Tren IPO Lesu, Backdoor Listing Jadi Jalan Pintas Emiten Masuk Bursa

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 17 April 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Aktivitas initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mendorong banyak perusahaan memilih jalur alternatif berupa backdoor listing untuk bisa masuk ke bursa.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penurunan jumlah perusahaan yang melantai di bursa. Pada 2023, BEI mencatat 79 perusahaan melakukan IPO. Jumlah itu turun menjadi 41 perusahaan pada 2024, lalu kembali merosot menjadi 26 perusahaan pada 2025. Memasuki kuartal II-2026, baru satu perusahaan yang mencatatkan saham.

Seiring melemahnya IPO, aktivitas pergantian pemegang saham pengendali (PSP) justru meningkat. Salah satu contohnya terjadi pada PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO). Perusahaan tersebut berpindah kepemilikan dari Twinwood Family Holdings ke AGPA Pte. Ltd, anak usaha POSCO International, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,44 triliun.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menilai tren ini muncul karena kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif.

“Perusahaan kini mencari cara yang lebih cepat dan fleksibel untuk masuk ke bursa,” ujar David.

Baca Juga :  Pemutihan Pajak Kendaraan Lampung 2026 Diperluas, Tunggakan Dihapus dan Diskon 25%

Proses Sederhana

Ia menjelaskan, backdoor listing menawarkan proses yang lebih sederhana dibandingkan IPO. Skema ini tidak menuntut persyaratan keterbukaan seketat IPO dan memberi ruang restrukturisasi lebih luas bagi pemilik baru.

Namun, David mengingatkan biaya backdoor listing bisa lebih tinggi secara tidak langsung. Selain itu, skema ini biasanya hanya menarik bagi perusahaan dengan aset besar.

Menurut dia, perusahaan kerap membidik emiten di papan pemantauan khusus dengan harga saham di bawah Rp50. Emiten seperti ini dinilai lebih mudah diakuisisi dan digunakan sebagai “kendaraan” untuk masuk ke pasar modal.

Pengamat pasar modal Reydi Octa melihat fenomena serupa. Ia menilai kondisi pasar primer yang ketat membuat pelaku usaha beralih ke akuisisi perusahaan yang sudah tercatat di bursa.

“Pelaku usaha mengejar efisiensi waktu dan fleksibilitas. Backdoor listing jadi solusi cepat,” kata Reydi.

Meski begitu, ia mengingatkan investor agar lebih waspada. Menurutnya, banyak transaksi backdoor listing lebih mengandalkan sentimen dibandingkan kinerja fundamental.

Baca Juga :  Ratusan Pedagang Pasar Tanjung Bajure Sungai Penuh Protes Digusur

“Investor harus hati-hati karena yang diperdagangkan sering kali hanya narasi, bukan kinerja riil,” tegasnya.

Dari sisi penjamin emisi efek (underwriter), perusahaan sekuritas kini juga bersikap lebih selektif. Mereka hanya membawa perusahaan dengan fundamental kuat dan prospek bisnis jelas ke pasar.

Direktur Investment Banking Semesta Indovest Sekuritas Kerry Rusli mengatakan pihaknya kini memprioritaskan kualitas emiten.

“Kami ingin memastikan perusahaan yang masuk bursa benar-benar memberi nilai tambah bagi investor,” ujarnya.

Presiden Direktur OCBC Sekuritas Betty Goenawan menambahkan, banyak calon emiten saat ini masih menunda IPO. Mereka memilih menunggu kondisi pasar membaik.

“Daya serap investor, khususnya ritel, masih cenderung wait and see,” kata Betty.

Penutup

Ke depan, tren backdoor listing diperkirakan masih berlanjut selama pasar IPO belum pulih. Namun pelaku pasar menilai kualitas emiten dan perlindungan investor harus tetap menjadi prioritas utama agar tidak menimbulkan distorsi di pasar modal.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional
SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Berita Terbaru