JAKARTA – China memangkas pengiriman magnet dan material logam tanah jarang ke Jepang sepanjang Maret 2026. Penurunan tajam ini muncul di tengah memburuknya hubungan politik kedua negara di Asia tersebut.
Data bea cukai China menunjukkan volume ekspor magnet ke Jepang turun 17% dibanding Februari. Angkanya hanya sekitar 184 ton, sekaligus menjadi level terendah dalam sembilan bulan terakhir.
Tidak hanya itu, pengiriman bahan baku antara seperti oksida ikut merosot drastis. Volume jenis ini bahkan anjlok hampir 90% dalam periode yang sama.
Ketegangan Politik Tekan Perdagangan
Ketegangan antara China dan Jepang terus meningkat sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait Taiwan. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Beijing pada akhir tahun lalu.
Sejak saat itu, pemerintah China memperketat aturan ekspor logam tanah jarang. Otoritas juga meningkatkan pengawasan terhadap distribusi material yang berpotensi digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Media pemerintah China bahkan memperingatkan bahwa pasokan logam tanah jarang akan menghadapi kontrol yang lebih ketat ke depan.
Ancaman Pasokan Global
Penurunan ekspor ini memicu kekhawatiran baru di pasar global. Jepang selama ini sangat bergantung pada pasokan logam tanah jarang dari China, terutama untuk industri teknologi dan manufaktur.
Jika kondisi ini berlanjut, pelaku industri berpotensi menghadapi gangguan rantai pasok. Risiko kelangkaan bahan baku juga bisa mendorong kenaikan harga di pasar internasional.
Situasi ini mempertegas peran strategis logam tanah jarang dalam geopolitik global, terutama di tengah meningkatnya rivalitas ekonomi dan teknologi antarnegara.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









