JAKARTA – Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) terus menunjukkan dampak nyata bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) di Indonesia. Hingga pertengahan 2026, lebih dari satu juta UMK telah memanfaatkan program tersebut untuk memperoleh sertifikat halal dan memperkuat posisi usaha mereka di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Pencapaian itu mencerminkan meningkatnya kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya sertifikasi halal. Kini, banyak UMK tidak hanya mengejar legalitas usaha, tetapi juga memanfaatkan sertifikasi halal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pemasaran.
Selain membantu pelaku usaha, program ini juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi Pendamping Proses Produk Halal (P3H) yang mendampingi UMK selama proses sertifikasi. Karena itu, manfaat program SEHATI tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga oleh ekosistem halal secara keseluruhan.
Industri Halal Semakin Berperan dalam Pertumbuhan Ekonomi
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menilai sektor halal kini memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Haikal, sertifikasi halal mampu meningkatkan daya saing produk, memperluas akses pasar, dan memperkuat kepercayaan konsumen. Oleh sebab itu, sektor halal berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
“Kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar, 27 persen bagi PDB nasional. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia,” ujar Haikal, Jumat (19/6/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelaku usaha dapat memanfaatkan sertifikasi halal sebagai instrumen untuk memperbesar peluang bisnis di pasar domestik maupun internasional.
Negara Maju Melihat Halal Sebagai Nilai Tambah
Di sisi lain, sejumlah negara maju juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan industri halal. Mereka melihat halal dari berbagai perspektif yang lebih luas daripada sekadar aspek keagamaan.
Amerika Serikat memandang halal sebagai simbol kesehatan. Sementara itu, Korea Selatan mengaitkan halal dengan standar kebersihan yang lebih tinggi. Adapun China melihat halal sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.
Selanjutnya, Inggris menghubungkan konsep halal dengan keberlanjutan lingkungan dan gaya hidup yang lebih ramah terhadap alam.
“Amerika melihat halal sebagai simbol kesehatan, Korea sebagai standar kebersihan berlapis, China sebagai peluang ekonomi, dan Inggris mengaitkannya dengan keberlanjutan lingkungan,” kata Haikal.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat global semakin menerima konsep halal sebagai standar kualitas yang memberikan manfaat luas.
Pelaku Usaha Kuliner Perlu Bersiap
Sementara itu, BPJPH mengingatkan pelaku usaha makanan dan minuman agar segera menyelesaikan proses sertifikasi halal sebelum batas waktu yang telah ditentukan pemerintah.
Mulai 18 Oktober 2026, pemerintah akan memberlakukan kewajiban sertifikasi halal untuk produk makanan dan minuman, hasil sembelihan, serta jasa penyembelihan sesuai regulasi Jaminan Produk Halal (JPH).
Karena itu, BPJPH mengajak pelaku usaha untuk mempersiapkan seluruh persyaratan sejak dini agar proses sertifikasi berjalan lebih lancar.
“Jangan melihat halal hanya sebagai kewajiban regulasi. Halal justru adalah peluang besar untuk meningkatkan kualitas usaha, memperluas pasar, dan membangun kepercayaan konsumen,” ujar Haikal.
Halal Perkuat Kepercayaan Konsumen
Menurut Haikal, tren pasar global menunjukkan bahwa konsumen semakin memperhatikan kualitas, keamanan, kebersihan, dan transparansi produk sebelum melakukan pembelian.
Dalam konteks tersebut, sertifikasi halal memberikan jaminan yang jelas mengenai asal bahan baku, proses produksi, hingga jalur distribusi produk. Dengan demikian, konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum memilih suatu produk.
“Halal saat ini sudah menjadi perhatian dunia, termasuk di Amerika dan Eropa. Halal bukan lagi hanya milik umat Muslim, tetapi telah menjadi simbol kesehatan, kualitas, dan gaya hidup modern,” katanya.
Selain meningkatkan kepercayaan konsumen, sertifikasi halal juga membantu pelaku usaha memperkuat citra merek dan memperluas peluang ekspor ke berbagai negara.
Sertifikasi Halal Buka Peluang Pasar Global
Seiring meningkatnya permintaan produk halal di berbagai negara, pelaku usaha Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memperluas pasar ke tingkat internasional.
Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan sertifikasi halal bagi UMK agar semakin banyak produk lokal mampu bersaing di pasar global.
“Halal bukan sekadar simbol. Halal adalah nilai tambah ekonomi, kualitas, dan kepercayaan global,” tegas Haikal.
FAQ
Apa itu Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI)?
Program SEHATI merupakan program pemerintah yang membantu pelaku usaha mikro dan kecil memperoleh sertifikat halal tanpa biaya.
Berapa jumlah UMK yang telah mengikuti program ini?
Hingga pertengahan 2026, lebih dari satu juta pelaku usaha mikro dan kecil telah mengikuti Program Sertifikasi Halal Gratis.
Kapan pemerintah mulai memberlakukan wajib halal?
Pemerintah akan mulai memberlakukan kewajiban sertifikasi halal untuk sektor makanan dan minuman pada 18 Oktober 2026.
Apa manfaat sertifikasi halal bagi UMK?
Sertifikasi halal membantu UMK meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas pasar, memperkuat daya saing, dan membuka peluang ekspor.
Mengapa industri halal penting bagi ekonomi Indonesia?
Industri halal berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, memperkuat daya saing produk, serta menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru.
Apakah sertifikasi halal hanya penting bagi konsumen Muslim?
Tidak. Banyak negara memandang halal sebagai simbol kualitas, kesehatan, kebersihan, keamanan, dan transparansi produk.(Tim)









