Banyak Sarjana Tak Terserap, Industri Justru Kekurangan Talenta yang Sesuai Kebutuhan

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Fenomena sarjana menganggur di Indonesia kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan mengeluhkan sulit menemukan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan industri. Namun, di sisi lain, sejumlah lulusan pendidikan tinggi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan besar dalam hubungan antara dunia pendidikan dan pasar kerja. Lulusan tidak hanya menghadapi persaingan, tetapi juga tantangan ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch yang membuat kemampuan mereka belum sepenuhnya menjawab kebutuhan perusahaan.

Masalah ini muncul karena perubahan dunia kerja bergerak jauh lebih cepat dibandingkan penyesuaian sistem pendidikan. Perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, hingga ekonomi hijau terus mengubah kebutuhan industri, sementara proses pembaruan pembelajaran membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Dunia Pendidikan dan Industri Belum Berjalan Seirama

Peneliti utama SMERU Research Institute Asep Suryahadi menjelaskan, tantangan utama dalam menyiapkan tenaga kerja terjadi karena dunia industri terus berubah.

Menurut dia, banyak keterampilan yang dipelajari mahasiswa atau siswa bisa kehilangan relevansi ketika mereka memasuki dunia kerja. Hal itu terjadi karena industri memperbarui teknologi dan metode kerja dalam waktu yang lebih cepat.

“Akibatnya, keahlian yang diajarkan di kelas sering kali sudah ketinggalan saat siswa lulus,” kata Asep.

Selain itu, ia menilai sejumlah lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi masih membuka program berdasarkan kemampuan internal, seperti ketersediaan instruktur dan fasilitas. Padahal, kebutuhan pasar kerja seharusnya menjadi pertimbangan utama.

Akibatnya, lulusan bisa memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi belum tentu memiliki keterampilan praktis yang perusahaan perlukan.

Baca Juga :  Lapangan Kerja Baru Hadir untuk Generasi Indonesia

Link and Match Masih Menghadapi Tantangan

Konsep link and match yang sudah lama diperkenalkan bertujuan mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan lulusan. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai kendala.

Asep menyebut industri belum selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan standar kompetensi, materi pembelajaran, hingga pengembangan fasilitas praktik.

Padahal, keterlibatan perusahaan dapat membantu sekolah dan kampus menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi lapangan.

Di sisi lain, pendidikan vokasi juga membutuhkan biaya besar. Sekolah memerlukan mesin, perangkat lunak, dan laboratorium yang mengikuti perkembangan industri modern.

Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, siswa berpotensi berlatih menggunakan peralatan yang sudah tidak sesuai dengan teknologi terbaru.

Selain fasilitas, peningkatan kemampuan guru dan instruktur juga menjadi tantangan. Tenaga pengajar perlu mengikuti perkembangan industri agar materi yang diberikan tetap relevan.

Pengangguran Lulusan Bukan Hanya Masalah Kualitas

Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengatakan persoalan tenaga kerja perlu dilihat dari sisi pasokan dan permintaan.

Menurut dia, anggapan bahwa pengangguran terjadi hanya karena kualitas lulusan yang rendah tidak sepenuhnya tepat.

“Pasar kerja Indonesia terus menyerap tenaga kerja, tapi ekspansinya tidak identik dengan ekspansi pekerjaan formal yang relevan bagi lulusan Perguruan Tinggi (PT),” ujar Suhindarto.

Ia menjelaskan, tingkat pengangguran masih muncul pada kelompok lulusan SMA, vokasi, hingga perguruan tinggi. Hal tersebut menunjukkan pendidikan belum otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Bahkan, jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan beberapa negara lain. Namun, sebagian dari mereka tetap menghadapi risiko menganggur atau bekerja pada posisi yang tidak sesuai latar belakang pendidikan.

Baca Juga :  Gelombang PHK 2026 Capai 8.389 Orang, Jabar Penyumbang Terbesar

Industri Berkualitas Jadi Kunci Ciptakan Lapangan Kerja

Suhindarto melihat persoalan lain muncul dari kondisi industri nasional. Menurutnya, Indonesia menghadapi fenomena deindustrialisasi dini ketika sektor manufaktur belum berkembang secara maksimal.

Padahal, sektor industri biasanya mampu menciptakan pekerjaan formal dengan kualitas yang lebih tinggi.

“Jadi saya melihat bahwa terjadi kegagalan ko-evolusi (co-evolution) antara industri dan sistem pendidikan kita,” terang dia.

Ia mencontohkan negara seperti Korea Selatan, Polandia, dan Taiwan yang berhasil memperkuat ekonomi karena industri dan pendidikan berkembang secara bersamaan.

Negara-negara tersebut tidak hanya memperbaiki kurikulum, tetapi juga memastikan industri mampu menyerap tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.

FAQ

1. Apa penyebab utama sarjana sulit mendapatkan pekerjaan?

Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan perusahaan atau skill mismatch.

2. Apakah pendidikan tinggi tidak menjamin pekerjaan?

Pendidikan tinggi membantu meningkatkan peluang kerja, tetapi tetap membutuhkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.

3. Mengapa perusahaan kesulitan mencari karyawan?

Sebagian perusahaan membutuhkan kemampuan khusus yang belum banyak dimiliki pencari kerja.

4. Bagaimana cara mengurangi pengangguran terdidik?

Perlu kerja sama antara kampus, sekolah, pemerintah, dan industri agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

5. Apakah pendidikan vokasi bisa menjadi solusi?

Pendidikan vokasi dapat membantu jika kurikulum, fasilitas, dan kompetensi pengajar mengikuti perkembangan industri.(Tim)

Berita Terkait

Promo Shopee 21 Juni 2026 Bikin Heboh, Mie Gacoan Rp1 hingga Diskon Besar Menanti Pemburu Cuan
Tembus 1 Juta UMK, Sertifikasi Halal Gratis Jadi Senjata Baru Pelaku Usaha Rebut Pasar Lebih Luas
Harga Emas Perhiasan Melonjak Hari Ini 20 Juni 2026, Selisih Kadar 5K dan 24K Hampir Rp1,9 Juta per Gram
Mulai Juli 2026, BI Perketat Beli Dolar, Transaksi di Atas US$10 Ribu Wajib Dokumen
Harga Emas Antam di Pegadaian Pecah Level Rp2,78 Juta, Investor Langsung Pasang Mata
Rp418 Triliun Mengalir dari BI, Bank BUMN Jadi Penerima Terbesar Insentif Likuiditas
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar
Nasabah Kartu Kredit Dapat Angin Segar, BI Pertahankan Keringanan Pembayaran hingga Pengujung 2026
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:00 WIB

Promo Shopee 21 Juni 2026 Bikin Heboh, Mie Gacoan Rp1 hingga Diskon Besar Menanti Pemburu Cuan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:44 WIB

Tembus 1 Juta UMK, Sertifikasi Halal Gratis Jadi Senjata Baru Pelaku Usaha Rebut Pasar Lebih Luas

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:00 WIB

Banyak Sarjana Tak Terserap, Industri Justru Kekurangan Talenta yang Sesuai Kebutuhan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:30 WIB

Harga Emas Perhiasan Melonjak Hari Ini 20 Juni 2026, Selisih Kadar 5K dan 24K Hampir Rp1,9 Juta per Gram

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:00 WIB

Mulai Juli 2026, BI Perketat Beli Dolar, Transaksi di Atas US$10 Ribu Wajib Dokumen

Berita Terbaru