Gubernur Klaim Tak Ada Lagi Titik Api, Himsak: Jangan Sulap Bencana Jadi Pencitraan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAMBI – Himsak soroti karhutla Jambi

 

Kabut asap kembali mengusik kehidupan warga Kota Jambi. Asap karhutla memenuhi sejumlah kawasan, sementara warga mengeluhkan mata perih, dada sesak, tenggorokan tidak nyaman, dan jarak pandang yang menurun.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir. Terlebih, Pemerintah Provinsi Jambi mengambil langkah meliburkan aktivitas sekolah tatap muka demi mengurangi risiko paparan asap terhadap anak-anak.

Di tengah situasi itu, Gubernur Jambi Al Haris justru menyampaikan laporan yang memicu perdebatan. Saat mengikuti rapat koordinasi virtual bersama Presiden Prabowo Subianto, Al Haris menyebut titik api di Jambi sudah padam dan “tidak ada lagi titik api”.

Himsak Pertanyakan Klaim Pemerintah

Pernyataan tersebut langsung mendapat sorotan Himsak. Mereka mempertanyakan kesesuaian laporan pemerintah dengan kondisi yang masyarakat hadapi setiap hari.

Menurut Himsak, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan laporan administratif. Pemerintah juga harus menjelaskan kondisi lapangan secara terbuka, terutama ketika asap masih menyelimuti kawasan permukiman.

“Bagaimana mungkin seorang kepala daerah mengklaim tidak ada lagi titik api, sementara warganya sendiri tersiksa menelan asap setiap hari?” ujar Kader Himsak, Abiem Wijaya

Karena itu, menurut Ambiem, Himsak meminta pemerintah membuka data penanganan karhutla secara transparan. Langkah tersebut penting agar masyarakat mengetahui perkembangan pemadaman sekaligus memahami sumber asap yang masih muncul.

Asap Masih Mengganggu Warga Kota Jambi

Himsak menilai pemerintah perlu melihat persoalan karhutla dari dampaknya, bukan hanya dari jumlah titik api.

Pasalnya, kebakaran lahan gambut dapat terus menghasilkan asap meskipun petugas sudah memadamkan api di permukaan. Bara yang masih berada di dalam gambut juga dapat kembali memunculkan asap ketika kondisi mendukung.

Selain itu, sisa pembakaran lahan dan proses pendinginan juga membutuhkan pengawasan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap lokasi karhutla benar-benar aman sebelum menyatakan situasi terkendali.

Himsak Soroti Perdebatan Hotspot dan Firespot

Himsak juga menanggapi penggunaan istilah hotspot dan firespot dalam laporan penanganan karhutla.

Baca Juga :  Lab Ungkap Penyebab Keracunan Siswa di Muaro Jambi

Menurutnya, pemerintah memang perlu menggunakan istilah teknis secara tepat. Namun, pemerintah juga harus menjelaskan kondisi tersebut dengan bahasa yang masyarakat pahami.

“Bagi warga Kota Jambi yang tidak bisa menghirup udara segar, debat istilah itu sama sekali tidak relevan,” tegas Abiem

Dengan demikian, pemerintah sebaiknya tidak berhenti pada perdebatan terminologi. Pemerintah harus menunjukkan tindakan nyata untuk mengurangi asap dan melindungi masyarakat.

Karhutla Mengganggu Kesehatan Warga

Dampak karhutla kini menyentuh berbagai sisi kehidupan masyarakat. Dari sektor kesehatan hingga pendidikan, warga harus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara.

Risiko Gangguan Pernapasan

Asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan. Anak-anak, balita, lansia, dan kelompok rentan lainnya menghadapi risiko lebih besar ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat layanan kesehatan dan memberikan informasi yang jelas mengenai cara mengurangi paparan asap.

Sekolah Ikut Menghadapi Dampak Asap

Pemerintah Provinsi Jambi mengambil langkah meliburkan sekolah tatap muka. Kebijakan tersebut menunjukkan kekhawatiran pemerintah terhadap kondisi udara yang mengganggu kesehatan siswa.

Namun, pemerintah juga perlu memastikan proses belajar tetap berjalan melalui alternatif yang sesuai dengan kondisi daerah.

Aktivitas Ekonomi Warga Terganggu

Selanjutnya, kabut asap juga memengaruhi aktivitas ekonomi. Pedagang, pekerja lapangan, pengemudi, dan pelaku usaha yang mengandalkan aktivitas luar ruangan harus menghadapi kondisi yang tidak ideal.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu memasukkan dampak ekonomi dalam strategi penanganan karhutla.

Himsak Minta Pemerintah Perkuat Penanganan

Himsak mendorong Pemerintah Provinsi Jambi memperkuat operasi pemadaman. Jika kondisi lapangan membutuhkan dukungan tambahan, pemerintah juga perlu mengajukan bantuan helikopter water bombing dan menjalankan modifikasi cuaca secara terukur.

Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan pemantauan titik rawan dan mempercepat respons ketika petugas menemukan sumber api baru.

Himsak menilai langkah tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menyampaikan laporan yang terdengar positif.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris Minta ASN Jambi Gaspol, Hadapi Tantangan Global

Transparansi Harus Menjadi Prioritas

Himsak juga meminta Gubernur Jambi Al Haris menyampaikan kondisi karhutla secara terbuka kepada masyarakat.

Menurut mereka, laporan kepada Presiden harus menggambarkan kondisi lapangan secara menyeluruh. Pemerintah perlu menyampaikan titik persoalan, kebutuhan tambahan, kendala operasi, serta ancaman yang masih masyarakat hadapi.

Dengan informasi yang lengkap, pemerintah pusat dapat memberikan dukungan secara lebih tepat. Pada saat yang sama, masyarakat juga dapat memahami langkah pemerintah dalam menghadapi karhutla.

Jangan Jadikan Bencana sebagai Panggung Pencitraan

Himsak mengingatkan pemerintah agar tidak membangun kesan bahwa persoalan karhutla sudah selesai ketika masyarakat masih menghadapi asap.

“Jangan sampai langit Jambi terus tertutup asap hanya karena para pemimpinnya sibuk menutupi kenyataan,” kata Himsak.

Menurut Himsak, pemimpin harus berdiri paling depan ketika masyarakat menghadapi bencana. Pemimpin juga harus menyampaikan fakta secara jujur agar pemerintah dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata.

Karena itu, Himsak meminta pemerintah mengutamakan keselamatan warga daripada sekadar mempercantik laporan. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan sekadar hilangnya laporan titik api, tetapi kembalinya udara bersih dan aktivitas warga secara normal.

FAQ

Apa yang Himsak soroti dari laporan Gubernur Jambi?

Himsak mempertanyakan klaim bahwa Jambi sudah tidak memiliki titik api ketika warga masih menghadapi kabut asap.

Mengapa Himsak menilai laporan pemerintah perlu transparan?

Himsak ingin pemerintah menyampaikan kondisi lapangan secara lengkap agar masyarakat dan pemerintah pusat memahami situasi sebenarnya.

Apa dampak kabut asap bagi masyarakat?

Kabut asap mengganggu kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, serta mobilitas warga.

Apa langkah yang Himsak dorong?

Himsak mendorong penguatan operasi pemadaman, pemantauan karhutla, bantuan helikopter water bombing, dan modifikasi cuaca jika kondisi membutuhkan.

Apa pesan utama Himsak kepada Gubernur Jambi?

Himsak meminta Gubernur Al Haris mengutamakan keselamatan warga, membuka data secara transparan, dan menyampaikan kondisi karhutla sesuai fakta di lapangan.(Tim)

Berita Terkait

Sarjana Melayu Bersatu! ISMI Sungai Penuh-Kerinci Siap Gebrak Pembangunan Daerah
Alfin Turun ke Kayu Aro, Gerakan Penanaman Bawang Putih Jambi Bidik Swasembada Nasional
Di Tengah Polemik Fee, Pengurus P3-TGAI Pastikan Program Irigasi Berjalan Tanpa Pungutan
Museum Sriwijaya Dharmakirti Resmi Dibuka, Muaro Jambi Siap Ukir Jejak Baru sebagai Pusat Peradaban Melayu Nusantara
Mutasi Polda Jambi: Kapolri Ganti Wakapolda dan Kabidkum, Ini Sosok Pejabat Baru yang Ditunjuk
Romi Arizyanto Kembali ke Jambi, Jaksa yang Pernah Pimpin Sungai Penuh Kini Nahkodai Kejari Tipe A
Duka H Bakri Belum Usai, PAW DPR RI Jambi Mencuat, Aktivis: Jangan Biarkan Politik Kalahkan Empati
Kerinci dan Sungai Penuh Raih Alokasi P3A TGAI Terbanyak di Jambi, Perjuangan Edi Purwanto Tuai Apresiasi
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:19 WIB

Gubernur Klaim Tak Ada Lagi Titik Api, Himsak: Jangan Sulap Bencana Jadi Pencitraan

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Sarjana Melayu Bersatu! ISMI Sungai Penuh-Kerinci Siap Gebrak Pembangunan Daerah

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:44 WIB

Alfin Turun ke Kayu Aro, Gerakan Penanaman Bawang Putih Jambi Bidik Swasembada Nasional

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:27 WIB

Di Tengah Polemik Fee, Pengurus P3-TGAI Pastikan Program Irigasi Berjalan Tanpa Pungutan

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:17 WIB

Museum Sriwijaya Dharmakirti Resmi Dibuka, Muaro Jambi Siap Ukir Jejak Baru sebagai Pusat Peradaban Melayu Nusantara

Berita Terbaru