JAKARTA – Sri Lanka menyalurkan paket bantuan besar untuk menghadapi krisis energi. Pemerintah menggelontorkan dana sebesar 320 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 triliun.
Pemerintah mengumumkan kebijakan ini pada Selasa (7/4/2026). Bantuan menyasar petani, nelayan, dan rumah tangga berpenghasilan rendah.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menyebut paket ini sebagai bantuan terbesar dalam sejarah negara tersebut. Ia menyebut nilai bantuan mencapai 100 miliar rupee untuk tiga bulan.
Pemerintah menyalurkan hibah tunai langsung ke rekening masyarakat terdampak. Nelayan dan petani padi serta teh menjadi prioritas utama penerima bantuan.
Pemerintah juga memberi tambahan bantuan tunai untuk masyarakat miskin. Sekitar 25 persen dari total populasi Sri Lanka masuk dalam kategori tersebut.
Pemerintah menambah bantuan sebesar 25 dolar AS atau sekitar Rp 427 ribu per bulan. Pemerintah juga menanggung sebagian biaya tagihan listrik masyarakat.
Untuk sektor perikanan, pemerintah memberi subsidi bahan bakar. Nelayan dengan perahu kecil menerima subsidi hingga 300 dolar AS per bulan. Operator perahu besar memperoleh sekitar 483 dolar AS per bulan selama tiga bulan.
Di sektor pertanian, pemerintah menanggung sekitar 30 persen biaya pupuk urea. Pemerintah juga menyiapkan dukungan tambahan untuk biaya pembangkitan listrik hingga 15 miliar rupee atau sekitar Rp 819 miliar.
Kebijakan ini muncul untuk mencegah krisis seperti pada 2022. Saat itu, Sri Lanka mengalami inflasi hingga 70 persen karena pemerintah mencetak uang untuk subsidi.
Sri Lanka masih menjalankan program bantuan dari IMF. Negara ini menerima pinjaman 2,9 miliar dolar AS pada 2023 untuk masa empat tahun.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora








