JAKARTA – Iran memperketat pengawasan di Selat
Hormuz. Iran hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas. Kebijakan ini muncul di tengah konflik yang meningkat dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.
Iran menerapkan kontrol selektif atas lalu lintas kapal. Otoritas Teheran membuka jalur hanya bagi negara yang memiliki hubungan atau komunikasi baik dengan Iran.
Kebijakan ini mengganggu arus perdagangan global karena Selat Hormuz berperan sebagai jalur utama distribusi energi dunia. Laporan perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sejumlah kapal berhasil keluar dari kawasan Teluk melalui jalur di bawah pengawasan Iran pada 15–16 Maret 2026.
Laporan tersebut juga menyebut Iran menjalankan pola blokade selektif yang memungkinkan sekutu dan mitranya tetap melintas.
Negara yang Mendapat Izin Melintas
Beberapa negara telah memperoleh izin khusus dari Iran untuk melintasi Selat Hormuz:
1. Pakistan
Kapal tanker berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz melalui jalur yang Iran izinkan. Kapal jenis Aframax itu keluar dari Teluk setelah memenuhi ketentuan yang berlaku.
2. India
Iran memberi akses kepada kapal dari India. Dua kapal tanker LPG melintas setelah kedua negara menjalin komunikasi dan koordinasi pelayaran.
3. Turki
Kapal milik Turki memperoleh izin dari otoritas Iran. Iran memberikan persetujuan setelah kedua pihak berkomunikasi secara langsung.
Negara Masih Negosiasi
Sejumlah negara lain masih berupaya mendapatkan akses:
4. China, Prancis, dan Italia
China menjalin komunikasi dengan Iran untuk memastikan kelancaran pengiriman minyak dan gas.
Negara ini bergantung besar pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.
Prancis dan Italia juga mengajukan permintaan izin melintas. Iran belum mengumumkan keputusan final terkait permohonan tersebut.
Dampak Global
Iran sebelumnya menutup sebagian akses Selat Hormuz setelah serangan militer dari AS dan Israel. Iran tetap membuka jalur secara terbatas bagi negara yang tidak memiliki afiliasi langsung dengan Washington.
Kebijakan ini berdampak besar pada perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati Selat Hormuz. Para analis menilai langkah Iran sebagai strategi untuk memperkuat posisi dalam konflik sekaligus mengendalikan jalur energi internasional.
Kondisi ini juga menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Negara pengimpor energi harus menyesuaikan rute dan strategi distribusi mereka.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora