JAKARTA – Kebiasaan masyarakat menggunakan pinjaman online (pinjol) terus meningkat seiring kemudahan akses layanan keuangan digital. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa tantangan baru karena jumlah utang masyarakat semakin besar dan risiko gagal bayar mulai meningkat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat wanprestasi pinjol di atas 90 hari atau TWP90 mencapai 4,62 persen pada April 2026. Angka itu mendekati batas perhatian regulator yang berada di level 5 persen.
Selain itu, total nilai pinjaman masyarakat melalui layanan pinjol sudah menyentuh Rp102,07 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan dana cepat, tetapi juga memperlihatkan tekanan ekonomi yang mulai dirasakan sebagian rumah tangga.
Risiko Kredit Macet Pinjol Mulai Menguat
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai angka TWP90 saat ini masih berada dalam pengawasan. Meski begitu, masyarakat dan regulator perlu membaca kondisi tersebut sebagai tanda peringatan.
Menurutnya, kenaikan kecil saja dapat mengubah situasi jika kualitas pembayaran terus menurun.
“Regulator perlu membaca angka itu sebagai alarm dini. Jika kualitas pembiayaan memburuk sedikit saja, industri pinjol dapat masuk zona merah,” kata Syafruddin.
Ia menjelaskan beberapa faktor dapat memperbesar tekanan pembayaran. Misalnya, daya beli yang melemah, kebutuhan hidup yang meningkat, serta kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Karena itu, angka rata-rata kredit macet tidak selalu menggambarkan kondisi seluruh pengguna. Kelompok pekerja informal, masyarakat berpenghasilan rendah, dan pelaku usaha kecil menghadapi risiko lebih besar.
Utang Digital Bisa Menekan Konsumsi Rumah Tangga
Lebih lanjut, Syafruddin mengatakan masalah pinjol tidak hanya berdampak pada perusahaan penyedia layanan. Ketika banyak pengguna gagal membayar, masyarakat juga dapat mengalami tekanan finansial.
Penyelenggara pinjol biasanya akan memperketat pemberian pinjaman baru dan memperkuat penagihan. Akibatnya, sebagian peminjam berpotensi mencari dana lain untuk menutup cicilan sebelumnya.
Situasi tersebut dapat menciptakan pola utang berulang. Pada akhirnya, pendapatan rumah tangga bisa habis untuk membayar cicilan, bunga, dan biaya tambahan.
“Pola ini menciptakan lingkaran utang yang merusak daya beli. Pada tingkat makro, konsumsi rumah tangga dapat melemah karena pendapatan habis untuk cicilan, denda, dan bunga,” ujarnya.
Pinjol Tumbuh karena Proses Pengajuan Mudah
Di sisi lain, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo melihat pertumbuhan pinjol sebagai tanda perubahan cara masyarakat memperoleh pembiayaan.
Menurutnya, layanan digital menawarkan proses yang cepat dibandingkan kredit konvensional. Masyarakat dapat mengakses dana tanpa melewati banyak tahapan administrasi.
“Meski biaya pinjol relatif lebih tinggi dibandingkan metode kredit lainnya, kemudahan akses dan effort untuk memperolehnya ternyata sudah mendapatkan tempat di masyarakat,” ujar Budi.
Namun, kemudahan tersebut perlu diiringi kemampuan mengatur keuangan. Sebab, bunga yang lebih tinggi dapat menjadi beban jika pengguna tidak menghitung kemampuan pembayaran.
Gunakan Pinjol untuk Kebutuhan Produktif
Budi menyarankan masyarakat menggunakan pinjol untuk kebutuhan yang memberikan manfaat jangka panjang. Contohnya, tambahan modal usaha atau kebutuhan mendesak yang sudah memiliki rencana pembayaran jelas.
Sebaliknya, masyarakat perlu menghindari penggunaan pinjaman untuk memenuhi gaya hidup konsumtif. Kebiasaan mengambil pinjaman baru sebelum melunasi utang lama dapat memperbesar masalah keuangan.
Ia menyarankan cicilan pinjaman konsumtif tidak lebih dari 15 persen pendapatan bulanan. Sementara pinjaman produktif sebaiknya memiliki batas cicilan maksimal 35 persen dari pemasukan rutin.
“Disiplin membayar dan menghindari mengambil pinjaman baru sebelum pinjaman lama lunas menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam pola gali lubang tutup lubang,” katanya.
Edukasi Keuangan Jadi Kunci
Melihat perkembangan pinjol yang terus meningkat, pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan utang menjadi semakin penting.
Regulator dan lembaga keuangan perlu memperkuat edukasi agar masyarakat memahami risiko sebelum mengambil pinjaman.
Dengan begitu, layanan pinjaman digital dapat membantu kebutuhan finansial tanpa menimbulkan tekanan ekonomi baru.
FAQ
1. Apa penyebab kredit macet pinjol meningkat?
Kredit macet dapat meningkat karena tekanan ekonomi, pendapatan yang tidak stabil, serta penggunaan pinjaman tanpa perhitungan kemampuan bayar.
2. Apakah TWP90 4,62 persen sudah berbahaya?
Angka tersebut belum melewati batas perhatian regulator, tetapi jaraknya yang dekat dengan 5 persen perlu mendapat perhatian.
3. Apakah pinjol bisa digunakan untuk modal usaha?
Bisa, selama pengguna memiliki perhitungan usaha yang jelas dan mampu membayar cicilan sesuai kemampuan.
4. Bagaimana cara menghindari jeratan utang pinjol?
Gunakan pinjaman sesuai kebutuhan, hindari meminjam untuk membayar utang lain, serta pastikan cicilan sesuai kemampuan pendapatan.
5. Apa risiko terbesar memakai pinjol secara berlebihan?
Risiko terbesar yaitu munculnya beban cicilan tinggi yang dapat mengganggu kebutuhan hidup sehari-hari.(Tim)









