JAKARTA – Supra X 125 milik keluarga saya tiba di rumah pada sore hari. Warnanya biru-putih dan masih memakai tromol standar, versi paling sederhana. Meskipun begitu, motor ini memberi kepuasan berkendara lebih tinggi dibanding Honda Beat milik kakak saya beberapa tahun kemudian.
Bapak saya memang penggemar setia Honda. Ketika Honda Karisma pensiun, ia membeli Supra X 125 generasi baru. Kebetulan, bapak mendapat motor itu sebagai bonus dari transaksi penjualan tanah temannya. Dua hari setelah transaksi selesai, motor sudah berada di garasi keluarga dan siap digunakan.
Honda Beat muncul tiga tahun kemudian, pada 2008, untuk menggantikan Yamaha Mio milik kakak saya. Namun demikian, meski tampil modern, motor matik itu kalah tangguh dibanding Supra X 125 lawas.
Kenyamanan yang Tak Lekang Waktu
Sebelum memakai Supra X 125, saya mengendarai beberapa Honda lawas, termasuk C-70, Astrea Grand, dan Supra. Semua motor ini punya kesamaan: kenyamanan. Terlebih lagi, Supra X 125 tetap unggul untuk perjalanan santai di dalam kota. Kecepatan idealnya sekitar 30–50 km/jam. Apalagi ketika hujan tengah malam atau menjelang subuh di Jogja, motor tetap nyaman, stabil, dan menyenangkan.
Sebaliknya, Honda Beat generasi awal terasa sempit dan kurang nyaman bagi pengendara berpostur lebih besar. Jok kecil membuat perjalanan jauh tidak menyenangkan. Bahkan, saya merasakan sendiri ketika perjalanan Jogja-Solo-Jogja: jok panas, pegal, dan ban bocor dua kali di tengah perjalanan. Oleh karena itu, pengalaman ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa desainer Honda tidak membuat Beat lebih ergonomis sejak awal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Supra X 125 lawas menunjukkan bahwa motor klasik Honda punya daya tahan dan kenyamanan yang sulit ditandingi generasi modern. Sementara itu, Beat menawarkan kemudahan dan desain modern, tetapi tetap kalah dalam ketahanan dan kenyamanan. Dengan demikian, penggemar motor sejati akan tetap menganggap Supra X 125 sebagai simbol ketangguhan dan kepuasan berkendara yang abadi.
Oleh: Yamadipati Seni
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









