Bobibos Diuji Lemigas, Pemerintah Pastikan Standar dan Keamanan Sebelum Dipasarkan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah mulai menguji bahan bakar alternatif bernama Bobibos untuk memastikan standar, keamanan, dan klasifikasinya sebelum beredar luas di pasar. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM mendorong proses ini berjalan cepat dan transparan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Noor Arifin Muhammad menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan posisi Bobibos secara jelas, apakah masuk kategori bahan bakar nabati atau bahan bakar minyak.

“Kami menindaklanjuti pertemuan sebelumnya dengan fokus pada rencana uji laboratorium dan standardisasi produk sebelum digunakan secara luas,” ujar Noor dalam keterangan resmi, Sabtu (25/4/2026).

Uji Awal Fokus Karakter Dasar

Produsen Bobibos, PT Inti Sinergi Formula, langsung menyiapkan tahapan pengujian bersama Lemigas. Tim akan memulai uji awal di laboratorium untuk melihat karakter dasar bahan bakar tersebut.

Founder Bobibos, M Iklas Thamrin, menjelaskan bahwa tim akan menguji berbagai aspek penting sejak tahap awal. Pengujian mencakup sifat fisika dan kimia, stabilitas bahan, hingga kompatibilitas dengan mesin kendaraan.

“Kami juga menguji kemudahan aliran bahan bakar, kualitas penyalaan, serta tingkat korosivitas,” kata Iklas.

Baca Juga :  ESDM Kaji Penahanan Ekspor Minyak Mentah untuk Perkuat Stok Nasional

Tim Lemigas juga akan mengambil sampel langsung dari tangki penyimpanan di beberapa titik. Petugas menggunakan wadah tersertifikasi dan melengkapi proses dengan berita acara pemeriksaan agar hasil tetap akuntabel.

Uji Lanjutan: Emisi dan Performa Mesin

Setelah uji laboratorium selesai, tim akan melanjutkan pengujian ke tahap performa. Pada tahap ini, Bobibos akan menjalani pengujian emisi gas buang, daya tahan mesin, dan potensi pembentukan residu pembakaran.

Pengujian tidak berhenti di situ. Tim juga akan menjalankan uji mesin (test bench) untuk melihat performa teknis secara lebih detail. Setelah itu, Bobibos akan masuk tahap uji jalan guna mengukur kinerja di kondisi nyata.

“Hasil dari seluruh rangkaian uji ini akan menjadi dasar penilaian teknis pemerintah,” ujar Iklas.

Tentukan Klasifikasi Energi Baru

Pemerintah menaruh perhatian besar pada hasil pengujian ini karena akan menentukan arah kebijakan energi ke depan. Data yang terkumpul akan membantu pemerintah menetapkan apakah Bobibos termasuk bahan bakar eksisting atau jenis energi baru.

“Dari hasil uji, kami akan menentukan klasifikasi produk serta parameter yang sesuai,” kata Noor.

Baca Juga :  Uji Coba B50 Tembus 40.000 Km, Mesin Aman dan Emisi Lebih Bersih

Jika Bobibos masuk kategori bahan bakar nabati murni, maka produk ini berpotensi memperkuat transisi energi bersih di Indonesia. Namun, pemerintah tetap menunggu hasil uji menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Gunakan Standar Internasional

Seluruh proses pengujian mengikuti standar internasional untuk menjamin validitas hasil. Tim menggunakan metode ASTM D4057 dalam pengambilan sampel bahan bakar.

Standar ini umum digunakan secara global untuk memastikan kualitas dan konsistensi pengujian bahan bakar.

Pemerintah meminta produsen aktif berkoordinasi dan segera menindaklanjuti seluruh tahapan teknis. Langkah ini penting agar proses berjalan cepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Arah Kebijakan Energi Nasional

Hasil uji Bobibos tidak hanya menentukan kelayakan produk, tetapi juga membuka peluang riset lanjutan di sektor energi. Pemerintah akan menggunakan data tersebut sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan energi nasional.

Dengan meningkatnya kebutuhan energi dan dorongan menuju sumber energi ramah lingkungan, kehadiran bahan bakar alternatif seperti Bobibos bisa menjadi opsi strategis—selama memenuhi standar keamanan dan performa.

Pemerintah menargetkan seluruh proses uji berjalan tuntas sebelum produk masuk tahap komersialisasi.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar
Pertamax Green 95 Tembus 180 SPBU, Pertamina Buka Akses BBM Ramah Lingkungan Lebih Luas
Bensin Campuran Etanol 20 Persen Makin Dekat, Pemerintah Ajak Industri Otomotif Uji Ketahanan Mesin
Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya
B50 Siap Meluncur Juli 2026, Hasil Uji Coba Lebih Baik dari B40
Indonesia Siapkan CNG 3 Kg Gantikan LPG, Hemat Subsidi hingga 40% dan Energi Lebih Mandiri
Listrik Sering Terganggu, Pengelola Kawasan Industri Peringatkan Risiko Besar bagi Investasi Nasional
Prabowo Beri Lampu Hijau, JK Siapkan Investasi Rp70 Triliun untuk Tambah Listrik 2.000 MW Demi Kejar Ekonomi 8 Persen
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:00 WIB

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:00 WIB

Pertamax Green 95 Tembus 180 SPBU, Pertamina Buka Akses BBM Ramah Lingkungan Lebih Luas

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:00 WIB

Bensin Campuran Etanol 20 Persen Makin Dekat, Pemerintah Ajak Industri Otomotif Uji Ketahanan Mesin

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya

Senin, 15 Juni 2026 - 22:19 WIB

B50 Siap Meluncur Juli 2026, Hasil Uji Coba Lebih Baik dari B40

Berita Terbaru