JAKARTA – Persaingan saham perbankan besar memasuki babak baru pada pekan ini. Di tengah pergerakan pasar yang masih fluktuatif, investor asing mulai menunjukkan preferensi yang berbeda terhadap tiga bank berkapitalisasi jumbo, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI.
Sejumlah data perdagangan menunjukkan arus dana asing tidak lagi mengalir merata ke seluruh saham perbankan. Investor justru memusatkan perhatian pada emiten yang mampu menjaga stabilitas harga sekaligus menawarkan risiko yang lebih rendah.
Dalam kondisi tersebut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil paling menonjol. Sebaliknya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menghadapi tekanan setelah reli yang sempat mengangkat kinerja keduanya pada awal pekan.
BBCA Konsisten Menarik Dana Asing
BBCA mencatat kinerja paling solid sepanjang periode perdagangan 15–19 Juni 2026. Investor asing terus menambah kepemilikan saham meski pasar beberapa kali mengalami koreksi.
Pada 15 Juni 2026, BBCA melesat 5,91 persen dan ditutup di level 6.275. Nilai transaksi mencapai Rp3,01 triliun. Investor asing membukukan pembelian Rp1,84 triliun dan penjualan Rp1,64 triliun sehingga menghasilkan net foreign buy sebesar Rp203,68 miliar.
Selanjutnya, minat beli investor asing meningkat pada 17 Juni. Meskipun harga saham bertahan di level 6.275, investor asing tetap melakukan akumulasi dengan net foreign buy Rp375,29 miliar.
Kemudian, pasar mengalami tekanan pada 18 Juni sehingga harga BBCA turun 3,19 persen ke level 6.075. Namun demikian, investor asing tidak melakukan pelepasan besar-besaran. Mereka hanya mencatat net foreign sell Rp51,94 miliar.
Setelah itu, BBCA kembali menunjukkan kekuatannya pada 19 Juni. Harga saham naik 3,70 persen ke level 6.300. Pada hari yang sama, investor asing kembali mengoleksi saham dengan net foreign buy Rp317,19 miliar.
Secara keseluruhan, BBCA mengumpulkan akumulasi net foreign buy sekitar Rp844 miliar dalam empat hari perdagangan. Karena itu, saham ini menjadi emiten perbankan dengan dukungan dana asing terkuat sepanjang pekan.
BBRI Kehilangan Momentum Setelah Reli
Sementara itu, BBRI memulai pekan dengan kinerja yang cukup baik. Pada 15 Juni, saham ini naik 4,91 persen ke level 2.990.
Namun, investor asing saat itu sudah mulai mengurangi posisi dengan net foreign sell Rp35,31 miliar. Meski demikian, sentimen positif sempat kembali muncul pada 17 Juni ketika harga saham naik ke level 3.080.
Selain itu, investor asing juga mencatat net foreign buy Rp456,08 miliar. Sayangnya, kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Tekanan mulai muncul pada 18 Juni. Harga BBRI turun 3,90 persen menjadi 2.960. Pada hari yang sama, investor asing melepas saham dengan nilai bersih mencapai Rp557,26 miliar.
Selanjutnya, tekanan berlanjut pada perdagangan 19 Juni. Harga saham kembali turun 1,01 persen ke level 2.930. Investor asing juga mencatat net foreign sell Rp137,10 miliar.
Akibatnya, BBRI membukukan net foreign sell sekitar Rp274 miliar secara kumulatif selama empat hari perdagangan. Angka tersebut menunjukkan investor asing mulai mengambil keuntungan setelah reli sebelumnya.
BMRI Masih Positif, Tetapi Tren Mulai Melemah
Di sisi lain, BMRI masih mempertahankan akumulasi dana asing secara mingguan. Namun, kekuatan tersebut mulai berkurang menjelang akhir pekan.
Pada 15 Juni, BMRI melonjak 7,14 persen hingga mencapai level 4.500. Kenaikan itu sejalan dengan net foreign buy sebesar Rp543,09 miliar.
Akan tetapi, momentum tersebut tidak berlanjut. Pada 17 Juni, harga saham turun tipis ke level 4.490 dan investor asing mencatat net foreign sell Rp8,10 miliar.
Kemudian, saham kembali turun ke level 4.470 pada 18 Juni. Meski begitu, investor asing masih melakukan pembelian bersih Rp106,91 miliar.
Tekanan terbesar muncul pada 19 Juni. Harga BMRI merosot 3,58 persen ke level 4.310. Bersamaan dengan itu, investor asing melakukan net foreign sell sebesar Rp314,74 miliar.
Walaupun BMRI masih mencatat net foreign buy sekitar Rp327 miliar secara kumulatif, sebagian besar angka tersebut berasal dari transaksi awal pekan. Oleh karena itu, pelaku pasar kini menunggu konfirmasi apakah tekanan jual terbaru hanya bersifat sementara atau menjadi awal perubahan tren.
Mengapa Investor Asing Lebih Memilih BBCA?
Pergerakan dana asing selama sepekan memperlihatkan perubahan strategi investor institusi.
Ketika ketidakpastian pasar meningkat, investor biasanya mencari saham dengan fundamental kuat, kualitas laba yang stabil, dan likuiditas tinggi. BBCA memenuhi ketiga faktor tersebut sehingga mampu menarik lebih banyak dana asing.
Selain itu, BBCA juga berhasil menjaga pergerakan harga lebih baik dibandingkan pesaingnya. Faktor inilah yang membuat saham tersebut terlihat lebih defensif saat pasar bergerak tidak menentu.
Sebaliknya, investor memanfaatkan kenaikan harga BBRI dan BMRI untuk merealisasikan keuntungan. Akibatnya, tekanan jual meningkat dan mengurangi momentum penguatan kedua saham tersebut.
Prospek Big Banks dalam Jangka Pendek
Jika tren arus dana asing berlanjut, BBCA berpeluang mempertahankan momentum kenaikan dalam jangka pendek.
Sebaliknya, BBRI membutuhkan kembalinya akumulasi asing untuk menghentikan tekanan jual yang masih berlangsung. Sementara itu, BMRI memerlukan sinyal pembelian baru agar mampu mengembalikan kepercayaan pasar.
Karena itu, arah foreign flow kemungkinan akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan saham-saham perbankan besar dalam beberapa pekan mendatang.
FAQ
Mengapa BBCA unggul dibandingkan BBRI dan BMRI?
BBCA mencatat akumulasi net foreign buy terbesar, mempertahankan harga di level tinggi, dan menunjukkan ketahanan lebih baik saat pasar terkoreksi.
Berapa total net foreign buy BBCA selama sepekan?
BBCA mengumpulkan sekitar Rp844 miliar net foreign buy dalam empat hari perdagangan.
Mengapa investor asing menjual BBRI?
Investor asing cenderung mengambil keuntungan setelah BBRI mengalami reli pada awal pekan.
Apakah BMRI masih menarik untuk dicermati?
Ya. BMRI masih mencatat net foreign buy mingguan sekitar Rp327 miliar, meskipun tekanan jual meningkat pada akhir pekan.
Faktor apa yang paling memengaruhi pergerakan saham bank saat ini?
Arus dana asing, sentimen pasar global, kondisi likuiditas, dan ekspektasi terhadap kinerja keuangan perbankan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan saham bank.(Tim)









