JAKARTA – Harga sejumlah bahan pangan mulai menunjukkan tren penurunan pada Juli 2026. Kondisi tersebut diperkirakan menahan laju inflasi nasional dan memberi ruang bagi stabilitas harga menjelang akhir tahun. Meski begitu, para ekonom melihat tekanan dari inflasi inti masih terus meningkat akibat kenaikan biaya produksi, pergerakan nilai tukar rupiah, serta faktor musiman di sektor pendidikan.
Sejumlah komoditas seperti telur ayam, bawang merah, dan cabai merah tercatat mengalami penurunan harga sepanjang Juli. Karena itu, banyak ekonom memproyeksikan inflasi bulanan dan tahunan akan lebih rendah dibandingkan Juni 2026. Namun, pada saat yang sama, inflasi inti justru bergerak naik secara perlahan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi hanya berasal dari pangan bergejolak, tetapi juga dari faktor fundamental ekonomi. Kenaikan biaya produksi, penerusan pelemahan rupiah ke harga barang dan jasa, serta meningkatnya permintaan musiman menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian hingga akhir tahun.
Inflasi Juli Diprediksi Lebih Rendah dari Juni
Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (MtM). Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,3 persen atau year on year (YoY), sedangkan inflasi inti berada di level 2,76 persen (YoY).
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, memperkirakan inflasi Juli 2026 turun menjadi 0,08 persen secara bulanan dan 3,11 persen secara tahunan.
Menurut David, penurunan harga bahan pangan menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi. Telur ayam, bawang merah, dan cabai merah menjadi komoditas yang paling berkontribusi terhadap perlambatan tersebut.
Selain itu, David memperkirakan inflasi inti mencapai 0,16 persen secara bulanan dan 2,79 persen secara tahunan.
“Inflasi inti hanya mengalami kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya, terutama karena harga emas dan administered prices relatif stabil,” ujar David kepada Bisnis, Minggu (2/8/2026).
Apa yang Mendorong Kenaikan Inflasi Inti?
Inflasi inti mencerminkan komponen inflasi yang relatif stabil karena dipengaruhi faktor fundamental ekonomi. Komponen ini bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran, nilai tukar, serta ekspektasi masyarakat terhadap harga di masa depan.
Dalam perhitungan inflasi inti, pemerintah tidak memasukkan harga pangan yang mudah bergejolak maupun harga energi.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Faisal Rachman, memperkirakan inflasi Juli 2026 mencapai 0,05 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan.
Menurut Faisal, deflasi pada kelompok volatile foods membantu menahan inflasi. Namun, kenaikan harga tiket pesawat dan normalisasi pajak pertambahan nilai (PPN) setelah berakhirnya kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) masih mendorong inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah.
Di sisi lain, penurunan harga bahan bakar nonsubsidi ikut meredam tekanan tersebut.
Faisal juga memperkirakan inflasi inti meningkat tipis menjadi 2,80 persen (YoY).
“Kenaikan inflasi inti mencerminkan berlanjutnya penerusan inflasi dari sisi produsen ke harga konsumen serta peningkatan musiman pada barang dan jasa pendidikan,” kata Faisal.
Risiko Inflasi Masih Membayangi Akhir Tahun
Faisal menilai tekanan inflasi dari sisi pasokan masih berpotensi muncul hingga akhir 2026. Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2), kebijakan pro pertumbuhan, dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendorong permintaan masyarakat.
Selain itu, potensi kemunculan El Niño yang lebih kuat juga perlu dicermati karena dapat mengganggu produksi pertanian dan memicu kenaikan harga pangan.
Berbeda dengan dua ekonom sebelumnya, Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), Irman Faiz, justru memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 mencapai 3,54 persen.
Irman menyebut tiga faktor utama yang mendorong inflasi. Pertama, dampak penyesuaian harga energi dan tarif transportasi masih berlanjut. Kedua, pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi mulai mengerek harga barang dan jasa. Ketiga, musim kering masih memberi tekanan pada harga pangan meski pasokan beberapa komoditas mulai membaik.
Meski demikian, Irman menilai inflasi akhir tahun masih bergerak dalam kisaran target Bank Indonesia. Namun, laju inflasi berpotensi mendekati batas atas target apabila tekanan harga terus meningkat.
FAQ
Mengapa inflasi Juli 2026 diperkirakan melambat?
Karena harga sejumlah bahan pangan seperti telur, bawang merah, dan cabai merah mengalami penurunan.
Apa itu inflasi inti?
Inflasi inti merupakan inflasi yang dipengaruhi faktor fundamental ekonomi, seperti permintaan, penawaran, nilai tukar, dan ekspektasi harga.
Mengapa inflasi inti justru naik?
Kenaikan biaya produksi, pelemahan rupiah, serta faktor musiman, terutama sektor pendidikan, mendorong inflasi inti meningkat.
Apa risiko inflasi hingga akhir 2026?
Musim kering, potensi El Niño, pertumbuhan jumlah uang beredar, dan peningkatan permintaan domestik dapat mendorong inflasi lebih tinggi.(Tim)









