CPU 512 Core Diprediksi Jadi Senjata Baru Industri AI Masa Depan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah arah industri semikonduktor global. Jika selama ini GPU dikenal sebagai “raja” komputasi AI, dalam beberapa tahun mendatang posisi tersebut diprediksi bakal mendapat tantangan serius dari CPU generasi baru dengan jumlah core yang jauh lebih besar.

CEO perusahaan desain chip Arm, Rene Haas, memprediksi prosesor masa depan dapat hadir dengan konfigurasi hingga 512 core dalam satu chip. Prediksi ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk menjalankan teknologi Agentic AI yang kini mulai berkembang pesat.

AI Generasi Baru Butuh Tenaga Lebih Besar

Agentic AI merupakan konsep kecerdasan buatan yang mampu bekerja secara mandiri untuk menyelesaikan tugas kompleks tanpa banyak campur tangan manusia. Teknologi ini diproyeksikan menjadi evolusi berikutnya setelah chatbot dan asisten virtual modern.

Berbeda dengan AI konvensional yang hanya merespons perintah sederhana, Agentic AI dirancang untuk mengelola banyak proses sekaligus dalam waktu bersamaan. Karena itulah, kebutuhan komputasinya meningkat drastis.

Menurut Haas, kondisi tersebut akan membuat desain CPU masa depan berubah total. Jika saat ini prosesor server rata-rata memiliki puluhan hingga ratusan core, generasi berikutnya diperkirakan akan melonjak berkali-kali lipat.

“Permintaan AI membuat industri chip harus beradaptasi lebih cepat dibanding sebelumnya,” ujarnya dalam laporan keuangan terbaru Arm.

GPU Mulai Mendekati Batas Fisik

Selama beberapa tahun terakhir, GPU menjadi komponen utama dalam pengembangan AI karena unggul dalam pemrosesan paralel. Produk-produk seperti seri Blackwell dan Rubin milik NVIDIA menjadi andalan pusat data AI modern.

Baca Juga :  Xiaomi Redmi 17C Resmi Meluncur, HP Murah Ini Bawa Kejutan Besar di Balik Spesifikasi yang Dipangkas

Namun menurut Haas, GPU kini mulai menghadapi keterbatasan fisik. Ukuran chip yang semakin besar membuat ruang pengembangan menjadi makin sempit karena terbentur batas produksi litografi silikon.

Di sisi lain, CPU masih memiliki ruang pengembangan yang lebih fleksibel. Hal inilah yang membuka peluang bagi produsen chip untuk meningkatkan jumlah core secara signifikan tanpa harus terbentur batas desain terlalu cepat.

Persaingan CPU Semakin Panas

Perang teknologi prosesor server saat ini semakin sengit. Beberapa perusahaan besar mulai berlomba menghadirkan CPU dengan jumlah core lebih banyak demi memenuhi kebutuhan AI dan cloud computing.

Intel telah mengembangkan prosesor Xeon dengan hingga 288 efficiency core. Sementara AMD disebut sedang menyiapkan lini EPYC generasi terbaru berbasis Zen 6 yang diperkirakan mampu mencapai 256 core.

Adapun Arm baru saja memperkenalkan desain CPU AGI dengan konfigurasi hingga 126 core. Meski belum sebesar pesaingnya, Arm percaya diri karena arsitekturnya dikenal lebih hemat daya dibandingkan platform x86.

Efisiensi listrik menjadi faktor penting dalam era prosesor raksasa. Semakin banyak core dalam satu chip, semakin besar pula konsumsi energinya. Karena itu, produsen chip kini tidak hanya berlomba soal performa, tetapi juga efisiensi.

CPU dan GPU Diprediksi Akan Berbagi Peran

Pengamat industri menilai masa depan AI kemungkinan tidak akan sepenuhnya bergantung pada GPU maupun CPU saja. Keduanya justru diprediksi akan bekerja berdampingan.

GPU tetap unggul untuk pelatihan model AI skala besar, sementara CPU dengan ratusan core akan mengambil peran penting dalam menjalankan ribuan tugas AI secara simultan di server dan pusat data.

