JAKARTA – Indonesia termasuk negara dengan tambang emas terbesar dunia dan berperan penting bagi perekonomian. Selain itu, sektor pertambangan emas menghasilkan perhiasan sekaligus menyediakan emas batangan untuk investasi, yang semakin diminati masyarakat.
Berdasarkan data dari Indonesia Mining Institute, Indonesia menempati posisi keempat dunia dalam hal cadangan emas. Dengan demikian, negeri ini menyumbang sekitar 6% cadangan emas global. Volume bijih yang tersedia mencapai ±3.600 ton.
Selain cadangan yang besar, Indonesia memiliki dua tambang emas terbesar di dunia. Pertama, Tambang Grasberg, di Mimika, Papua Tengah, memproduksi sekitar 1,9 juta ons emas per tahun. Tambang ini menempati peringkat ketiga dunia. Pemerintah memiliki 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI), sedangkan Freeport McMoRan (FCX) memiliki sisanya.
Dalam perpanjangan Izin Usaha
Pertambangan Khusus (IUPK) Grasberg, yang sebelumnya berlaku hingga 2041, FCX akan melepas 12% saham. Dengan demikian, kepemilikan pemerintah meningkat menjadi 63%.
Selanjutnya, tambang kedua, Batu Hijau, berlokasi di Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mengelola tambang ini, yang memproduksi sekitar 1 juta ons emas per tahun. Batu Hijau menempati peringkat keenam dunia.
Secara keseluruhan, sepuluh tambang emas terbesar dunia berdasarkan kapasitas produksi adalah:
Nevada Gold Mines – Amerika Serikat
Muruntau – Uzbekistan
Grasberg – Indonesia
Olimpiada – Rusia
Almalyk Complex – Uzbekistan
Batu Hijau – Indonesia
Kazzinc Consolidated – Kazakhstan
Loulo-Gounkoto – Mali
Kibali – Republik Demokratik Kongo
Ahafo – Ghana
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pemain utama di pasar emas global. Indonesia juga menarik investasi dan meningkatkan kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









