JAKARTA – Raksasa otomotif asal Jepang, Honda, tengah menghadapi momen yang belum pernah terjadi dalam hampir tujuh dekade terakhir. Perusahaan tersebut dilaporkan mencatat kerugian operasional besar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, menandai pertama kalinya sejak era modern pasar modal bahwa Honda berada di zona merah.
Kondisi ini menjadi sorotan karena selama ini Honda dikenal sebagai salah satu produsen otomotif paling stabil di dunia, terutama di sektor mobil dan sepeda motor.
Tekanan Besar dari Strategi Kendaraan Listrik
Salah satu faktor utama yang menekan kinerja Honda adalah strategi agresif mereka di segmen kendaraan listrik (EV). Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menggelontorkan investasi besar untuk mempercepat transisi dari mesin konvensional ke EV.
Namun, pasar ternyata tidak berkembang secepat perkiraan awal. Permintaan kendaraan listrik cenderung lebih fluktuatif, sementara biaya pengembangan dan restrukturisasi terus membengkak.
Akibatnya, beban finansial dari proyek EV menjadi salah satu penyumbang terbesar kerugian perusahaan.
Angka Kerugian yang Mengguncang
Dalam laporan terbaru, Honda mengalami kerugian operasional ratusan miliar yen yang jika dikonversi mencapai puluhan triliun rupiah. Angka ini kontras tajam dibandingkan tahun sebelumnya ketika perusahaan masih membukukan laba besar.
Beban restrukturisasi bisnis EV disebut mencapai nilai miliaran dolar, menambah tekanan pada neraca keuangan perusahaan.
Kebijakan Global dan Pasar yang Berubah Cepat
Selain faktor internal, perubahan kebijakan di beberapa negara besar turut memperburuk situasi. Insentif kendaraan listrik di Amerika Serikat dikurangi, sementara kebijakan perdagangan dan tarif juga menciptakan ketidakpastian baru bagi produsen otomotif global.
Kondisi ini membuat proyeksi penjualan EV Honda di pasar utama menjadi tidak sesuai harapan.
Revisi Strategi Besar-besaran
Menghadapi tekanan tersebut, Honda mulai melakukan penyesuaian strategi jangka panjang. Target ambisius untuk menjadikan porsi besar penjualan mobil berasal dari kendaraan listrik pada dekade mendatang kini direvisi.
Perusahaan juga menghentikan sementara sejumlah proyek investasi besar, termasuk fasilitas produksi EV dan baterai di luar negeri, sambil mengevaluasi ulang arah pengembangan teknologi mereka.
Fokus Bergeser ke Hybrid dan Efisiensi
Sebagai langkah penyeimbang, Honda kini lebih menekankan pengembangan kendaraan hybrid yang dianggap lebih realistis dalam kondisi pasar saat ini. Teknologi ini dipandang sebagai jembatan antara mesin bensin dan kendaraan listrik penuh.
Selain itu, efisiensi biaya operasional menjadi prioritas utama untuk memperbaiki kinerja keuangan dalam jangka pendek.
Bisnis Sepeda Motor Jadi Penopang Utama
Meski bisnis mobil mengalami tekanan, Honda masih memiliki sumber kekuatan lain, yakni segmen sepeda motor. Penjualan motor di pasar berkembang seperti India dan Brasil tetap menunjukkan performa yang solid.
Segmen ini bahkan menjadi penyangga utama pendapatan perusahaan di tengah perlambatan industri mobil global.
Proyeksi dan Harapan Pemulihan
Meski sedang berada dalam tekanan besar, Honda tetap menargetkan pemulihan dalam periode fiskal berikutnya. Perusahaan berharap kombinasi antara efisiensi, stabilisasi pasar EV, dan kekuatan bisnis roda dua dapat mengembalikan profitabilitas.
Situasi ini sekaligus menjadi cerminan bahwa transisi industri otomotif menuju elektrifikasi tidak berjalan linier, melainkan penuh tantangan dan penyesuaian strategi di tengah jalan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