Baca Juga :  Cara Cepat Monetisasi YouTube, Begini Strateginya

Tren ini juga diperkirakan akan mendorong lahirnya generasi baru laptop, server, hingga perangkat cloud yang lebih cerdas namun tetap hemat energi.

Potensi Industri Bernilai Fantastis

Arm memperkirakan lonjakan kebutuhan chip AI dapat membuka peluang bisnis lebih dari USD 100 miliar pada 2030. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya transformasi industri teknologi dalam beberapa tahun mendatang.

Bila prediksi CPU 512 core benar-benar terealisasi, dunia komputasi dipastikan memasuki era baru. Prosesor bukan lagi sekadar otak komputer biasa, melainkan pusat kendali utama untuk ekosistem AI modern.

FAQ

Apa itu CPU 512 core?

CPU 512 core adalah prosesor yang memiliki 512 inti pemrosesan dalam satu chip. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding prosesor konsumen saat ini yang rata-rata hanya memiliki 8 hingga 24 core.

Mengapa AI membutuhkan core lebih banyak?

Karena AI modern menjalankan banyak proses secara paralel. Semakin banyak core, semakin cepat sistem memproses data dan tugas secara bersamaan.

Apakah GPU akan tergantikan?

Tidak sepenuhnya. GPU masih sangat penting untuk pelatihan model AI, tetapi CPU masa depan diprediksi akan mengambil porsi lebih besar dalam pengelolaan tugas AI harian.

Apa keunggulan arsitektur Arm?

Arsitektur Arm dikenal lebih hemat daya dibanding x86 sehingga dianggap cocok untuk prosesor dengan jumlah core sangat besar.

Kapan CPU 512 core mulai hadir?

Belum ada tanggal pasti, tetapi sejumlah perusahaan chip diperkirakan mulai mendekati angka tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mahyeldi Pasang Alarm untuk Generasi Muda Sumbar: Kuasai AI, Jangan Biarkan Karakter Tergeser
Kemenkes Siapkan Robot Bedah AI Buatan Indonesia, Budi Gunadi Ungkap Strategi Besar Tingkatkan Layanan Medis
Kuota Internet Tak Hangus Lagi, Begini Cara Daftar Paket Rollover Telkomsel, IM3 dan XLSmart
MK Wajibkan Operator Hadirkan Opsi Kuota Tak Hangus, Jutaan Pengguna Internet Kini Lebih Terlindungi
Internet Seluler Indonesia Dibidik Tembus 100 Mbps, Komdigi Pasang Target Besar hingga 2029
Honor Robot Phone Meledak Usai Final Piala Dunia 2026, Kamera Robot AI yang Dipakai Eric Garcia Bikin Dunia Gadget Heboh
Bikin Konten Kini Lebih Hemat! Telkomsel Luncurkan Paket CapCut Premium Rp68 Ribu, Bonus Kuota Internet
BRIN Sulap Limbah Ampas Kopi Gayo Jadi Kemasan Pangan Antibakteri, Siap Tantang Dominasi Plastik
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 14:00 WIB

Mahyeldi Pasang Alarm untuk Generasi Muda Sumbar: Kuasai AI, Jangan Biarkan Karakter Tergeser

Senin, 27 Juli 2026 - 20:19 WIB

Kemenkes Siapkan Robot Bedah AI Buatan Indonesia, Budi Gunadi Ungkap Strategi Besar Tingkatkan Layanan Medis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:00 WIB

Kuota Internet Tak Hangus Lagi, Begini Cara Daftar Paket Rollover Telkomsel, IM3 dan XLSmart

Kamis, 23 Juli 2026 - 18:00 WIB

MK Wajibkan Operator Hadirkan Opsi Kuota Tak Hangus, Jutaan Pengguna Internet Kini Lebih Terlindungi

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:54 WIB

Internet Seluler Indonesia Dibidik Tembus 100 Mbps, Komdigi Pasang Target Besar hingga 2029

Berita Terbaru