Jakarta – Kenaikan biaya hidup di Korea Selatan jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan upah. Akibatnya, banyak anak muda bekerja lebih dari satu pekerjaan. Rutinitas kerja tidak lagi terbatas pada jam kantor; mereka bekerja siang, malam, bahkan akhir pekan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Satu Pekerjaan Tidak Lagi Cukup
Kim, 30 tahun, karyawan pemasaran di Seoul, menyelesaikan jam kantornya pukul 18.00, namun ia masih mengajar bahasa Inggris tiga malam dalam seminggu.
“Saya sudah mengajar selama tujuh tahun. Dengan gaji 3 juta won dari pekerjaan utama, rasanya mustahil membeli rumah atau membangun keluarga. Jadi, satu pekerjaan tidak cukup untuk masa depan,” ujarnya.
Lee, 32 tahun, staf penjualan di perusahaan besar, menjalankan toko online di Amazon setelah jam kerja. Meskipun pekerjaan itu menuntut dan kadang membosankan, ia tetap melakukannya karena kebutuhan hidup.
“Setelah membayar sewa, belanja, dan makan di luar, hampir tidak ada yang tersisa untuk ditabung. Dengan kata lain, ini soal bertahan hidup,” katanya.
N-Jobber, Kenyataan Baru Kaum Muda
Fenomena ini muncul sebagai “N-jobbers,” sebutan bagi pekerja yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Berdasarkan data, survei Incruit menunjukkan hampir setengah pekerja Korea memiliki pekerjaan sampingan, terutama di usia 20-an (55,2%) dan 30-an (57%).
Kementerian Data dan Statistik Korea mencatat 404.409 pekerja memiliki lebih dari satu pekerjaan pada Oktober 2025. Sementara itu, survei NewWorker menemukan 49,5% responden dewasa melakukan hal yang sama. Para ahli memperkirakan angka sebenarnya lebih tinggi, karena banyak pekerja tidak melaporkan pekerjaan sampingan ke perusahaan.
Pekerjaan Sampingan Semakin Beragam
Teknologi dan media sosial membuat pekerjaan sampingan semakin beragam. Mulai dari les privat, penampilan berbayar, hingga penghasilan dari aplikasi dan konten online. Lee Ji-won, 34 tahun, menulis blog dan mendapat tambahan 1 juta won per bulan.
“Media sosial kini jadi platform belajar dan pasar. Selain itu, orang berbagi tips digital dan cara membuat konten. Hal ini mendorong lebih banyak orang mencoba penghasilan tambahan,” ujar Lee.
Inflasi vs Stagnasi Upah
Banyak pekerja merasa biaya hidup naik jauh lebih cepat daripada pertumbuhan gaji, meskipun inflasi resmi hanya 2,1% tahun lalu. Direktur Institute for Industrial and Labor Policy, Kim Sung-hee, menyebut stagnasi upah sebagai penyebab utama.
“Pertumbuhan gaji tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Oleh karena itu, pekerja kini menjalankan model ‘satu pekerjaan utama plus pekerjaan sampingan’.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya pekerjaan tidak menentu mengubah struktur ketenagakerjaan jangka panjang. Bahkan, survei menunjukkan 82,5% pekerja merasa perlu penghasilan tambahan.
Perubahan Cara Pandang Terhadap Karier
Fenomena N-jobber mengubah sikap generasi muda terhadap karier. Tekanan di tempat kerja dan ketidakpastian membuat mereka enggan mengejar jenjang tradisional. Contohnya, survei 20s Lab menemukan 36,7% pekerja usia 20–30 tahun tidak tertarik naik ke posisi manajerial. Survei Job Korea 2023 menunjukkan 54,8% menolak posisi eksekutif.
Bagi sebagian N-jobber, pekerjaan sampingan bukan hanya soal uang, melainkan juga aktualisasi diri dan pengalaman baru. Seorang profesional 27 tahun mengelola kanal YouTube dengan 27.000 pelanggan. Ia mendapatkan pengalaman sekaligus kestabilan finansial.
Dampak Kelelahan dan Risiko Sosial
N-jobber muda bekerja rata-rata 58,7 jam per minggu. Beberapa pekerja bahkan mencapai 97 jam.
Profesor sosiologi Universitas Yeungnam, Heo Chang-deok, memperingatkan risiko kelelahan kronis. “Jam kerja berlebihan mencerminkan kecemasan ekonomi, tetapi bisa menurunkan produktivitas dan merusak hubungan sosial,” ujarnya.
Fenomena N-jobber menunjukkan bahwa generasi muda Korea memilih bekerja lebih dari satu pekerjaan bukan sekadar pilihan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan perubahan dunia kerja.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









