Shopee Dominasi E-Commerce Asia Tenggara, Transaksi Tembus Rp1.441 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Shopee kembali menegaskan dominasinya di pasar e-commerce Asia Tenggara sepanjang 2025. Platform ini membukukan gross merchandise value (GMV) atau nilai transaksi kotor sebesar US$83,2 miliar atau sekitar Rp1.441 triliun dengan asumsi kurs Rp17.320 per dolar AS. Lonjakan ini menempatkan Shopee di posisi teratas dibandingkan para pesaingnya di kawasan.

Data Momentum Works menunjukkan Shopee mencatat pertumbuhan signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2024, GMV Shopee berada di angka US$66,8 miliar atau sekitar Rp1.157 triliun. Dalam setahun, perusahaan ini menambah nilai transaksi sebesar US$16,4 miliar atau sekitar Rp284 triliun.

Dalam lima tahun terakhir, Shopee terus memperluas skala bisnisnya. GMV pada 2020 baru mencapai US$24,3 miliar, lalu naik menjadi US$42,5 miliar pada 2021. Tren kenaikan berlanjut pada 2022 dengan US$47,9 miliar, kemudian US$55,1 miliar pada 2023, hingga akhirnya menembus US$66,8 miliar pada 2024 sebelum mencapai puncaknya di 2025.

Dominasi Shopee di Asia Tenggara

Shopee juga menguasai pangsa pasar terbesar di kawasan dengan porsi mencapai 53% pada 2025. Angka tersebut memperkuat posisi Shopee sebagai pemimpin pasar e-commerce Asia Tenggara, mengungguli berbagai platform lain yang terus bersaing ketat di industri digital.

Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan Shopee dalam menjaga volume transaksi di tengah persaingan yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya pemain baru berbasis social commerce dan integrasi platform digital.

Baca Juga :  Pemerintah Targetkan Potongan Ojol Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Mulai Juni 2026

TikTok Shop dan Tokopedia Tumbuh Pesat

Di posisi kedua, gabungan TikTok Shop dan Tokopedia mencatat GMV sebesar US$45,6 miliar atau sekitar Rp789,8 triliun pada 2025. Nilai ini melonjak tajam dibandingkan 2024 yang hanya mencapai US$22,6 miliar atau sekitar Rp391,4 triliun.

Kenaikan tersebut menandai pertumbuhan sebesar US$23 miliar atau sekitar Rp398,4 triliun dalam satu tahun. Perpaduan kekuatan social commerce TikTok Shop dengan ekosistem marketplace Tokopedia mendorong percepatan transaksi digital di Indonesia dan kawasan.

Lazada Stagnan, Bukalapak Mengalami Penurunan

Lazada mencatat GMV sebesar US$18 miliar atau sekitar Rp311,8 triliun pada 2025. Angka ini tidak mengalami perubahan dibandingkan 2024. Kondisi tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan di tengah persaingan yang semakin agresif.

Sementara itu, Bukalapak justru mengalami penurunan signifikan. GMV perusahaan ini turun dari US$12,8 miliar atau sekitar Rp221,7 triliun pada 2024 menjadi US$9 miliar atau sekitar Rp155,9 triliun pada 2025. Tekanan kompetisi dan perubahan perilaku konsumen memengaruhi kinerja platform tersebut.

Pasar E-Commerce Regional Terus Tumbuh

Secara keseluruhan, pasar e-commerce Asia Tenggara tetap menunjukkan tren pertumbuhan positif. Total GMV kawasan mencapai US$157,6 miliar atau sekitar Rp2.729,6 triliun pada 2025, naik dari US$128,4 miliar pada 2024.

Baca Juga :  Indonesia Jadi Sorotan Apple: Pasar Tumbuh Kuat dan Bawa Angin Segar dari Negara Berkembang

Dalam lima tahun terakhir, nilai pasar e-commerce di kawasan hampir tiga kali lipat. Pada 2020, GMV regional hanya sebesar US$54,2 miliar, kemudian naik menjadi US$86,6 miliar pada 2021, US$99,5 miliar pada 2022, dan US$114,6 miliar pada 2023.

Indonesia Masih Jadi Pasar Terbesar

Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan GMV mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun pada 2025. Namun, pertumbuhan Indonesia cenderung melambat karena hanya naik tipis dari US$56,5 miliar pada 2024.

Sementara itu, Thailand mencatat pertumbuhan paling agresif. GMV negara tersebut melonjak dari US$23,4 miliar menjadi US$35,5 miliar. Vietnam, Filipina, dan Malaysia juga mencatat kenaikan stabil, menunjukkan pemerataan pertumbuhan ekonomi digital di kawasan.

Singapura ikut mencatat peningkatan dari US$4,9 miliar menjadi US$5,9 miliar pada 2025, meskipun masih menjadi pasar terkecil di Asia Tenggara.

Kesimpulan

Pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara pada 2025 menunjukkan ekspansi yang kuat, meski persaingan semakin ketat. Shopee tetap memimpin pasar, sementara TikTok Shop dan Tokopedia mengejar dengan pertumbuhan agresif. Di sisi lain, Lazada stagnan dan Bukalapak kehilangan pangsa pasar. Pasar digital kawasan ini terus berkembang seiring meningkatnya adopsi belanja online di berbagai negara.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Pemerintah Targetkan Potongan Ojol Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Mulai Juni 2026
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 21:00 WIB

Pemerintah Targetkan Potongan Ojol Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Mulai Juni 2026

Sabtu, 9 Mei 2026 - 19:00 WIB

Shopee Dominasi E-Commerce Asia Tenggara, Transaksi Tembus Rp1.441 Triliun

Berita Terbaru