Potensi Energi Hijau RI Besar, Tapi Terkendala Jarak dan Infrastruktur

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Indonesia menyimpan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar. Namun, pemerintah mengakui pemanfaatannya masih menghadapi tantangan serius, terutama karena lokasi sumber energi tidak sejalan dengan pusat kebutuhan industri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut ketidaksinkronan ini menjadi hambatan utama percepatan transisi energi bersih di Tanah Air.

Sumber Energi Bersih Tak Dekat Pusat Industri

Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis ESDM, Andriah Feby Misna, menjelaskan bahwa banyak sumber energi hijau seperti tenaga air, panas bumi, dan angin berada jauh dari kawasan industri.

Ia menegaskan, kondisi itu membuat banyak industri yang sebenarnya ingin memakai listrik hijau justru kesulitan mendapatkan akses.

“Pengembangan energi dan industri belum terintegrasi. Banyak industri butuh energi terbarukan, tapi tidak bisa mengaksesnya,” ujar Andriah dalam diskusi di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Masalah Utama: Jarak dan Infrastruktur Transmisi

Menurut ESDM, karakteristik EBT yang tidak bisa dipindahkan menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan pembangkit berbasis fosil, pembangkit EBT harus berada di lokasi sumber daya alam.

Baca Juga :  Harga BBM 18 Mei 2026 di Jambi Stabil: Subsidi, Non-Subsidi Ikuti Tren Global

Akibatnya, pemerintah harus membangun jaringan transmisi listrik jarak jauh untuk menyalurkan energi ke pusat industri. Biaya pembangunan infrastruktur ini sangat tinggi dan memerlukan waktu panjang.

Konsep Renewable Energy Zone Jadi Solusi Baru

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mulai mengkaji konsep Renewable Energy Zone (REZ). Skema ini mengintegrasikan perencanaan lokasi pembangkit EBT dengan kawasan industri sejak awal.

ESDM menilai konsep ini bisa mempercepat perizinan, memberikan kepastian permintaan listrik, sekaligus menarik minat investor.

“REZ bisa jadi instrumen untuk menyatukan perencanaan energi dan industri,” kata Andriah.

PLN Ungkap Tantangan di Lapangan

EVP Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN, Arief Sugiyanto, turut memaparkan kondisi di lapangan. Ia mencontohkan wilayah Sulawesi dan Kalimantan yang menunjukkan ketimpangan antara sumber energi dan pusat industri.

Di Sulawesi, misalnya, sejumlah smelter berada di wilayah selatan dan tenggara. Namun, sebagian besar pembangkit listrik tenaga air justru berada di Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.

“Energi harus kami kirim lewat jaringan transmisi yang panjang ke lokasi industri,” ujar Arief.

Baca Juga :  Amerika Panen di Tengah Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor Tertinggi

Masalah Lahan Hambat Pembangunan Transmisi

Selain jarak, PLN juga menghadapi kendala pembebasan lahan. Di wilayah padat seperti Pulau Jawa, pengembang sering kesulitan mendapatkan lahan untuk membangun infrastruktur energi.

Arief menyebut, konflik penggunaan lahan kerap muncul antara kebutuhan pembangkit listrik dan ekspansi industri.

“Di satu sisi lahan bisa dipakai untuk PLTS, tapi di sisi lain industri juga butuh ekspansi. Ini jadi dilema di lapangan,” katanya.

Pemerintah Dorong Integrasi Energi dan Industri

Pemerintah menilai percepatan energi hijau tidak cukup hanya dengan membangun pembangkit. Integrasi perencanaan antara sektor energi dan industri menjadi kunci utama.

Dengan pengembangan kawasan berbasis REZ, pemerintah berharap investasi energi bersih bisa meningkat, biaya transmisi bisa ditekan, dan target transisi energi nasional bisa tercapai lebih cepat.

Meski tantangan masih besar, Indonesia tetap memiliki peluang kuat untuk menjadi salah satu pemain utama energi hijau di kawasan, asalkan integrasi perencanaan berjalan lebih efektif.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar
Pertamax Green 95 Tembus 180 SPBU, Pertamina Buka Akses BBM Ramah Lingkungan Lebih Luas
Bensin Campuran Etanol 20 Persen Makin Dekat, Pemerintah Ajak Industri Otomotif Uji Ketahanan Mesin
Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya
B50 Siap Meluncur Juli 2026, Hasil Uji Coba Lebih Baik dari B40
Indonesia Siapkan CNG 3 Kg Gantikan LPG, Hemat Subsidi hingga 40% dan Energi Lebih Mandiri
Listrik Sering Terganggu, Pengelola Kawasan Industri Peringatkan Risiko Besar bagi Investasi Nasional
Prabowo Beri Lampu Hijau, JK Siapkan Investasi Rp70 Triliun untuk Tambah Listrik 2.000 MW Demi Kejar Ekonomi 8 Persen
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:00 WIB

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:00 WIB

Pertamax Green 95 Tembus 180 SPBU, Pertamina Buka Akses BBM Ramah Lingkungan Lebih Luas

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:00 WIB

Bensin Campuran Etanol 20 Persen Makin Dekat, Pemerintah Ajak Industri Otomotif Uji Ketahanan Mesin

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya

Senin, 15 Juni 2026 - 22:19 WIB

B50 Siap Meluncur Juli 2026, Hasil Uji Coba Lebih Baik dari B40

Berita Terbaru