AI Tekan Minat Kuliah dan Magang di AS

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 11 Februari 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memangkas pekerjaan. AI juga menurunkan minat calon mahasiswa mendaftar ke universitas-universitas Amerika Serikat (AS). Data menunjukkan penurunan ini cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan mengungkapkan kampus-kampus di seluruh AS kehilangan hingga 15% pendaftar antara 2010 dan 2022. Para calon mahasiswa merasa khawatir sulit mendapatkan pekerjaan setelah lulus, sehingga mereka menunda atau membatalkan rencana kuliah.

Tingginya Pengangguran Lulusan Baru

Selain itu, lulusan baru menghadapi tantangan besar memasuki dunia kerja. Federal Reserve Bank of New York melaporkan tingkat pengangguran fresh graduate mencapai 5,8% pada pertengahan Desember lalu.
Angka ini hampir dua kali lipat dibanding rata-rata pengangguran lulusan perguruan tinggi, yaitu 2,9%. Banyak lulusan baru kesulitan menyesuaikan diri dengan pasar kerja yang berubah cepat.

Magang Semakin Sulit Didapat

Salah satu penyebab utama adalah berkurangnya kesempatan magang di perusahaan besar. Simon Kho, mantan kepala program karier awal di Raymond James Financial, menjelaskan AI mengubah strategi perusahaan dalam merekrut dan melatih karyawan baru.
“Perusahaan membutuhkan setidaknya 18 bulan untuk melatih talenta baru hingga investasi mereka kembali. Karena itu, mereka lebih berhati-hati dalam merekrut,” kata Kho, Rabu (4/3/2026).

Nilai Pengalaman Kerja Sebelum Lulus

Akibatnya, mahasiswa kini lebih memperhitungkan nilai pengalaman kerja. Terutama mahasiswa jurusan ilmu komputer, mereka membutuhkan magang untuk meningkatkan peluang diterima bekerja. Tanpa pengalaman praktis, lulusan sulit bersaing di pasar kerja.
Ryan Craig, penulis buku Apprentice Nation, menekankan kampus harus menghadirkan pengalaman kerja yang relevan sebelum mahasiswa lulus. Menurutnya, pengalaman tersebut sebaiknya berbayar dan sesuai bidang studi.
“Perguruan tinggi perlu memberi mahasiswa pengalaman kerja nyata agar mereka lebih siap menghadapi dunia profesional,” kata Craig.

Perguruan Tinggi Hadapi Era Baru

Dengan demikian, perguruan tinggi menghadapi perubahan besar. Mahasiswa kini menilai pengalaman praktis lebih penting daripada sekadar gelar akademik.
Baca Juga :  Qatar Hadapi Tekanan Ekonomi dan Ketidakpastian Usai Ekspor LNG Terhambat 

Berita Terkait

Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern
BSI Perluas Program Pendidikan untuk Ribuan Pelajar dan Mahasiswa
Krisis Guru di Muaro Jambi Makin Parah, Kekurangan Hampir 1.000
Cindy Monica Bawa Starlink ke Sekolah Pelosok 50 Kota, Akses Internet Kini Lebih Lancar
Di Tengah Ujian Keluarga, Arumi Tetap Genggam Mimpi Jadi Paskibraka Nasional
Beasiswa Sobat Bumi Dibuka, Mahasiswa Berprestasi Bisa Daftar hingga 31 Mei
PT KMH Bangun Pagar SDN 67 Lubuk Paku Lewat CSR, Tingkatkan Keamanan dan Kenyamanan Siswa
Pemkot Sungai Penuh Gelar Hardiknas 2026, Wali Kota Tekankan Transformasi Pendidikan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:05 WIB

Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern

Minggu, 17 Mei 2026 - 05:00 WIB

BSI Perluas Program Pendidikan untuk Ribuan Pelajar dan Mahasiswa

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:00 WIB

Krisis Guru di Muaro Jambi Makin Parah, Kekurangan Hampir 1.000

Senin, 11 Mei 2026 - 16:51 WIB

Cindy Monica Bawa Starlink ke Sekolah Pelosok 50 Kota, Akses Internet Kini Lebih Lancar

Sabtu, 9 Mei 2026 - 18:00 WIB

Di Tengah Ujian Keluarga, Arumi Tetap Genggam Mimpi Jadi Paskibraka Nasional

Berita Terbaru

Oplus_0

Ekonomi Digital

TikTok Shop Ubah Skema Komisi, Biaya Penjual Naik Tajam

Senin, 18 Mei 2026 - 19:44 WIB