JAKARTA – Kementerian Sosial memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di 101 Sekolah Rakyat mulai Selasa, 14 Juli 2026. Program tersebut menjadi langkah awal bagi puluhan ribu siswa baru sebelum memasuki proses belajar di kelas.
Selain itu, Kemensos membagi pelaksanaan MPLS ke dalam empat gelombang. Langkah ini bertujuan menjaga kualitas layanan pendidikan sekaligus memastikan setiap sekolah memiliki fasilitas yang siap digunakan. Melalui skema tersebut, setiap siswa juga memperoleh kesempatan mengikuti orientasi secara maksimal.
Sementara itu, Kemensos menempatkan MPLS sebagai sarana untuk mengenalkan lingkungan sekolah, membangun karakter, serta menyiapkan kemampuan akademik dan sosial peserta didik sejak hari pertama.
Jumlah Siswa Baru Terus Bertambah
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan jumlah siswa baru Sekolah Rakyat terus meningkat seiring penetapan peserta didik oleh pemerintah daerah.
“Per hari ini ada 28.478 siswa baru dan akan terus bertambah seiring dengan penetapan dari Pemda dan juga nanti menyesuaikan dengan kesiapan sarana dan prasarana. Jika ditambah dengan siswa existing yang mulai proses pembelajaran tahun lalu, secara keseluruhan per hari ini ada 43.346 siswa dan ada 1.550 rombel (rombongan belajar),” kata Gus Ipul.
Saat ini, sebanyak 28.478 siswa baru telah terdaftar. Kemudian, jika digabung dengan siswa yang sudah lebih dulu belajar, jumlah peserta didik mencapai 43.346 orang yang tersebar dalam 1.550 rombongan belajar.
MPLS Berlangsung Selama 19 Hari
Selanjutnya, Kemensos hanya mengikutsertakan siswa baru dalam kegiatan MPLS. Setelah menyelesaikan orientasi, para siswa akan mengikuti matrikulasi sebelum bergabung dengan pembelajaran reguler.
Kemensos merancang rangkaian MPLS selama 19 hari. Seluruh sekolah menjalankan pola kegiatan yang sama agar setiap siswa memperoleh pengalaman belajar yang setara.
“101 Sekolah Rakyat seluruh gelombang mengikuti kerangka MPLS yang sama. 19 hari rangkaian, empat fase, dan tentu seluruh proses yang ada mempertimbangkan satu masa orientasi yang ramah anak,” ujarnya.
Empat Gelombang Sesuaikan Kesiapan Sekolah
Gelombang pertama dimulai pada 14 Juli 2026 di 19 Sekolah Rakyat permanen. Setelah itu, gelombang kedua berlangsung pada 31 Juli 2026 di 63 Sekolah Rakyat permanen.
Berikutnya, gelombang ketiga dimulai pada 15 Agustus 2026 di delapan Sekolah Rakyat rintisan baru yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Kemudian, gelombang keempat berlangsung pada 31 Agustus 2026 di 11 Sekolah Rakyat permanen.
Menurut Gus Ipul, pemerintah memilih pola bertahap karena setiap sekolah memiliki tingkat kesiapan yang berbeda. Oleh sebab itu, Kemensos menyesuaikan jadwal dengan kondisi sarana, prasarana, keamanan, kenyamanan, dan utilitas dasar di masing-masing lokasi.
“Sekolah Rakyat menganut pendekatan multy entry-multy exit. Siswa dapat masuk kapan pun sepanjang tahun ajaran berjalan, tidak terpaku pada satu titik waktu pendaftaran. Setiap siswa baru dari gelombang mana pun ia masuk akan lebih dulu menjalani matrikulasi sebelum mengikuti pembelajaran reguler bersama siswa existing,” kata Gus Ipul.
Materi MPLS Bangun Karakter Siswa
Selama MPLS, guru dan pendamping membantu siswa mengenali minat, bakat, kondisi kesehatan, serta kesiapan psikologis. Selain itu, siswa juga berkenalan dengan guru, wali asuh, pengelola asrama, dan kakak kelas.
Tidak hanya itu, sekolah juga mengenalkan kurikulum, media pembelajaran, aturan penggunaan fasilitas, serta kehidupan di lingkungan asrama. Para pendamping menyampaikan seluruh materi melalui metode interaktif agar siswa lebih mudah memahami setiap pembelajaran.
“Tiga puluh enam materi dalam tujuh kelompok tematik; A. Pengenalan lingkungan dan adaptasi 4 materi. B. Jati diri dan karakter, dinamika kelompok 4 materi. C. Literasi, numerasi, dan cara belajar 4 materi. D. Kesehatan, keselamatan, dan perlindungan 4 materi. E. Literasi digital dan bijak bermedia 3 materi. F. Kedisiplinan, kesamaptaan, dan bela negara 14 materi. G. Pencegahan perilaku berisiko seperti bullying, NAPZA, judi online 3 materi,” ujarnya.
Taruna TNI dan Polri Dampingi Lima Hari
Selama lima hari pertama, taruna TNI dan Polri mendampingi siswa untuk membangun kebiasaan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Pendampingan tersebut mencakup kebiasaan sederhana, mulai dari menata perlengkapan pribadi hingga menjaga kerapian.
“Pendampingan dari Taruna, Taruna TNI dan Polri. Mereka ini, anak-anak tua, adik-adik kita ini, mendampingi saja mengajari mereka bagaimana menempatkan, ya, barang-barang milik pribadi, perlengkapan sekolah, bagaimana misalnya menempatkan sepatu yang baik, yang benar. Jadi hal-hal yang menurut kita itu menjadi bagian dari menguatkan kedisiplinan siswa. Itu pun waktunya hanya lima hari,” kata Gus Ipul.
Selanjutnya, TNI dan Polri di daerah akan melatih siswa melalui kegiatan baris-berbaris, kepramukaan, dan aktivitas pembinaan karakter lainnya.
“Selebihnya kita juga bekerja sama dengan TNI atau Polri setempat untuk melatih mereka baris-berbaris, atau mungkin kepramukaan, dan lain-lainnya yang memang itu menjadi bagian dari pembelajaran di Sekolah Rakyat. Ya. Jadi ini sekali lagi itu adalah semacam KKN-nya Taruna, KKN-nya Taruna TNI maupun Polri,” imbuhnya.
Kemensos Terapkan Nol Toleransi terhadap Bullying
Di sisi lain, Kemensos juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan seluruh siswa selama mengikuti MPLS maupun proses belajar di Sekolah Rakyat.
Karena itu, Kemensos tidak memberikan ruang bagi pelaku kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, maupun tindakan intoleransi. Setiap pelanggaran akan mendapat sanksi sesuai aturan yang berlaku.
“Sekolah Rakyat sungguh-sungguh berusaha keras agar tidak terjadi kekerasan, tidak ada kekerasan seksual maupun kekerasan fisik, tidak ada perundungan atau bullying, dan terakhir tidak ada tindakan intoleransi,” ucapnya.(Tim)









