Produktivitas Malaysia Ungguli Indonesia dan Thailand

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Produktivitas tenaga kerja Malaysia pada 2024 mencatat angka lebih tinggi dibanding Thailand dan Indonesia. Namun, Malaysia masih tertinggal dari Singapura dan Korea Selatan menurut World Competitiveness Ranking (WCR).

 

Malaysia Memimpin ASEAN Setelah Singapura

 

Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyatakan produktivitas tenaga kerja Malaysia mencapai US$77.352. Angka ini melampaui Thailand (US$41.232) dan Indonesia (US$32.384). Namun, Korea Selatan mencatat US$105.101 dan Singapura US$196.237.

 

Johari menilai kesenjangan ini menunjukkan perlunya reformasi struktural. Ia menekankan pemerintah harus meningkatkan kualitas dan nilai tambah pekerjaan, bukan sekadar menambah jumlah tenaga kerja.

 

Reformasi Struktural Jadi Kunci Produktivitas

 

Johari menegaskan Malaysia perlu memperkuat kualitas pekerjaan melalui reformasi struktural. Dengan begitu, tenaga kerja akan lebih siap menghadapi tuntutan industri masa depan.

 

Kebijakan Strategis Dorong Transformasi Industri

 

Pemerintah Malaysia menyiapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan produktivitas:

 

Rencana Malaysia ke-13 (2026–2030) menurunkan proporsi pekerja asing berkeahlian rendah dari 15% menjadi 10% dari total tenaga kerja.

 

Rencana Induk Industri Baru 2030 (NIMP 2030) mendorong sektor manufaktur memakai teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan. Langkah ini membuat produksi lebih efisien dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Jawa Dominasi, Luar Jawa Mulai Tumbuh

 

Program Productivity Nexus mempercepat otomatisasi di 14 sektor utama.

Smart Tech-Up membangun 3.000 pabrik pintar hingga 2030.

Academy in Industry (ADI) menyelaraskan keterampilan tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri masa depan.

 

Johari menambahkan, Malaysia Productivity Corporation menyusun Malaysia Productivity Blueprint 2.0. Rencana ini memandu reformasi struktural secara lebih terintegrasi dan inklusif.

 

Indonesia Belum Punya Program Serupa

 

Sementara itu, Indonesia belum menyiapkan program strategis yang sejalan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. WCR 2025 mencatat peringkat daya saing Indonesia turun 13 peringkat, dari posisi 27 pada 2024 menjadi 40 dari total 69 negara.

 

Dalam tiga tahun sebelumnya, Indonesia berhasil memperbaiki posisi secara bertahap:

2022: Peringkat 44

2023: Peringkat 34

2024: Peringkat 27

 

Dampak Perang Tarif dan Ekonomi Global

 

Direktur World Competitive Center (WCC) IMD, Arturo Bris, menilai Indonesia sempat naik daya saing pascapandemi. Namun, perang tarif yang menarget kawasan Asia Tenggara menekan posisi Indonesia dan beberapa negara tetangga.

 

Hasil survei WCR 2025 menunjukkan:

Thailand turun 5 peringkat

Singapura turun 1 peringkat

Malaysia naik 11 peringkat

Baca Juga :  Jay Idzes Dinobatkan Pemain Terbaik Sassuolo Januari 2026

Filipina naik 1 peringkat

 

Dengan kata lain, Malaysia dan Filipina naik peringkat karena menerapkan kebijakan industri dan investasi digital yang strategis.

 

Masalah Struktural Menjadi Tantangan Indonesia

 

Survei WCR 2025 mencatat 66,1% eksekutif Indonesia menilai kurangnya peluang ekonomi mendorong polarisasi. Masalah seperti infrastruktur terbatas, lembaga lemah, dan keterbatasan talenta SDM memerlukan perhatian serius.

 

Akibatnya, pembangunan yang tidak inklusif menimbulkan ketimpangan struktural, pengangguran tinggi, dan distribusi pembangunan yang tidak merata. Minimnya lapangan kerja baru membuat warga sulit “naik kelas.”

Fenomena serupa terlihat di Afrika Selatan (74,6% eksekutif) dan China (68,1%).

 

Sebaliknya, negara Nordik memiliki pasar tenaga kerja kuat dan distribusi pendapatan merata. Hanya sedikit eksekutif di sana yang mengeluhkan hal ini.

 

Peringkat ASEAN 2025

 

Singapura: Peringkat 2, turun 1 peringkat

Malaysia: Peringkat 23, naik 11 peringkat

Thailand: Peringkat 30, turun 5 peringkat

Indonesia: Peringkat 40, turun 13 peringkat

Filipina: Peringkat 51, naik 1 peringkat

 

Riset WCR 2025 menilai daya saing 69 negara menggunakan data keras dan survei 6.162 eksekutif. Dengan kata lain, survei ini menyoroti isu struktural yang memengaruhi produktivitas dan distribusi kesempatan ekonomi.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat
Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta
Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles
Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028
Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026
Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:34 WIB

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:00 WIB

Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:47 WIB

Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:00 WIB

Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar

Berita Terbaru