Dari Makanan Bertahan Hidup Jadi Kuliner Favorit: 7 Hidangan Tradisional Indonesia Kini Diburu Wisatawan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Dulu, masyarakat Indonesia menciptakan berbagai makanan dari keterbatasan ekonomi. Mereka mengolah bahan sederhana agar tetap bisa bertahan hidup di tengah kondisi yang serba sulit. Namun, seiring berjalannya waktu, kreativitas itu justru berkembang dan melahirkan warisan kuliner yang kini menempati posisi penting dalam dunia wisata kuliner nasional.

Selain itu, perubahan zaman turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap makanan tradisional. Jika pada masa lalu banyak orang menganggap hidangan tersebut sebagai simbol keterbatasan, kini wisatawan justru mencari cita rasa autentiknya. Dengan demikian, kuliner yang lahir dari kondisi sulit itu berubah menjadi identitas budaya yang bernilai tinggi.

Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan bahwa generasi sekarang semakin menghargai sejarah di balik makanan tradisional. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga cerita perjuangan yang melekat di dalamnya. Oleh karena itu, sejumlah kuliner yang dulu dianggap “makanan darurat” kini justru naik kelas menjadi buruan wisatawan.

Berikut tujuh kuliner tradisional Indonesia yang lahir dari keterbatasan ekonomi, tetapi kini berhasil menjadi bagian penting dari wisata kuliner.

1. Sate Kere, Bukti Kreativitas Warga Solo

Sate kere dari Solo menunjukkan bagaimana masyarakat berinovasi saat menghadapi keterbatasan. Istilah “kere” yang berarti miskin menggambarkan kondisi sosial saat makanan ini pertama kali muncul. Saat itu, masyarakat mengganti daging mahal dengan tempe gembus dan jeroan agar tetap bisa menikmati sate.

Kini, sate kere tidak lagi dipandang sebelah mata. Sebaliknya, kuliner ini justru menjadi ikon khas Solo yang menarik banyak wisatawan karena rasa gurih dan keunikannya.

Baca Juga :  Phone Scam Pajak Kuras Rekening Korban Ratusan Juta

2. Botok Tawon, Sumber Protein yang Unik

Botok tawon menggunakan sarang lebah beserta larvanya sebagai bahan utama. Dahulu, masyarakat memanfaatkan sumber daya alam tersebut karena lebih mudah ditemukan dibandingkan membeli lauk mahal.

Kemudian, mereka mengolahnya dengan kelapa parut dan bumbu rempah sehingga menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Saat ini, botok tawon semakin dikenal sebagai kuliner eksotis yang jarang ditemui.

3. Nasi Aking, Simbol Ketahanan Pangan

Nasi aking muncul dari kebiasaan masyarakat mengeringkan nasi sisa agar tidak terbuang. Setelah dijemur, mereka memasaknya kembali saat dibutuhkan.

Pada masa harga beras tinggi, masyarakat mengandalkan nasi aking sebagai solusi hemat. Kini, makanan ini justru dikenal sebagai bagian dari sejarah ketahanan pangan masyarakat Indonesia.

4. Tiwul, Alternatif Nasi yang Bernilai Nostalgia

Tiwul berasal dari singkong kering atau gaplek yang ditumbuk lalu dikukus. Dahulu, masyarakat Jawa memilih tiwul karena harganya lebih terjangkau dibandingkan beras.

Seiring waktu, masyarakat kembali mencari tiwul karena alasan nostalgia. Akibatnya, makanan ini kini naik kelas menjadi kuliner tradisional yang banyak dicari wisatawan.

5. Gaplek, Cadangan Pangan di Masa Sulit

Gaplek berasal dari singkong yang dipotong lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Proses ini membuat singkong lebih tahan lama dan mudah disimpan.

Masyarakat pedesaan kemudian memanfaatkan gaplek sebagai cadangan pangan ketika hasil panen tidak mencukupi. Hingga kini, gaplek tetap hadir dalam berbagai olahan tradisional yang bernilai budaya.

