JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 12 perusahaan antre melantai di pasar modal hingga akhir Maret 2026. Mayoritas calon emiten tersebut berasal dari perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp250 miliar.
Hingga saat ini, belum ada perusahaan yang mencatatkan saham di BEI sepanjang kuartal I 2026. Kondisi ini menunjukkan sikap hati-hati pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, pipeline IPO saat ini didominasi perusahaan besar. Dari klasifikasi aset, hanya satu perusahaan masuk kategori menengah, sementara 11 lainnya termasuk skala besar. Tidak ada calon emiten dari kelompok aset kecil.
Dari sisi sektor, consumer non-cyclicals menjadi yang paling dominan dengan tiga perusahaan. Sektor healthcare, infrastructure, dan technology masing-masing memiliki dua perusahaan. Sementara itu, sektor energy, financials, serta transportasi dan logistik masing-masing memiliki satu perusahaan.
Sejumlah sektor lain seperti basic materials, consumer cyclicals, industrials, hingga properti dan real estate belum memiliki calon emiten dalam pipeline saat ini.
Salah satu calon emiten, PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA), menargetkan penghimpunan dana hingga Rp306 miliar melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Dalam prospektusnya, WBSA menawarkan maksimal 1,8 miliar saham atau setara 20,75 persen dari modal setelah IPO. Perusahaan mematok harga saham di kisaran Rp150 hingga Rp170 per saham.
Perusahaan akan menggunakan dana IPO untuk ekspansi usaha. Sekitar Rp215 miliar akan digunakan untuk mengakuisisi 99,99 persen saham PT Bermuda Inovasi Logistik.
WBSA memulai masa penawaran awal pada 25–27 Maret 2026. Perusahaan membuka penawaran umum pada 1–8 April 2026 dan menargetkan pencatatan saham di BEI pada 10 April 2026.
BEI berharap aktivitas IPO meningkat seiring membaiknya sentimen pasar dan meningkatnya kepastian ekonomi ke depan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









