Ekonomi Desa Jadi Penopang Utama, Prabowo Soroti Kekuatan Domestik di Tengah Tekanan Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memicu diskusi luas setelah menyampaikan pernyataan santai di Nganjuk mengenai kekhawatiran pelemahan rupiah. Ia menilai sebagian pihak terlalu sering meramalkan krisis ekonomi, padahal masyarakat desa tetap menjalankan aktivitas ekonomi tanpa bergantung pada dolar.

Ucapan itu terlihat sederhana, tetapi publik menangkap pesan yang lebih dalam: pemerintah ingin menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada pasar keuangan global, melainkan juga pada aktivitas riil masyarakat di tingkat akar rumput.

Pernyataan tersebut langsung memunculkan perdebatan baru. Sebagian pihak menilai pemerintah terlalu percaya diri dengan kekuatan ekonomi domestik. Namun sebagian lainnya melihatnya sebagai pengingat bahwa ekonomi Indonesia memang memiliki struktur unik yang tidak sepenuhnya mengikuti logika negara maju.

Desa sebagai Mesin Ekonomi Riil

Ekonomi desa di Indonesia bergerak dengan ritme berbeda dari kota besar. Warga desa tidak terlalu bergantung pada instrumen finansial global. Mereka menanam, memanen, menjual, dan mengonsumsi hasil produksi sendiri dalam siklus yang relatif stabil.

Sektor pertanian, perkebunan, dan pasar tradisional menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi tersebut. Uang memang berperan penting, tetapi transaksi sering terjadi dalam lingkup lokal yang sederhana dan langsung.

Model ekonomi ini menciptakan daya tahan tersendiri. Ketika krisis global mengguncang pasar keuangan, desa tetap bergerak. Petani tetap mengolah lahan, pedagang tetap membuka lapak, dan rantai pasok pangan tetap berjalan meski tekanan ekonomi meningkat.

Ketahanan Ekonomi Domestik di Tengah Tekanan Global

Indonesia memiliki keunggulan besar berupa pasar domestik yang luas. Lebih dari 280 juta penduduk menciptakan permintaan yang terus bergerak setiap hari. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Buru Voucher Rp10 Ribu: Promo PLN Mobile JUNIVAGANZA Hebohkan Pengguna Token Listrik 2026

Struktur ini membuat ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor atau investasi asing. Ketika pasar global melemah, konsumsi domestik sering kali menjaga laju pertumbuhan tetap stabil.

Inflasi juga masih dapat dikendalikan dalam beberapa tahun terakhir, meski tekanan harga global tetap muncul. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa ekonomi Indonesia memiliki bantalan internal yang cukup kuat.

Kritik dan Optimisme dalam Satu Tarikan Napas

Pernyataan Prabowo memunculkan dua pandangan yang berlawanan. Kelompok pertama menilai pemerintah terlalu meremehkan dinamika pasar global. Mereka menekankan bahwa nilai tukar rupiah tetap dipengaruhi sentimen investor, suku bunga global, dan arus modal internasional.

Kelompok kedua justru melihat pernyataan itu sebagai penegasan penting: Indonesia tidak boleh terlalu panik terhadap fluktuasi jangka pendek karena ekonomi riil tetap berjalan.

Di tengah perdebatan itu, posisi ekonomi desa menjadi titik tengah. Desa memang tidak bisa menggantikan peran pasar global, tetapi desa memberi stabilitas ketika tekanan eksternal meningkat.

Dampak Positif yang Muncul dari Ekonomi Berbasis Desa

Penguatan ekonomi desa membawa sejumlah dampak positif bagi Indonesia:

Stabilitas konsumsi nasional

Aktivitas ekonomi di desa menjaga aliran konsumsi tetap berjalan, bahkan saat ekonomi global melambat.

Ketahanan terhadap krisis

Sektor pangan dan pertanian tetap beroperasi meski terjadi gejolak finansial internasional.

Pemerataan ekonomi

Desa menjadi pusat perputaran uang lokal yang membantu mengurangi kesenjangan wilayah.

Baca Juga :  RI Siapkan BBM B50 Mulai Juli 2026, Harga Ikuti Formula Bulanan

Penguatan ketahanan pangan

Produksi lokal mengurangi ketergantungan pada impor bahan pangan tertentu.

Penciptaan lapangan kerja informal

Ekonomi desa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar melalui sektor pertanian dan perdagangan kecil.

Kesimpulan: Menyatukan Dua Dunia Ekonomi

Indonesia tidak perlu memilih antara ekonomi global dan ekonomi desa. Keduanya berjalan bersamaan dan saling melengkapi. Pasar keuangan memberi akses pada modal dan investasi, sementara desa menjaga stabilitas kebutuhan dasar masyarakat.

Pernyataan Presiden Prabowo membuka ruang diskusi penting tentang arah ekonomi nasional: apakah Indonesia akan terus mengejar integrasi global, atau memperkuat fondasi domestik sebagai penopang utama.

Jawaban paling realistis kemungkinan berada di tengah—menggabungkan kekuatan desa dengan dinamika pasar global.

FAQ

1. Apakah benar ekonomi Indonesia tidak bergantung pada dolar?

Tidak sepenuhnya. Indonesia tetap terhubung dengan pasar global, tetapi konsumsi domestik memegang peran besar dalam stabilitas ekonomi.

2. Mengapa desa dianggap penting dalam ekonomi nasional?

Karena desa berperan sebagai pusat produksi pangan dan konsumsi lokal yang menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.

3. Apakah rupiah tidak berpengaruh pada masyarakat desa?

Pengaruhnya ada, terutama pada harga barang impor, tetapi dampaknya tidak sekuat di sektor perkotaan dan keuangan.

4. Apa risiko terlalu mengandalkan ekonomi domestik?

Risikonya muncul jika Indonesia mengabaikan pasar global, karena investasi dan ekspor tetap penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

5. Apa pesan utama dari pernyataan tersebut?

Pesannya menekankan kekuatan ekonomi riil Indonesia yang bertumpu pada masyarakat luas, bukan hanya pada pasar finansial.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya
DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:00 WIB

CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:00 WIB

DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Berita Terbaru