Jakarta –
Bank Sentral Dunia Masih Borong Emas, Bank Indonesia Ikut Akumulasi.
Bank sentral dari berbagai negara terus menambah cadangan emas hingga Desember 2025. Data World Gold Council, yang dirilis Februari 2026, menunjukkan tren pembelian ini tetap kuat, terutama di negara-negara emerging market. Dengan demikian, emas tetap menjadi aset strategis pilihan bank sentral di tengah ketidakpastian global.
Emerging Market Pimpin Pembelian Desember 2025
Pada Desember 2025, bank sentral global masih membeli emas. Sebagai contoh, State Oil Fund of the Republic of Azerbaijan (SOFAZ) menambah cadangan terbesar, yaitu 15,2 ton. Uzbekistan menambah 10 ton, dan Kazakhstan menambah 8 ton. Polandia memperluas cadangan emasnya sebesar 6,9 ton, sekaligus memperkuat strategi diversifikasi mereka.
Di Asia, People’s Bank of China menambah 0,9 ton. Bank Indonesia melanjutkan akumulasi sebesar 0,6 ton. Artinya, BI membeli emas tiga bulan berturut-turut dengan total 5,1 ton sepanjang periode tersebut.
Bank Indonesia Borong Emas untuk Pertama Kali Sejak 2017
Sepanjang 2025, Bank Indonesia membeli total 7 ton emas, menandai langkah pertama sejak 2017. Jumlah ini relatif kecil dibanding negara lain, tetapi menunjukkan strategi jangka panjang BI untuk memperkuat cadangan strategis.
Kyrgyzstan, Mongolia, Filipina, Republik Ceko, Mesir, dan Belarus juga menambah cadangan emas. Turki meningkatkan cadangan emas, baik pada gross reserves maupun official sector reserves, yang menegaskan kebijakan emas domestik mereka. Sementara itu, Singapura melepas 11,3 ton emas, menjadi satu-satunya net seller bulan itu.
Permintaan Emas Kuartalan Menguat
Bank sentral membeli 230 ton emas pada Q4 2025, naik 6% dari kuartal sebelumnya yang tercatat 218 ton. Dengan kenaikan ini, total pembelian sepanjang 2025 mencapai 863 ton. Angka ini lebih rendah dari rekor di atas 1.000 ton pada tiga tahun sebelumnya, tetapi tetap jauh di atas rata-rata tahunan 2010–2021 sebesar 473 ton.
Bank sentral membeli lebih hati-hati karena harga emas naik cepat dan mencetak rekor berulang kali. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan minat jangka panjang terhadap emas. Sebanyak 22 institusi menambah cadangan sekitar satu ton atau lebih, dan tujuh di antaranya menyumbang porsi terbesar.
Cadangan Emas Global: Amerika Serikat Tetap Dominan
Amerika Serikat menguasai cadangan emas global sebesar 8.133,5 ton, jauh meninggalkan negara lain. Jerman menempati posisi kedua dengan 3.350,3 ton, diikuti IMF sebesar 2.814 ton, yang menegaskan peran lembaga multilateral dalam sistem keuangan global.
Italia mencatat 2.451,9 ton, Prancis 2.437 ton, dan Rusia 2.326,5 ton. China mencatat 2.306,3 ton, menunjukkan posisi yang semakin kuat meski masih di bawah negara Barat utama.
Swiss menyimpan 1.039,9 ton, India 880,2 ton, dan Jepang 846 ton. Dengan data ini, bank sentral tetap menilai emas sebagai aset strategis penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.