Jakarta – Kisah sukses datang dari wilayah perbatasan Komune Son Hong, Provinsi Ha Tinh, Vietnam. Di tengah tantangan ekonomi pedesaan, petani Le Duc Toan membangun model pertanian terpadu. Model ini menggabungkan energi terbarukan, peternakan, dan tanaman obat. Alhasil, usahanya menghasilkan pendapatan miliaran dong setiap tahun.
Latar Belakang Kehidupan yang Penuh Tantangan
Pada awalnya, Toan yang lahir pada 1974 tumbuh di daerah pegunungan. Ia beberapa kali gagal dalam usaha dan produksi. Selain itu, kebijakan penutupan hutan menghilangkan sumber penghasilan utamanya. Ia kemudian bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kemudian, pada 2015, ia melihat lahan warisan kakeknya seluas sekitar 2.000 meter persegi terbengkalai. Tanpa ragu, ia meminjam sekitar 2 miliar VND. Ia menggunakan dana itu untuk meratakan lahan dan membangun kandang. Ia juga memulai peternakan dengan 100 induk babi dan 50 ekor sapi.
Hampir Bangkrut Akibat Krisis Harga Babi
Namun demikian, krisis harga babi pada 2017–2018 hampir menghancurkan usahanya. Penurunan harga membuat banyak babi tidak laku di pasar.
Beruntung, masyarakat dan pemerintah setempat membantu Toan. Mereka membeli hasil ternaknya agar kerugian tidak semakin besar.
Meski begitu, tekanan utang membuat Toan meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Vietnam Selatan. Setelah beberapa waktu, ia kembali pada 2019 dan memulai usaha baru.
Bangkit Lewat Diversifikasi Usaha Pertanian
Selanjutnya, Toan mengalihkan fokus ke peternakan rusa. Ia juga memperluas lahan hingga 5 hektar. Saat ini, ia memelihara sekitar 100 induk babi, 80 rusa, dan 10 sapi.
Di sisi lain, ia menerapkan sistem tertutup. Ia memasang panel surya di bagian atas area peternakan. Ia menempatkan kandang ternak di bawahnya.
Sementara itu, ia memanfaatkan lahan kosong untuk menanam tanaman obat.
Ia menanam Centella asiatica atau pegagan di sekitar 4 hektar lahan. Ia menanam hampir 70.000 tanaman. Ia memakai tanaman itu untuk bahan obat dan minuman herbal.
Produksi Arak Beras Jadi Sumber Pendapatan Tambahan
Tidak hanya itu, Toan memproduksi arak beras. Setiap tahun, ia menghasilkan sekitar 15.000–20.000 liter arak. Ia menjual produk tersebut sekitar 70.000 VND per liter.
Dengan demikian, usaha ini menghasilkan sekitar 1,2–1,4 miliar VND per tahun. Saat ini, ia mengurus sertifikasi OCOP untuk produknya.
Pendapatan dari Peternakan dan Produk Turunan
Selain dari arak beras, pada 2024 keluarga Toan memperoleh sekitar 1,5 miliar VND dari penjualan bibit babi.
Lebih lanjut, Toan menjual rusa bibit dan tanduk rusa. Ia memperoleh lebih dari 300 juta VND per tahun dari penjualan tersebut.
Membuka Lapangan Kerja untuk Masyarakat Lokal
Menariknya, model pertanian ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Toan mempekerjakan 8 pekerja tetap. Ia memberi mereka gaji rata-rata 8 juta VND per bulan.
Bahkan, pada musim sibuk, Toan mempekerjakan hingga 30 pekerja tambahan.
Rencana Ekspansi Tanaman Obat
Ke depannya, Toan berencana memperluas budidaya hingga 20 hektar lahan hutan. Ia akan menanam tanaman obat seperti Ba Kich, Dinh Lang, dan Tram Gio.
Menurut Toan, tanaman obat memiliki potensi ekonomi besar. Ia menyadari hal itu setelah mengikuti pelatihan dari Asosiasi Petani setempat.
Diakui Sebagai Model Ekonomi Pertanian Contoh
Sementara itu, Sekretaris Komite Partai Komune Son Hong, Nguyen Thanh Dong, menilai model usaha Toan sebagai contoh keberhasilan ekonomi pertanian terpadu.
Menurut Dong, model ini menggabungkan peternakan, tanaman obat, produksi minuman tradisional, dan energi terbarukan dalam satu sistem usaha.
Desa Tembikar Bersiap Sambut Tết 2026
Di lokasi berbeda, desa tembikar Thanh Ha bersiap menyambut Tết 2026. Saat ini, para perajin menyelesaikan pesanan patung kuda. Akibatnya, dengan waktu kurang dari satu bulan menuju Tết, para perajin bekerja siang dan malam. Mereka menjadikan periode ini sebagai musim produksi paling sibuk sepanjang tahun.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









