Filipina Darurat Energi, Marcos Siapkan Tambahan Pasokan Minyak

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah Filipina menetapkan status darurat energi nasional sebagai respons terhadap konflik antara Israel–Amerika Serikat dan Iran. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyampaikan kebijakan tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi.

Dalam pernyataannya, Marcos menjelaskan pemerintah menyiapkan langkah untuk mengamankan pasokan energi. Pemerintah juga menargetkan pembelian satu juta barel minyak. Tambahan ini memperkuat cadangan nasional yang saat ini mencukupi untuk sekitar 45 hari.

“Kami akan memastikan aliran minyak. Kami tidak hanya mengandalkan satu atau dua pengiriman, tetapi aliran produk minyak secara berkelanjutan,” ujar Marcos.

Ketergantungan Impor dan Dampak Global

Filipina mengimpor sekitar 98 persen kebutuhan minyak dari kawasan Teluk. Negara ini menjadi salah satu yang pertama menetapkan status darurat energi setelah harga bahan bakar, seperti solar dan bensin, melonjak sejak konflik pecah pada 28 Februari.

Konflik antara AS–Israel dan Iran serta penutupan efektif Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran utama memicu gejolak di pasar energi global. Kondisi ini menimbulkan gangguan pasokan dan mendorong kenaikan harga.

Baca Juga :  Prabowo–Trump Bahas Tarif Impor

Otoritas Pemerintah Diperluas

Marcos menyebut status darurat energi memberi kewenangan kepada pemerintah untuk mengambil langkah strategis. Pemerintah menargetkan stabilitas pasokan energi dan perlindungan terhadap perekonomian.

“Tidak ada yang dikesampingkan. Kami mempertimbangkan semua opsi, semua saran, dan semua ide,” katanya.

Upaya Diplomatik dan Pengamanan Pasokan

Duta Besar Filipina untuk Amerika Serikat, Jose Manuel Romualdez, menyampaikan bahwa Manila menjalin komunikasi dengan Washington. Pemerintah berupaya memperoleh pengecualian agar dapat mengimpor minyak dari negara yang terkena sanksi AS.

Selain itu, Pemerintah Filipina juga membentuk komite khusus untuk mengatur distribusi bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Pemerintah juga membeli bahan bakar dan produk minyak secara langsung untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Protes dan Kritik Kebijakan

Sejumlah senator sebelumnya mendesak Marcos untuk mengakui dampak krisis yang masyarakat rasakan akibat lonjakan harga energi. Harga bensin dan solar tercatat naik lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum konflik.

Baca Juga :  Islam di Cina: Mengapa Warga Ramai-Ramai Memeluknya?

Kelompok buruh Kilusang Mayo Uno (KMU) mengkritik kebijakan tersebut. Mereka menilai pemerintah terlambat merespons krisis dan sempat menyebut kondisi masih normal.

KMU juga menyoroti potensi pembatasan aktivitas pekerja, termasuk aksi mogok. Mereka menilai aturan tersebut dapat membatasi kebebasan pekerja dan mengganggu aktivitas ekonomi.

Dukungan Sektor Usaha dan Langkah Lanjutan

Sementara itu, pengusaha Manuel V. Pangilinan menyatakan dukungan terhadap langkah darurat tersebut. Ia menilai perusahaan utilitas menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi dan menyebut pemerintah perlu memiliki berbagai opsi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Kelompok transportasi berencana menggelar aksi mogok selama dua hari sebagai bentuk protes atas kenaikan harga bahan bakar. Mereka menuntut penurunan pajak BBM, pengendalian harga, dan kenaikan upah.

Pemerintah Filipina sebelumnya menyalurkan subsidi kepada pengemudi transportasi. Pemerintah juga mengurangi layanan feri serta menerapkan pola kerja empat hari bagi pegawai negeri untuk menghemat bahan bakar.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Australia Gratiskan Transportasi Umum di Tengah Krisis BBM
Prancis Izinkan Solar di Bawah Standar, Antisipasi Krisis BBM Global
Iran Bebaskan Biaya Kapal Tanker Malaysia Lintasi Selat Hormuz
Rusia Setop Ekspor BBM, Harga Minyak Dunia Berpotensi Naik
Rusia Kirim Bantuan ke Iran, Perintah Presiden Vladimir Putin
Capai Kesepakatan dengan Iran, Kapal Tanker Thailand Kini Bisa Lintasi Selat Hormuz
The Fed Masih Rugi Rp331 Triliun, Perlahan Bangkit
Kapal Tanker Malaysia Bisa Lintasi Selat Hormuz, Anwar Ibrahim: Terima Kasih Iran
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 13:00 WIB

Australia Gratiskan Transportasi Umum di Tengah Krisis BBM

Rabu, 1 April 2026 - 19:00 WIB

Prancis Izinkan Solar di Bawah Standar, Antisipasi Krisis BBM Global

Rabu, 1 April 2026 - 18:30 WIB

Iran Bebaskan Biaya Kapal Tanker Malaysia Lintasi Selat Hormuz

Rabu, 1 April 2026 - 17:00 WIB

Rusia Setop Ekspor BBM, Harga Minyak Dunia Berpotensi Naik

Selasa, 31 Maret 2026 - 22:00 WIB

Rusia Kirim Bantuan ke Iran, Perintah Presiden Vladimir Putin

Berita Terbaru

Internasional

Australia Gratiskan Transportasi Umum di Tengah Krisis BBM

Kamis, 2 Apr 2026 - 13:00 WIB

Oplus_0

Uncategorized

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Rp2,9 Juta per Gram

Kamis, 2 Apr 2026 - 10:30 WIB