Eropa Kurangi Impor CPO, Gapki Pastikan Dampaknya Tak Ancam Ekspor Sawit RI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Penurunan impor minyak sawit mentah (CPO) oleh Uni Eropa akibat isu lingkungan belum mengguncang ekspor Indonesia secara signifikan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai kontribusi pasar Eropa relatif kecil dibandingkan total ekspor nasional.

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menegaskan ekspor ke Eropa saat ini hanya sekitar 10 persen atau setara 3,2 juta ton. Angka tersebut jauh di bawah ekspor ke China yang mencapai 5,9 juta ton.

“Eropa masih membutuhkan sawit Indonesia. Peluang tetap terbuka untuk ditingkatkan,” ujar Eddy, Kamis (23/4/2026).

Pasar Eropa Menyusut, Dampak Terasa di Nilai

Penurunan permintaan dari Eropa tidak langsung memicu kelebihan pasokan. Pemerintah masih menjaga keseimbangan melalui program biodiesel B50 yang menyerap produksi dalam negeri.

Meski begitu, tekanan tetap muncul pada sisi nilai ekspor. Pengamat dari Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) menilai tren ini bukan fenomena sementara, melainkan perubahan struktural.

Baca Juga :  Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026

Kebijakan energi hijau dan aturan lingkungan di Eropa mendorong pengurangan konsumsi sawit. Kondisi ini membuat Indonesia berpotensi kehilangan pasar premium.

“Masalahnya bukan kehilangan pasar utama, tetapi kehilangan pasar dengan harga tinggi,” ujar peneliti CORE.

Diversifikasi Ekspor Jadi Penyelamat

Indonesia mengalihkan ekspor ke negara lain seperti India, China, dan Pakistan. Langkah ini menjaga volume ekspor tetap stabil.

Namun, pasar alternatif tersebut tidak menawarkan harga setinggi Eropa. Akibatnya, margin keuntungan cenderung menyusut meski volume tetap terjaga.

Situasi ini juga meningkatkan ketergantungan pada beberapa negara tujuan. Jika negara tersebut mengubah kebijakan impor, risiko terhadap ekspor Indonesia bisa meningkat.

Peran Biodiesel Tahan Tekanan Pasar

Program biodiesel B50 berperan penting dalam menyerap produksi sawit domestik. Program ini menjaga stabilitas pasokan di tengah melemahnya permintaan global.

Selama harga global tidak jatuh tajam, stok dalam negeri masih terkendali. Namun, tekanan bisa meningkat jika penurunan harga terjadi bersamaan dengan turunnya ekspor.

Baca Juga :  Permintaan Sawit China Melemah, Harga Global Tertekan

Petani Hadapi Risiko Terbesar

Dampak jangka panjang paling besar berpotensi dirasakan petani. Petani yang belum memenuhi standar keberlanjutan dan ketertelusuran menghadapi harga jual lebih rendah.

Sebaliknya, pelaku yang sudah terintegrasi dalam rantai pasok global memiliki posisi lebih kuat. Mereka bisa mempertahankan akses ke pasar premium meski regulasi makin ketat.

Tantangan Standar Lingkungan Global

Pengetatan regulasi seperti aturan deforestasi di Eropa memaksa industri sawit beradaptasi. Pelaku usaha harus meningkatkan transparansi dan praktik berkelanjutan.

Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan daya saing di pasar global, terutama di segmen bernilai tinggi.

Kesimpulan

Penurunan impor CPO dari Eropa belum mengancam volume ekspor Indonesia. Namun, tekanan terhadap nilai dan margin mulai terasa. Industri sawit kini menghadapi tantangan baru: menjaga daya saing di tengah tuntutan standar lingkungan yang semakin ketat.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Pemkab Dharmasraya Rampungkan Lapak UMKM di Sungai Duo, Peluang Usaha Warga Terbuka
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang

Berita Terbaru

Oplus_0

Pesisir Selatan

Kominfo Merangin Intip Rahasia Digital Pessel, Indeks SPBE Tembus 4,63

Kamis, 29 Okt 2026 - 15:44 WIB

Oplus_0

Dharmasraya

Ratusan Siswa Dharmasraya Terima Beasiswa, Ini Sederet Prestasinya

Kamis, 29 Okt 2026 - 06:56 WIB