JAKARTA – Lahan tembakau rakyat di Garut meningkat pada 2025, mencapai 3.782 hektare, naik dari 3.244 hektare tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa tembakau tetap menjadi komoditas penting bagi perekonomian petani.
Petani Perluas Budidaya
Menurut Kepala BPS Garut, Sidik Edi Sutopo, kenaikan luas lahan menunjukkan minat petani mempertahankan dan memperluas budidaya, terutama di wilayah dengan agroklimat ideal.
“Data kami menunjukkan kenaikan luas areal tembakau di Garut pada 2025. Ini menegaskan bahwa tembakau masih menjadi pilihan utama usaha tani masyarakat,” ujar Sidik, Senin (9/3/2026).
Persebaran Lahan per Kecamatan
Tembakau banyak dibudidayakan di dataran tinggi dengan tanah subur dan suhu sejuk. Kecamatan Selaawi memiliki lahan terbesar, 323,90 hektare, meningkat sedikit dari tahun sebelumnya. Kecamatan lain:
Banyuresmi: 305,90 ha
Sukawening: 284,75 ha
Cibatu: 277,35 ha
Samarang: 161,60 ha
Pasirwangi: 149,30 ha
Wanaraja: 145,85 ha
Sukaresmi: 163,35 ha
Cisurupan: 129,45 ha
Beberapa kecamatan memiliki lahan menengah, seperti Leuwigoong 79,50 ha dan Cilawu 71,75 ha, sementara lahan kecil di antaranya Pangatikan 13,18 ha dan Mekarmukti 1,55 ha.
Faktor Perbedaan Luas Lahan
Sidik menjelaskan, perbedaan luas lahan dipengaruhi kondisi tanah, ketinggian wilayah, dan preferensi petani terhadap komoditas lain. Data luas lahan perkebunan menjadi indikator penting dinamika sektor pertanian.
Pertanian Jadi Penopang Ekonomi
Secara keseluruhan, pertanian tetap menjadi penopang ekonomi Garut. Selain tembakau, daerah ini juga menjadi sentra berbagai komoditas perkebunan dan hortikultura yang menopang kehidupan masyarakat pedesaan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









