Surplus 70 Bulan Beruntun, Ekspor Nikel dan Sawit Jadi Motor Kuat Ekonomi RI

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA — Indonesia kembali mencatat kinerja perdagangan luar negeri yang kuat di awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga Februari 2026. Capaian ini memperlihatkan ketahanan ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Surplus Panjang, Sinyal Positif Ekonomi

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai tren surplus panjang ini memberi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Ia menyebut peningkatan ekspor menjadi faktor utama yang menjaga neraca perdagangan tetap berada di zona positif.

Faisal menjelaskan bahwa struktur ekspor Indonesia kini berubah cukup signifikan. Beberapa komoditas mengalami kenaikan nilai ekspor yang cukup besar sehingga menopang surplus secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Hilirisasi Dorong Kinerja Ekspor

Faisal menyoroti peran hilirisasi industri sebagai pendorong utama peningkatan ekspor, terutama pada komoditas berbasis sumber daya alam. Ia menyebut produk besi dan baja serta turunan nikel menjadi kontributor terbesar dalam surplus perdagangan Indonesia.

Namun, ia menilai sebagian besar ekspor tersebut masih berada pada tahap pengolahan awal. Menurutnya, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan nilai tambah dengan memperdalam proses hilirisasi ke tahap produk jadi.

Baca Juga :  B50 Mulai Juli 2026, KAI Siap Gunakan Biodiesel Sawit

Jika pemerintah dan pelaku industri berhasil memperkuat hilirisasi, ia memperkirakan kontribusi ekspor terhadap perekonomian nasional akan meningkat lebih besar lagi.

Surplus Diprediksi Berlanjut

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan tren surplus neraca perdagangan Indonesia masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Ia bahkan memproyeksikan surplus pada Maret 2026 bisa meningkat menjadi sekitar US$ 2,77 miliar.

Josua menjelaskan bahwa peningkatan permintaan dari negara mitra dagang menjadi pendorong utama. Beberapa negara disebut mempercepat pembelian dan meningkatkan stok untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga serta gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Komoditas Ekspor Penopang Utama

Berdasarkan data BPS, surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari–Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Surplus ini terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatatkan surplus US$ 5,42 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit US$ 3,19 miliar.

Baca Juga :  IHSG Menguat Tipis Hari Ini, Investor Fokus Sentimen Global dan Arah Suku Bunga

Beberapa komoditas utama yang menopang surplus antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan produk turunannya, serta alas kaki. Komoditas minyak nabati mencatat kontribusi terbesar dengan nilai surplus mencapai US$ 6,49 miliar.

Amerika Serikat dan India Jadi Mitra Utama

Dari sisi negara tujuan ekspor, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai sekitar US$ 3,11 miliar. India menyusul di posisi kedua dengan surplus US$ 2,29 miliar, kemudian Filipina dengan US$ 1,54 miliar.

Ketiga negara tersebut menjadi pasar penting bagi produk ekspor Indonesia, terutama komoditas berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan.

Prospek Ekonomi dan Tantangan

Meski mencatat kinerja positif, sejumlah ekonom menilai Indonesia masih perlu memperkuat diversifikasi ekspor dan meningkatkan nilai tambah industri. Ketergantungan pada komoditas mentah dinilai masih menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan surplus jangka panjang.

Dengan tren ekspor yang masih kuat, Indonesia diperkirakan tetap mampu menjaga surplus perdagangan, namun tetap perlu mengantisipasi dinamika geopolitik dan fluktuasi permintaan global.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Harga Emas Antam 1 Mei 2026 Bergerak Tipis, Investor Tunggu Update Terbaru
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 18:00 WIB

Surplus 70 Bulan Beruntun, Ekspor Nikel dan Sawit Jadi Motor Kuat Ekonomi RI

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:27 WIB

Harga Emas Antam 1 Mei 2026 Bergerak Tipis, Investor Tunggu Update Terbaru

Berita Terbaru