JAKARTA – Fenomena sarjana menganggur di Indonesia kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan mengeluhkan sulit menemukan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan industri. Namun, di sisi lain, sejumlah lulusan pendidikan tinggi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan besar dalam hubungan antara dunia pendidikan dan pasar kerja. Lulusan tidak hanya menghadapi persaingan, tetapi juga tantangan ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch yang membuat kemampuan mereka belum sepenuhnya menjawab kebutuhan perusahaan.
Masalah ini muncul karena perubahan dunia kerja bergerak jauh lebih cepat dibandingkan penyesuaian sistem pendidikan. Perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, hingga ekonomi hijau terus mengubah kebutuhan industri, sementara proses pembaruan pembelajaran membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Dunia Pendidikan dan Industri Belum Berjalan Seirama
Peneliti utama SMERU Research Institute Asep Suryahadi menjelaskan, tantangan utama dalam menyiapkan tenaga kerja terjadi karena dunia industri terus berubah.
Menurut dia, banyak keterampilan yang dipelajari mahasiswa atau siswa bisa kehilangan relevansi ketika mereka memasuki dunia kerja. Hal itu terjadi karena industri memperbarui teknologi dan metode kerja dalam waktu yang lebih cepat.
“Akibatnya, keahlian yang diajarkan di kelas sering kali sudah ketinggalan saat siswa lulus,” kata Asep.
Selain itu, ia menilai sejumlah lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi masih membuka program berdasarkan kemampuan internal, seperti ketersediaan instruktur dan fasilitas. Padahal, kebutuhan pasar kerja seharusnya menjadi pertimbangan utama.
Akibatnya, lulusan bisa memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi belum tentu memiliki keterampilan praktis yang perusahaan perlukan.
Link and Match Masih Menghadapi Tantangan
Konsep link and match yang sudah lama diperkenalkan bertujuan mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan lulusan. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai kendala.
Asep menyebut industri belum selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan standar kompetensi, materi pembelajaran, hingga pengembangan fasilitas praktik.
Padahal, keterlibatan perusahaan dapat membantu sekolah dan kampus menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi lapangan.
Di sisi lain, pendidikan vokasi juga membutuhkan biaya besar. Sekolah memerlukan mesin, perangkat lunak, dan laboratorium yang mengikuti perkembangan industri modern.
Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, siswa berpotensi berlatih menggunakan peralatan yang sudah tidak sesuai dengan teknologi terbaru.
Selain fasilitas, peningkatan kemampuan guru dan instruktur juga menjadi tantangan. Tenaga pengajar perlu mengikuti perkembangan industri agar materi yang diberikan tetap relevan.
Pengangguran Lulusan Bukan Hanya Masalah Kualitas
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengatakan persoalan tenaga kerja perlu dilihat dari sisi pasokan dan permintaan.
Menurut dia, anggapan bahwa pengangguran terjadi hanya karena kualitas lulusan yang rendah tidak sepenuhnya tepat.
“Pasar kerja Indonesia terus menyerap tenaga kerja, tapi ekspansinya tidak identik dengan ekspansi pekerjaan formal yang relevan bagi lulusan Perguruan Tinggi (PT),” ujar Suhindarto.
Ia menjelaskan, tingkat pengangguran masih muncul pada kelompok lulusan SMA, vokasi, hingga perguruan tinggi. Hal tersebut menunjukkan pendidikan belum otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
Bahkan, jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan beberapa negara lain. Namun, sebagian dari mereka tetap menghadapi risiko menganggur atau bekerja pada posisi yang tidak sesuai latar belakang pendidikan.
Industri Berkualitas Jadi Kunci Ciptakan Lapangan Kerja
Suhindarto melihat persoalan lain muncul dari kondisi industri nasional. Menurutnya, Indonesia menghadapi fenomena deindustrialisasi dini ketika sektor manufaktur belum berkembang secara maksimal.
Padahal, sektor industri biasanya mampu menciptakan pekerjaan formal dengan kualitas yang lebih tinggi.
“Jadi saya melihat bahwa terjadi kegagalan ko-evolusi (co-evolution) antara industri dan sistem pendidikan kita,” terang dia.
Ia mencontohkan negara seperti Korea Selatan, Polandia, dan Taiwan yang berhasil memperkuat ekonomi karena industri dan pendidikan berkembang secara bersamaan.
Negara-negara tersebut tidak hanya memperbaiki kurikulum, tetapi juga memastikan industri mampu menyerap tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.
FAQ
1. Apa penyebab utama sarjana sulit mendapatkan pekerjaan?
Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan perusahaan atau skill mismatch.
2. Apakah pendidikan tinggi tidak menjamin pekerjaan?
Pendidikan tinggi membantu meningkatkan peluang kerja, tetapi tetap membutuhkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
3. Mengapa perusahaan kesulitan mencari karyawan?
Sebagian perusahaan membutuhkan kemampuan khusus yang belum banyak dimiliki pencari kerja.
4. Bagaimana cara mengurangi pengangguran terdidik?
Perlu kerja sama antara kampus, sekolah, pemerintah, dan industri agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
5. Apakah pendidikan vokasi bisa menjadi solusi?
Pendidikan vokasi dapat membantu jika kurikulum, fasilitas, dan kompetensi pengajar mengikuti perkembangan industri.(Tim)









