Jakarta – Produktivitas tenaga kerja Malaysia pada 2024 mencatat angka lebih tinggi dibanding Thailand dan Indonesia. Namun, Malaysia masih tertinggal dari Singapura dan Korea Selatan menurut World Competitiveness Ranking (WCR).
Malaysia Memimpin ASEAN Setelah Singapura
Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyatakan produktivitas tenaga kerja Malaysia mencapai US$77.352. Angka ini melampaui Thailand (US$41.232) dan Indonesia (US$32.384). Namun, Korea Selatan mencatat US$105.101 dan Singapura US$196.237.
Johari menilai kesenjangan ini menunjukkan perlunya reformasi struktural. Ia menekankan pemerintah harus meningkatkan kualitas dan nilai tambah pekerjaan, bukan sekadar menambah jumlah tenaga kerja.
Reformasi Struktural Jadi Kunci Produktivitas
Johari menegaskan Malaysia perlu memperkuat kualitas pekerjaan melalui reformasi struktural. Dengan begitu, tenaga kerja akan lebih siap menghadapi tuntutan industri masa depan.
Kebijakan Strategis Dorong Transformasi Industri
Pemerintah Malaysia menyiapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan produktivitas:
Rencana Malaysia ke-13 (2026–2030) menurunkan proporsi pekerja asing berkeahlian rendah dari 15% menjadi 10% dari total tenaga kerja.
Rencana Induk Industri Baru 2030 (NIMP 2030) mendorong sektor manufaktur memakai teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan. Langkah ini membuat produksi lebih efisien dan berkelanjutan.
Program Productivity Nexus mempercepat otomatisasi di 14 sektor utama.
Smart Tech-Up membangun 3.000 pabrik pintar hingga 2030.
Academy in Industry (ADI) menyelaraskan keterampilan tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri masa depan.
Johari menambahkan, Malaysia Productivity Corporation menyusun Malaysia Productivity Blueprint 2.0. Rencana ini memandu reformasi struktural secara lebih terintegrasi dan inklusif.
Indonesia Belum Punya Program Serupa
Sementara itu, Indonesia belum menyiapkan program strategis yang sejalan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. WCR 2025 mencatat peringkat daya saing Indonesia turun 13 peringkat, dari posisi 27 pada 2024 menjadi 40 dari total 69 negara.
Dalam tiga tahun sebelumnya, Indonesia berhasil memperbaiki posisi secara bertahap:
2022: Peringkat 44
2023: Peringkat 34
2024: Peringkat 27
Dampak Perang Tarif dan Ekonomi Global
Direktur World Competitive Center (WCC) IMD, Arturo Bris, menilai Indonesia sempat naik daya saing pascapandemi. Namun, perang tarif yang menarget kawasan Asia Tenggara menekan posisi Indonesia dan beberapa negara tetangga.
Hasil survei WCR 2025 menunjukkan:
Thailand turun 5 peringkat
Singapura turun 1 peringkat
Malaysia naik 11 peringkat
Filipina naik 1 peringkat
Dengan kata lain, Malaysia dan Filipina naik peringkat karena menerapkan kebijakan industri dan investasi digital yang strategis.
Masalah Struktural Menjadi Tantangan Indonesia
Survei WCR 2025 mencatat 66,1% eksekutif Indonesia menilai kurangnya peluang ekonomi mendorong polarisasi. Masalah seperti infrastruktur terbatas, lembaga lemah, dan keterbatasan talenta SDM memerlukan perhatian serius.
Akibatnya, pembangunan yang tidak inklusif menimbulkan ketimpangan struktural, pengangguran tinggi, dan distribusi pembangunan yang tidak merata. Minimnya lapangan kerja baru membuat warga sulit “naik kelas.”
Fenomena serupa terlihat di Afrika Selatan (74,6% eksekutif) dan China (68,1%).
Sebaliknya, negara Nordik memiliki pasar tenaga kerja kuat dan distribusi pendapatan merata. Hanya sedikit eksekutif di sana yang mengeluhkan hal ini.
Peringkat ASEAN 2025
Singapura: Peringkat 2, turun 1 peringkat
Malaysia: Peringkat 23, naik 11 peringkat
Thailand: Peringkat 30, turun 5 peringkat
Indonesia: Peringkat 40, turun 13 peringkat
Filipina: Peringkat 51, naik 1 peringkat
Riset WCR 2025 menilai daya saing 69 negara menggunakan data keras dan survei 6.162 eksekutif. Dengan kata lain, survei ini menyoroti isu struktural yang memengaruhi produktivitas dan distribusi kesempatan ekonomi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