Baca Juga :  Kelurahan Olo: Surga Kuliner Pesisir dari Batagor Ikan hingga Kelapa Muda

6. Gathot, Olahan Sederhana dengan Cita Rasa Khas

Gathot berasal dari singkong yang tidak terpakai dan mengalami proses pengeringan panjang hingga berubah warna menjadi kehitaman. Meski terlihat sederhana, makanan ini tetap memiliki rasa khas yang unik.

Pada masa lalu, masyarakat mengolah gathot agar tidak membuang bahan makanan. Sekarang, banyak pecinta kuliner justru mencari hidangan ini karena keunikannya.

7. Lompong Sagu, Warisan dari Indonesia Timur

Lompong sagu berkembang di wilayah Indonesia Timur dengan bahan dasar sagu yang mudah ditemukan. Masyarakat mengolahnya menjadi makanan sederhana yang tetap mengenyangkan.

Saat ini, lompong sagu tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari promosi kuliner daerah di tingkat nasional.

FAQ

1. Mengapa kuliner tradisional Indonesia banyak lahir dari keterbatasan?

Masyarakat dulu memanfaatkan bahan yang mudah didapat agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi sulit.

2. Apakah makanan ini masih dikonsumsi saat ini?

Sebagian masih dikonsumsi di daerah asalnya, sementara sebagian lain lebih sering muncul sebagai kuliner khas.

3. Mengapa kuliner ini kembali populer?

Wisata kuliner, media sosial, dan minat generasi muda terhadap budaya lokal mendorong popularitasnya.

4. Apakah resep makanan ini berubah?

Sebagian besar tetap mempertahankan resep asli, meskipun beberapa penjual melakukan penyesuaian rasa.

5. Apakah kuliner ini mudah ditemukan di kota besar?

Beberapa restoran dan pusat kuliner tradisional di kota besar kini mulai kembali menyajikannya.(Tim)

Berita Terkait

Mulai Agustus 2026, Melepas Status WNI Tak Lagi Murah, Pemerintah Naikkan Biaya hingga Rp5 Juta
Ketua DPW PAN NTB Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK Usai Nobar Final Piala Dunia 2026
Pendaftaran Magang Nasional 2026 Kini Wajib Biometrik dan Seleksi Perusahaan Makin Ketat
Istana Bergerak Cepat! Kepres Kuntadi sebagai Jampidsus Terbit Pekan Ini, Mensesneg Ungkap Prosesnya
Istana Buka Suara, Mensesneg Minta Nama Prabowo Tak Dibawa ke Polemik Kasus Febrie Adriansyah
Rini Widyantini Tulis Surat Terbuka untuk ASN, Tekankan Integritas dan Semangat Pengabdian
Festival Warisan Rasa Asia Ramaikan Bengkulu, 35 Tenant Sajikan Kuliner Nusantara hingga Korea dan Thailand
DPR Bantah Klaim Izin Presiden untuk Tetapkan Jaksa Jadi Tersangka, Soedeson Sentil Hotman Paris
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:00 WIB

Ketua DPW PAN NTB Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK Usai Nobar Final Piala Dunia 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 18:57 WIB

Pendaftaran Magang Nasional 2026 Kini Wajib Biometrik dan Seleksi Perusahaan Makin Ketat

Senin, 20 Juli 2026 - 16:00 WIB

Istana Bergerak Cepat! Kepres Kuntadi sebagai Jampidsus Terbit Pekan Ini, Mensesneg Ungkap Prosesnya

Senin, 20 Juli 2026 - 14:47 WIB

Istana Buka Suara, Mensesneg Minta Nama Prabowo Tak Dibawa ke Polemik Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:59 WIB

Rini Widyantini Tulis Surat Terbuka untuk ASN, Tekankan Integritas dan Semangat Pengabdian

Berita Terbaru

Oplus_0

Ekonomi Bisnis

Bermodal Motor Sendiri, Driver Ojol Bakal Jadi Pengusaha Mikro

Selasa, 21 Jul 2026 - 19:00 WIB