JAKARTA – Peneliti dari berbagai negara mengembangkan bahan pengganti semen yang lebih ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan limbah dan serat alami untuk menekan polusi dari industri konstruksi.
Semen berperan penting dalam pembangunan. Material ini menjadi pengikat utama pasir, kerikil, dan batu bata. Namun, proses produksinya menghasilkan emisi tinggi. Polutan itu meliputi karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), serta debu halus.
Tim peneliti dari Pakistan, Malaysia, Arab Saudi, China, dan Nigeria menguji campuran abu bahan bakar, minyak sawit, dan serat rami. Mereka mengolah bahan tersebut lalu mengujinya dalam berbagai kondisi.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan emisi karbon dioksida hingga 20 persen. Material ini juga meningkatkan kekuatan tekan hingga 26 persen dibandingkan semen konvensional.
Peneliti menggunakan komposisi 10 persen abu bahan bakar minyak sawit dan 0,1 persen serat rami. Campuran ini menghasilkan material yang kuat dan lebih ramah lingkungan.
Data dari Natural Resources Defense Council menyebutkan industri semen menyumbang sekitar 8 persen polusi udara global. Produksi semen membutuhkan suhu tinggi dari pembakaran batu bara dan reaksi kimia.
Peneliti menilai kebutuhan material konstruksi berkelanjutan terus meningkat. Mereka mendorong inovasi untuk mendukung pembangunan rendah karbon.
Meski hasil awal terlihat menjanjikan, peneliti masih menguji material ini lebih lanjut. Mereka ingin memastikan keamanan dan ketahanan material untuk penggunaan jangka panjang.
Temuan ini membuka peluang baru bagi industri konstruksi. Industri dapat memakai material ramah lingkungan tanpa mengurangi kekuatan bangunan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









