JAKARTA – Ekonomi Qatar menghadapi tekanan besar setelah serangan terhadap fasilitas gas alam cair (LNG) yang dikaitkan dengan Iran. Gangguan ini menekan sektor energi dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas perbankan serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Laporan yang dikutip dari Reuters menyebut serangan tersebut memangkas sekitar 17% kapasitas produksi LNG Qatar. Dampak gangguan ini berpotensi berlangsung hingga lima tahun dan dapat mengurangi pendapatan negara hingga sekitar US$20 miliar per tahun.
Qatar sangat bergantung pada ekspor LNG yang melewati jalur strategis Selat Hormuz. Gangguan di wilayah ini langsung memengaruhi distribusi energi global sekaligus meningkatkan risiko logistik serta biaya pengiriman.
Tekanan juga merambat ke sektor perbankan. Bank-bank di Qatar menghadapi risiko karena ketergantungan pada pendanaan eksternal. Total utang luar negeri bersih perbankan mencapai sekitar US$120 miliar pada akhir 2025, setara sepertiga dari total pinjaman domestik. Kondisi ini meningkatkan kerentanan jika investor asing menarik dana atau menahan pembiayaan.
Di sisi lain, pemerintah Qatar masih memiliki ruang fiskal untuk meredam dampak krisis. Cadangan devisa mencapai sekitar US$55 miliar, ditambah cadangan emas bank sentral sekitar US$18 miliar. Selain itu, Qatar Investment Authority (QIA) mengelola aset hingga sekitar US$580 miliar yang tersebar di berbagai investasi global dan properti premium.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









