjang.
Pelaksana Tugas Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyatakan perluasan data kepemilikan saham menjadi bagian dari empat proposal penguatan pasar modal. BEI mengajukan proposal tersebut kepada MSCI dan FTSE Russell. Sementara itu, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia menyediakan data kepemilikan kepada publik.
Jeffrey menjelaskan BEI telah merampungkan pembahasan internal terkait aturan free float 15% dan menggelar public hearing pada 19 Februari 2026. Dengan begitu, BEI segera menjalankan regulasi tersebut.
Respons Emiten dan Prospek IHSG
Maybank Sekuritas menilai emiten dengan fundamental kuat memiliki ruang untuk menyesuaikan porsi free float. Emiten dapat menempuh aksi korporasi untuk memenuhi ketentuan tersebut. Meski demikian, proses itu membutuhkan waktu dan perencanaan matang.
Jika penurunan free float cukup besar dan bertepatan dengan keputusan MSCI terhadap Indonesia, volatilitas IHSG dapat meningkat. Pada saat yang sama, investor kemungkinan menyesuaikan portofolio mengikuti perubahan bobot indeks.
Pada akhirnya, analis memandang dampak negatif hanya berlangsung dalam jangka pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, peningkatan transparansi dan likuiditas dapat memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









