SUNGAI PENUH – Sejumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mayjen H.A. Thalib, Kota Sungai Penuh, menghadapi situasi yang membuat mereka resah. Di tengah tuntutan pelayanan kepada pasien yang terus berjalan, persoalan pencairan jasa medis justru menjadi tanda tanya besar bagi para tenaga kesehatan.
Persoalan tersebut mencuat setelah muncul dugaan bahwa sebagian anggaran yang seharusnya mendukung hak tenaga medis ikut terserap untuk kebutuhan proyek fisik rumah sakit, termasuk pekerjaan instalasi listrik. Kondisi itu membuat sejumlah pihak meminta manajemen RSUD memberikan penjelasan secara terbuka.
Kabar mengenai dugaan pergeseran penggunaan anggaran tersebut kemudian memunculkan sorotan dari berbagai kalangan. Mereka menilai rumah sakit perlu menjelaskan dasar kebijakan yang diambil agar tidak menimbulkan keresahan di lingkungan tenaga kesehatan.
Dugaan Perubahan Prioritas Anggaran
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah pihak menduga manajemen RSUD Mayjen H.A. Thalib melakukan langkah pengaturan ulang terhadap penggunaan dana operasional. Dugaan itu menyebut sebagian dana jasa medis tidak segera tersalurkan karena berkaitan dengan kebutuhan pembangunan fasilitas rumah sakit.
Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyampaikan bahwa pencairan jasa medis mengalami hambatan karena adanya penggunaan dana untuk proyek instalasi listrik.
“Kemungkinan besar dana jasa medis itu susah dibayarkan karena puluhan persen dari total dana tersebut sudah terpakai untuk proyek instalasi listrik di RSUD,” ujarnya.
Namun, informasi tersebut masih membutuhkan penjelasan resmi dari pihak rumah sakit. Sampai berita ini ditulis, manajemen RSUD Mayjen H.A. Thalib belum memberikan keterangan terkait dugaan penggunaan anggaran tersebut.
Aktivis Soroti Keputusan Manajemen
Polemik ini ikut mendapat perhatian dari aktivis wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Mereka mempertanyakan keputusan manajemen yang dinilai belum memberikan kepastian kepada tenaga kesehatan yang setiap hari menjalankan pelayanan masyarakat.
Aktivis kemanusiaan Kerinci-Sungai Penuh, Jazuar, menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan hak tenaga kesehatan seharusnya menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan motivasi dan kesejahteraan petugas medis.
“Miris kita melihat kejadian hari ini. Entah apa yang mereka pikirkan,” ujar Jazuar, Kamis (18/6/2026).
“Kenapa tidak menyelesaikan masalah dana jasa medis tersebut terlebih dahulu?”
Jazuar menilai jajaran pimpinan rumah sakit perlu segera membuka komunikasi agar persoalan tidak semakin melebar. Ia juga meminta Direktur Utama RSUD Mayjen H.A. Thalib, dr. Rofi Irman, memberikan penjelasan mengenai kondisi yang sebenarnya.
“Jangan tutup mata terkait dana jasa medis, Pak Dirut. Coba lihat anggotamu sedang menjerit saat ini,” kata Jazuar.
Nakes Menunggu Kepastian
Hingga kini, tenaga kesehatan masih menunggu kejelasan mengenai waktu pembayaran jasa medis mereka. Sementara itu, pelayanan kepada pasien tetap berlangsung seperti biasa.
Bagi sebagian tenaga kesehatan, kepastian pembayaran jasa medis menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan penghargaan atas pekerjaan mereka di rumah sakit.
Jazuar juga menyebut persoalan ini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan baru RSUD Mayjen H.A. Thalib.
“Sibuk ngurus proyek, dana jasa medis sampai sekarang tak ada kabar. Apa yang sebenarnya ditutupi oleh Dirut RSUD Sungai Penuh?”
Sampai berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada Direktur Utama RSUD Mayjen H.A. Thalib, dr. Rofi Irman, belum mendapatkan tanggapan.
FAQ
Apa masalah utama yang muncul di RSUD Sungai Penuh?
Persoalan utama berkaitan dengan belum jelasnya pencairan jasa medis tenaga kesehatan yang diduga berkaitan dengan penggunaan anggaran untuk kebutuhan proyek fisik.
Apakah pihak rumah sakit sudah memberikan klarifikasi?
Hingga berita ini diterbitkan, manajemen RSUD Mayjen H.A. Thalib belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan tersebut.
Mengapa jasa medis menjadi perhatian tenaga kesehatan?
Jasa medis menjadi bagian dari hak tenaga kesehatan atas pelayanan dan pekerjaan yang mereka lakukan di rumah sakit.
Siapa yang meminta penjelasan terkait persoalan ini?
Sejumlah aktivis wilayah Kerinci dan Sungai Penuh meminta manajemen rumah sakit membuka informasi secara transparan.(Tim)









