Terkuak! Gunung Emas 30 Ribu Ton di Cikotok Banten

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Maret 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Emas sejak lama menjadi salah satu instrumen investasi paling diminati di dunia. Logam mulia ini memiliki nilai yang relatif stabil. Karena itu, banyak orang memilih emas untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Selain itu, ketika ekonomi global menghadapi krisis atau konflik geopolitik, permintaan emas biasanya meningkat. Kondisi tersebut membuat banyak investor menganggap emas sebagai aset safe haven yang mampu melindungi nilai kekayaan dari inflasi.

Namun jauh sebelum tren investasi emas berkembang seperti sekarang, Indonesia sudah mencatat sejarah besar terkait penemuan emas. Salah satu kisah paling terkenal berasal dari kawasan Cikotok di Banten.

Awal Penemuan Tambang Emas Cikotok

Pada masa kolonial Belanda, kabar tentang keberadaan emas di wilayah selatan Batavia mulai beredar luas. Wilayah yang dimaksud adalah Cikotok yang kini berada di Banten. Lokasinya berjarak sekitar 200 kilometer dari Batavia atau Jakarta.

Kabar tersebut menarik perhatian pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial kemudian mengirim tim penelitian geologi yang dipimpin ahli Belanda bernama W.F.F Oppenoorth.

Pada 1919, Oppenoorth bersama tim berangkat dari Sukabumi. Mereka menembus hutan lebat di wilayah Jawa Barat untuk mencari sumber emas. Selain melakukan penelitian, tim juga membuka akses jalan menuju lokasi penelitian.

Di sisi lain, tim mulai membuat beberapa terowongan. Langkah ini menjadi persiapan awal untuk kegiatan penambangan.

Penemuan Besar yang Menggemparkan

Penelitian tersebut kemudian menunjukkan hasil besar. Tim menemukan kandungan emas dalam jumlah sangat besar di kawasan Cikotok.

Baca Juga :  Negosiasi Akuisisi Saham VISI oleh Nagita Slavina

Namun proses eksploitasi menghadapi tantangan besar karena kondisi alam yang berat. Karena itu, pemerintah kolonial membuka hutan dan membangun banyak terowongan tambang.

Hingga 1928, pemerintah kolonial berhasil membangun sekitar 25 terowongan. Terowongan tersebut menembus perbukitan terjal serta lembah sempit di wilayah tersebut.

Pemerintah kolonial juga mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk eksplorasi. Setiap tahun, mereka menghabiskan sekitar 80.000 gulden untuk kegiatan tersebut.

Namun biaya itu menghasilkan temuan besar. Penelitian menunjukkan kawasan Cikotok menyimpan sekitar 30.000 ton emas di bawah permukaan tanah. Temuan tersebut langsung menggemparkan banyak pihak pada masa itu.

Eksploitasi Besar-besaran oleh Pemerintah Kolonial

Setelah mengetahui potensi emas yang sangat besar, pemerintah kolonial memberikan hak pengelolaan tambang kepada perusahaan NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Selanjutnya, perusahaan tersebut menjalankan aktivitas penambangan secara besar-besaran. Pemerintah kolonial juga membangun jalur transportasi baru yang menghubungkan tambang dengan Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu.

Selain itu, mereka mendirikan pabrik pengolahan emas dengan kapasitas sekitar 20 ton per hari.

Namun kapasitas tersebut tetap tidak mampu menampung seluruh hasil tambang. Kandungan emas di wilayah tersebut memang sangat besar.

Bahkan para pekerja tambang sering menemukan bongkahan emas selama proses penggalian dengan berat yang beragam.

Pada 1933, aktivitas penambangan telah mencakup wilayah sekitar 400 kilometer persegi. Para penambang juga bisa menemukan emas dengan menggali hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Selain itu, eksplorasi lanjutan menunjukkan potensi emas lebih dari 61.000 ton dengan nilai miliaran gulden pada masa tersebut.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 22 Juni 2022 Stabil, Investor Cermati Peluang di Level Rp2,668 Juta per Gram

Kekayaan yang Tidak Dinikmati Rakyat

Meski cadangan emas sangat besar, pemerintah kolonial Belanda menikmati hampir seluruh keuntungan tambang tersebut. Mereka meraup kekayaan besar dari eksploitasi sumber daya alam tersebut.

Sebaliknya, masyarakat pribumi hampir tidak memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas pertambangan tersebut. Padahal pemerintah kolonial sering menyampaikan janji kesejahteraan kepada penduduk setempat.

Nasib Tambang Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan tambang emas Cikotok. Pada 1974, pemerintah kemudian menyerahkan pengelolaan tambang kepada perusahaan tambang negara PT Aneka Tambang Tbk.

Perusahaan tersebut melanjutkan kegiatan penambangan selama beberapa dekade. Namun pada 2005 perusahaan menghentikan operasi tambang karena cadangan emas di wilayah itu semakin menipis.

Meski begitu, sejarah tambang emas Cikotok tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan industri pertambangan Indonesia. Setelah era Cikotok berakhir, perhatian industri emas nasional beralih ke tambang yang jauh lebih besar, seperti tambang emas yang dikelola Freeport-McMoRan di Papua.

Jejak Sejarah Tambang Emas Raksasa

Kisah tambang emas Cikotok menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar sejak lama. Namun sejarah tersebut juga mengingatkan bahwa pengelolaan kekayaan alam pada masa kolonial tidak memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

Karena itu, kisah Cikotok tetap menjadi bagian penting dalam sejarah pertambangan Indonesia sekaligus menjadi pengingat tentang eksploitasi sumber daya alam pada masa kolonial.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Gelombang Pensiun Komjen Polri Dimulai, Karyoto dan Fadil Imran Masuk Daftar, Wakapolri Jadi Sorotan
MK Larang Anggaran Pendidikan untuk MBG, Sudaryono Langsung Tegaskan BGN Siap Ikuti Keputusan Negara
Skandal KPK Melebar! Anggota Polri yang Bertugas di Lembaga Antirasuah Ikut Terseret Kasus Pemerasan Bupati Pemalang
Bupati Pemalang Resmi Ditahan KPK, Uang Rp2 Miliar Jadi Awal Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek
Prabowo Resmi Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan, Penantian Sejak 2018 Akhirnya Berakhir
KPK Bongkar Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemalang, OTT Bupati Anom Perpanjang Daftar Kepala Daerah Terjerat Korupsi
Baru Menjabat, Bupati Pemalang Kena OTT KPK, LHKPN Ungkap Kekayaan Bersih Capai Rp21,3 Miliar
Kewarganegaraan Ganda Belum Dibahas, Wamendagri Bima Arya Tegaskan Pemerintah Masih Fokus Susun Kajian Hukum
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:19 WIB

Gelombang Pensiun Komjen Polri Dimulai, Karyoto dan Fadil Imran Masuk Daftar, Wakapolri Jadi Sorotan

Jumat, 31 Juli 2026 - 18:19 WIB

MK Larang Anggaran Pendidikan untuk MBG, Sudaryono Langsung Tegaskan BGN Siap Ikuti Keputusan Negara

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:00 WIB

Skandal KPK Melebar! Anggota Polri yang Bertugas di Lembaga Antirasuah Ikut Terseret Kasus Pemerasan Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:00 WIB

Bupati Pemalang Resmi Ditahan KPK, Uang Rp2 Miliar Jadi Awal Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:00 WIB

Prabowo Resmi Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan, Penantian Sejak 2018 Akhirnya Berakhir

Berita Terbaru